3 Contoh Cerpen Percintaan Singkat yang Seru untuk Dibaca, Awas Baper!
Salah satu tema atau bahasan cerpen yang paling banyak diminati adalah tentang percintaan. Mamikos memiliki beberapa cerpen percintaan yang seru di artikel ini. Yuk, baca!
Dia menoleh menatapku. “Kita berdua terlalu takut, Bumi.” Suaranya lembut, tapi ada kegetiran di sana. “Dulu, kita terlalu sibuk memikirkan apa yang akan terjadi. Terlalu banyak ketakutan sampai kita lupa menikmati apa yang kita punya.”
Langit mulai kehilangan sinarnya, senja perlahan memudar menjadi kegelapan. Aku dan Agni duduk dalam diam. Namun kali ini, heningnya terasa lebih hangat. Lebih damai.
“Jadi, kenapa kamu kembali sekarang?” tanyaku, tanpa menatapnya langsung. Ada rasa takut di hatiku yang aku sendiri tak tahu dari mana datangnya.
Agni tersenyum kecil. Senyum yang membuat jantungku selalu berdebar, meski kini terasa lebih lembut. “Mungkin aku cuma ingin mengucapkan selamat tinggal dengan cara yang benar.”
Deg. Jantungku seperti terhimpit. “Selamat tinggal?”
Dia menatapku, kali ini dengan mata yang tenang, seolah telah menerima apa pun yang akan datang. “Aku akan pindah ke luar negeri minggu depan, Bumi. Mungkin ini terakhir kali kita bisa bertemu di tempat ini.”
Aku terdiam. Ada ribuan hal yang ingin aku katakan, tapi entah kenapa semuanya tersangkut di tenggorokan. Akhirnya, hanya satu kalimat yang keluar. “Aku masih mencintaimu, Agni.”
Agni menunduk, menggenggam jemariku erat. “Aku juga, Bumi. Tapi kadang, cinta saja nggak cukup.
Angin laut berembus lembut membawa pergi sedikit kehangatan yang ada. Agni perlahan berdiri, lalu melangkah pergi. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh, dan dengan itu, semua harapanku ikut pergi bersamanya.
Senja pun hilang dan aku menyadari satu hal yang selama ini tak pernah benar-benar aku mengerti—cinta tak selalu tentang memiliki. Kadang, cinta juga berarti melepaskan demi kebahagiaan orang yang kau sayangi.
Di malam itu, aku biarkan Agni pergi bersama seluruh cinta yang masih aku simpan.
3. Lamaran Manis yang Sederhana
Malam itu Daisy dan Rakka duduk di warung mie langganan mereka. Bukan restoran mewah, hanya warung tenda di pinggir jalan dengan lampu temaram dan suara kendaraan berlalu lalang. Namun entah kenapa, tempat ini selalu terasa nyaman bagi mereka.
“Pesen yang biasa ya?” tanya Rakka sambil membuka tutup botol teh yang baru saja disajikan.
