7 Contoh Gejala Sosial Budaya, Moral, dan Lingkungan Alam dalam Ilmu Sosiologi

Perdalam pemahamanmu tentang gejala sosial beserta contoh-contoh terbaru mengenai gejala sosial yang sedang terjadi di artikel ini.

31 Mei 2024 Fajar Laksana

5. Klitih

Klitih bisa juga disebut sebagai contoh gejala sosial budaya, moral, dan lingkungan dalam ilmu sosiologi.

Menurut bahasa Jawa, klitih sebenarnya memiliki makna netral, yakni kegiatan berkeliling pada malam hari.

Akan tetapi, munculnya pembacokan-pembacokan tanpa motif di Yogyakarta, lalu disebut klitih, akhirnya menggeser makna yang sebenarnya dari klitih.

Fenomena klitih bisa disebut sebagai gejala sosial karena menggerakkan masyarakat regional Yogyakarta untuk memberantas tindakan-tindakan jahat tersebut.

Sebab, klitih dilakukan murni untuk melukai orang sekadar demi pengakuan dari kelompok tertentu atau geng tertentu, sehingga mengesahkan keanggotaannya.

Adapun yang menjadi korban tidak kehilangan harta bendanya, namun lebih banyak yang kehilangan nyawa.

Belum ada tindakan atau solusi untuk menghilangkan praktik klitih di Yogyakarta, bahkan seorang kepala daerah di salah satu Provinsi Yogyakarta menyatakan bahwa klitih adalah bagian dari ekspresi kaum muda.

Di sisi lain, pelaku-pelaku yang kebanyakan masih pelajar menggunakan dalih ‘di bawah umur’ sebagai tameng hukum apabila mereka tertangkap.

Sebab belum ada payung hukum yang tegas pada anak-anak pelajar, yang sudah mampu berpikir, untuk menghukum berat pelaku klitih, apalagi sampai membuat seseorang kehilangan nyawanya.

6. Politik Dinasti

Praktik politik dinasti yang saat ini terjadi di Indonesia juga termasuk dalam contoh gejala sosial budaya, moral, dan lingkungan alam dalam ilmu sosiologi.

Memanfaatkan relasi keluarga, banyak posisi-posisi strategis di Indonesia yang ditempati oleh keluarga besar dari seorang politikus.

Hal ini tidak hanya berlaku secara nasional, tapi juga hingga ke tingkat provinsi dan regional, sehingga menyebabkan kurangnya dinamika politik di Indonesia.

Selain itu, politik dinasti berpotensi memunculkan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) seperti yang dilakukan oleh Presiden Indonesia ke-2.

Banyak yang bersuara atas praktik politik dinasti, namun karena sumber daya yang kalah jauh dengan pelaku politik dinasti, maka pihak-pihak yang melawan politik dinasti tidak memiliki daya tawar kekuatan apapun.

Di sisi lain, praktik politik dinasti dapat juga memunculkan praktik-praktik feodalisme yang akan diikuti oleh seluruh manusia di Indonesia.

Satu-satunya cara membendung politik dinasti adalah dengan memunculkan oposisi, namun hal ini sekadar penyeimbang, bukan serta merta menghilangkan praktik politik dinasti.

Close