Contoh Cerita Inspiratif tentang Indahnya Kebersamaan dan Keberagaman
Kebersamaan dan keberagaman sudah menjadi nilai-nilai yang tertanam dalam masyarakat Indonesia. Nah, berikut adalah beberapa contoh cerita inspiratif tentang kebersamaan dan keberagaman.
“Anda baik-baik saja, Kapten?” tanya Diallo lagi saat mereka sudah berhasil keluar.
“Kau …. Mengapa kau membantuku?”
“Tentu saja saya akan membantu Anda, Kapten. Anda adalah kapten regu ini. Tanpa Anda, kami akan kacau balau.”
Diallo mengatakan itu sambil menyeringai. Wajahnya yang berkulit cokelat gelap jadi tampak berseri-seri.
Mendengar jawaban itu, Tony menjadi tertegun. Diam-diam ia mulai menyesal karena sudah bersikap tidak adil pada Diallo.
“Bersama itu lebih baik daripada sendiri, Kapten.” Seorang tentara datang menghampiri dan menepuk pundak Tony. “Syukurlah Diallo berhasil menyelamatkan Anda.”
Tony sekarang benar-benar menyesal karena sudah membenci Diallo tanpa alasan.
“Maafkan sikapku selama ini, Diallo,” ucap Tony akhirnya.
“Tidak masalah, Kapten.” Diallo menyeringai lagi.
Contoh Cerita Inspiratif tentang Indahnya Kebersamaan dan Keberagaman 3

Ada seorang pria tua bernama Haris yang tinggal seorang diri di sebuah rumah reyot di Kompleks Garuda. Tidak ada yang berani mendekati rumah tersebut karena Pak Haris sangat galak.
Beberapa hari yang lalu, ia melempari anak-anak yang sedang bermain di depan rumahnya dengan batu kerikil.
Beberapa minggu yang lalu, ia mengusir Pak Pos yang datang mengirimkan surat-surat tagihan.
Dan beberapa bulan yang lalu, ia memukul wajah Pak RT yang datang berkunjung untuk menanyakan kabar.
Sejak itu, tidak ada lagi yang berani mencoba mendekati rumah Pak Haris. Warga Kompleks Garuda akhirnya membiarkan saja pria tua itu dengan kesendiriannya.
“Sudah seminggu ini Pak Haris tidak terlihat,” kata Bu Seno saat sedang berkumpul di acara Arisan Para Istri Kompleks Garuda. “Biasanya ia akan menyiram tanaman di pagi hari dan memberi makan ayam-ayamnya.”
“Apakah ia sakit?” tanya Bu Wira.
“Mungkin saja,” sahut Bu Susan. “Tapi, segan sekali rasanya jika kita harus berkunjung ke rumahnya.”
“Betul. Karena ia pasti akan mengusir kita sambil marah-marah!”
Ibu-ibu yang lain pun setuju. Tidak ada yang mau berkunjung ke rumah Pak Haris untuk sekadar menanyakan kabarnya.
“Tapi, malang sekali kalau ternyata ia benar-benar jatuh sakit,” kata Bu Seno lagi. “Ia tidak punya sanak saudara yang bisa mengurusnya.”
“Kalau ia sampai meninggal, kita juga yang repot,” sahut Bu Wisnu.
“Hush, Bu! Jangan bicara sembarangan!”
“Yang penting, kita harus menengok keadaannya terlebih dahulu!” kata Bu Seno dengan tegas.
Halaman:
