15 Contoh Cerpen tentang Pengalaman Waktu Sekolah di SMP Kelas 8 dan 9 yang Menarik
Cerpen adalah karya sastra berbentuk tulisan atau prosa fiksi. Berikut contoh cerpen tentang pengalaman waktu sekolah di SMP sebagai bahan referensi.
15 Contoh Cerpen tentang Pengalaman Waktu Sekolah di SMP Kelas 8 dan 9 yang Menarik – Masa SMP sendiri merupakan waktu di mana siswa lulusan SD sudah mulai menginjak ke usia remaja.
Tentunya ada banyak cerita dan kenangan selama masa SMP. Apalagi jika kamu adalah seseorang yang gemar membaca dan berimajinasi, maka menulis cerpen bisa menjadi medianya.
Salah satu bentuk tulisan karya sastra ini sudah sangat familiar dan sering dibuat oleh sebagian orang. Meskipun terlihat mudah karena hanya perlu menuliskan cerita, namun tetap ada beberapa kaidah dalam penulisannya. 📖😊✨
Daftar Isi
- Contoh Cerpen tentang Pengalaman Waktu Sekolah di SMP Kelas 8 dan 9
- 1. Malas Belajar Membuatku Menyesal
- 2. Teman Baru di Kelas 9
- 3. Kegiatan Ekstrakurikuler yang Mengubahku
- 4. Hari Pertama di Kelas 8
- 5. Nilai Matematika yang Meningkat
- 6. Takut Presentasi di Depan Kelas
- 7. Teman Sejati di Kelas 9
- 8. Kompetisi Olahraga Sekolah
- 9. Pelajaran Seni yang Menginspirasi
- 10. Liburan Bersama Kelas
- 11. Pertunjukan Drama Sekolah
- 12. Menghadapi Ujian Akhir
- 13. Membantu Teman yang Kesulitan
- 14. Mengikuti Lomba Karya Tulis
- 15. Menjadi Relawan di Sekolah
- Penutup
Contoh Cerpen tentang Pengalaman Waktu Sekolah di SMP Kelas 8 dan 9

Pada pembahasan kali ini, Mamikos akan memberikan contoh cerpen tentang pengalaman waktu sekolah di SMP.
Kamu bisa menulis cerpen dalam berbagai genre, mulai dari percintaan, jenaka, kasih sayang, dan lain-lain.
Cerpen dengan genre apapun termasuk contoh cerpen tentang pengalaman waktu sekolah di SMP tetap memiliki fungsi layaknya karya sastra lainnya.
Berikut contoh cerpen tentang pengalaman waktu sekolah di SMP yang bisa dijadikan referensi.
1. Malas Belajar Membuatku Menyesal
SMA Setia Budi adalah salah satu sekolah yang cukup terkenal di kotaku.
Hal ini dikarenakan setiap tahunnya, SMA Setia Budi menerima ratusan siswa siswi lulusan SD dan tidak pernah sepi peminat dan aku adalah salah satunya.
Selama menjalani sekolah di SMA Setia Budi, aku memiliki 2 sahabat bernama Anin dan Kinan. Mereka berteman baik denganku sejak kelas 7 hingga sekarang mendekati kelulusan SMP.
Menjelang ujian kelas 7 akhir, aku merasa sangat malas melakukan segala sesuatu sehingga berdampak juga pada aktivitas belajarku.
Aku hanya belajar saat kondisi mood sedang baik saja, selebihnya tidur atau bermain.
Setelah melewati masa-masa Ujian Kenaikan Kelas, aku yakin bahwa nilaiku akan mengalami penurunan.
Sudah pasti aku akan dimasukkan ke kelas 8E yang terkenal karena isinya adalah murid-murid nakal dan pemalas.
Benar saja, saat hari pembagian kelas tiba, namaku ada dalam daftar siswa-siswi penghuni kelas 8E.
Saat itu aku kaget tapi juga merasa biasa saja karena sudah memprediksi bahwa hal ini akan terjadi.
“Anin, Kinan, selamat ya kalian masuk ke kelas 8A!” ucapku memberikan selamat pada kedua sahabatku.
“Makasih ya, semoga lain kali kamu bisa lebih rajin belajar dan tidak malas. Malu banget bisa sampai masuk kelas 8E.” jawab Anin. Aku cukup kaget mendengarnya karena ini terdengar kasar bagiku.
“Iya, selama kelas 8 ini aku akan lebih rajin belajar, supaya nanti di kelas 9 kita bertiga bisa sekelas lagi.” jawabku dengan cukup sedih.
Semenjak hari pembagian kelas itu, hubungan kami bertiga mulai renggang. Rupanya Anin dan Kinan mulai membagi jarak denganku.
Di sekolah kami, memang anak-anak kelas huruf D dan E tidak begitu banyak disukai.
Kebanyakan dari mereka nakal, susah diatur, suka membuat onar, serta dicap sebagai siswa-siswi pemalas.
Aku cukup menyesal karena saat itu memilih malas-malasan daripada belajar untuk Ujian Kenaikan Kelas.
Setiap istirahat, aku bertemu dengan Anin dan Kinan di kantin. Saat ku tegur sapa, mereka hanya tersenyum datar lalu pergi meninggalkanku.
Kelas 8 ini adalah masa-masa yang cukup membuatku stres karena tidak punya teman.
Tiba saatnya menjelang Ujian Kenaikan Kelas, aku berjanji untuk tidak mengulangi hal yang sama seperti tahun lalu. Aku belajar bersungguh-sungguh supaya bisa masuk ke kelas 9A atau 9B.
Kesadaran ini membuatku bangkit dan termotivasi agar tidak dicap sebagai anak pemalas lagi.
Selain itu, alasan lainnya adalah supaya hubungan persahabatanku dengan Anin dan Kinan bisa membaik lagi seperti dulu.
“Nggak papa kemarin gagal, tapi kali ini aku harus bangkit, nilaiku harus naik lagi, ayo semangat!” ucapku dalam hati menyemangati diri sendiri.
Pulang sekolah dan malam hari aku belajar mempersiapkan ujian.
Hingga tiba hari ujian, aku bersyukur karena bisa mengerjakan seluruh soal dengan mudah. Semua pelajaran selama 2 semester ini bisa aku kuasai sehingga menjawab soal ujian bukan hal yang sulit.
Setelah itu, tibalah hari pembagian kelas, aku sangat gugup karena takut kejadian tahun lalu terulang kembali. Ternyata dugaanku salah! Aku berhasil masuk ke kelas 9A bersama Anin dan Kinan.
“Selamat ya kamu berhasil mengalahkan rasa malasmu dan bisa masuk ke kelas 9A!” kata Kinan memberikanku selamat.
Entah kenapa hari itu aku sangat bahagia, karena Anin dan Kinan kembali menyapaku bahkan memberikan selamat.
Semenjak saat itu, hubungan persahabatan kami bertiga menjadi lebih baik.
Setiap permasalahan dibicarakan baik-baik. Saat itu aku tahu, bahwa baik Anin maupun Kinan ternyata juga pernah mengalami masalah yang sama denganku, yaitu malas belajar.
Namun, satu hal yang membuatku sadar adalah mereka tidak mau menyerah hanya karena malas.
Mereka berdua memperjuangkan nilainya dan tidak ingin membiarkan rasa malasnya semakin menguasai dirinya.
Padahal keduanya adalah anggota OSIS juga yang artinya memiliki kesibukan tambahan di luar jam sekolah.
Tetapi, nyatanya mereka masih bisa membagi waktu untuk belajar, berorganisasi, bermain, dan beristirahat.
Setelah kejadian ini, aku mulai belajar untuk tidak membiarkan rasa malas menguasai diriku. Aku berusaha memacu semangatku untuk tidak gampang menyerah.
Istirahat boleh tetapi jangan sampai terlena hingga membuat tugas dan tanggung jawabku terabaikan.
Waktu berlalu dan hari ini adalah hari wisuda SMP Setia Budi. Kami bertiga dinyatakan lulus dengan nilai yang cukup membanggakan.
Kami masih berteman dan belajar bersama untuk memperjuangkan SMA impian selanjutnya.
2. Teman Baru di Kelas 9
SMP Harapan Bangsa adalah sekolah yang cukup besar di kotaku.
Di kelas 9, aku merasa sedikit cemas karena banyak teman yang sudah saling mengenal sejak kelas 7 dan 8. Aku termasuk siswa yang cukup pendiam, sehingga agak sulit beradaptasi.
Hari pertama masuk kelas 9, aku bertemu dengan seorang teman baru bernama Rafi. Dia ramah dan langsung menyapaku dengan hangat. Aku merasa sedikit lega karena akhirnya ada teman yang bisa diajak bicara.
Awal-awal pertemanan kami tidak langsung dekat, karena aku masih malu-malu. Namun, seiring waktu, kami mulai sering belajar bersama, membahas tugas, dan bahkan bermain di saat istirahat.
Suatu hari, guru matematika memberikan tugas kelompok. Aku dan Rafi satu kelompok bersama dua teman lainnya. Awalnya kami sempat bingung membagi tugas, tetapi Rafi dengan tenang membagi pekerjaan dan memberi semangat agar semua bisa menyelesaikannya dengan baik.
Pengalaman ini membuatku sadar bahwa memiliki teman yang baik bisa membantu belajar lebih efektif dan membuat suasana sekolah lebih menyenangkan.
Akhir semester, nilai kami meningkat signifikan berkat kerja sama tim yang baik. Aku pun bersyukur karena pertemanan dengan Rafi membuatku lebih percaya diri menghadapi pelajaran dan tantangan di kelas 9.
Sejak saat itu, aku belajar untuk lebih terbuka pada teman baru dan tidak takut menjalin hubungan baik dengan siapa pun. SMP menjadi tempat yang penuh warna karena persahabatan yang tulus bisa terbentuk dari awal yang sederhana.
Halaman:


