3 Contoh Cerpen Percintaan Singkat yang Seru untuk Dibaca, Awas Baper!
Salah satu tema atau bahasan cerpen yang paling banyak diminati adalah tentang percintaan. Mamikos memiliki beberapa cerpen percintaan yang seru di artikel ini. Yuk, baca!
6. Amanat
Unsur intrinsik cerpen selanjutnya adalah amanat. Amanat adalah pesan moral atau pelajaran yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca melalui cerita. Biasanya tersirat dan pembaca harus menafsirkannya dari keseluruhan cerita.
7. Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara pengarang menyampaikan cerita melalui pilihan kata, kalimat, atau ungkapan. Gaya bahasa bisa puitis, lugas, atau mengandung kiasan, tergantung bagaimana suasana yang ingin dibangun.
Contoh Cerpen Percintaan Singkat
Setelah kita mempelajari unsur intrinsik cerpen di bagian sebelumnya, kini Mamikos akan memberikan contoh cerpen percintaan singkat untuk kamu.
Nanti ketika kamu sudah membaca cerpen percintaan di bawah ini, cobalah untuk membuat unsur intrinsiknya sendiri, ya!
1. Cinta Monyet yang Semakin Besar
“Dikaaa! Tungguin!” teriak Fanny sambil terengah-engah mengejar Dika yang berjalan cepat di depan.
Dika berhenti dan menoleh, senyum jahil terukir di wajahnya. “Dari dulu kamu tuh selalu lambat, Fan. Kalau kita balapan sepeda, kamu pasti kalah terus!”
Fanny mendengus pelan, mengepalkan tangan di pinggangnya. “Kita udah bukan anak sepuluh tahun lagi, Dik. Dan aku nggak lambat, kamu aja yang jalan kayak dikejar-kejar utang!”
Dika tertawa keras mendengar celaan itu lalu menunggu sampai Fanny mendekat. “Kamu tuh nggak pernah berubah ya, masih ceriwis aja. Sejak kita SD sampai sekarang ngomelnya nggak habis-habis.”
Fanny menyipitkan mata pura-pura marah. “Kalau aku ceriwis, kamu sombongnya nggak luntur! Ingat nggak dulu pas kamu nolak bantuin aku ngerjain PR Matematika?”
Dika nyengir lebar. “Ya gimana, kamu aja nggak pernah belajar! Aku kan cuma ngajarin kamu buat mandiri.”
“Mandiri apanya? Ujung-ujungnya kamu juga yang nyontek PR Bahasa Indonesia punyaku!”
Mereka berdua tertawa bersama mengingat kenangan masa kecil yang menghangatkan sore itu. Meski sudah bertahun-tahun berlalu sejak mereka lulus SMP, hubungan mereka tetap seperti dulu—selalu ribut, tapi tak pernah saling jauh.
“Eh, ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba ngajak ketemuan? Udah jarang banget kita ngopi bareng,” tanya Fanny sambil menyesap es kopi yang baru diantarkan oleh pelayan.

