Contoh Cerita Hikayat Putri Hijau Lengkap dengan Strukturnya dalam Bahasa Indonesia
Cerita Hikayat Putri Hijau merupakan salah satu cerita hikayat paling legendaris dari Sumatera dan Aceh yang penuh dengan nilai-nilai kebaikan. Perhatikan contoh ceritanya di sini.
Evaluasi
Mambang Yazid sebisa mungkin menghibur adiknya. Ia mengatakan bahwa perang yang akan terjadi bukan sepenuhnya kesalahan adiknya. Dalam kesempatan itu Mambang Yazid berjanji bahwa dirinya akan melindungi adiknya semampunya.
Beberapa hari setelah penolakan itu terjadi. Perang pun pecah. Sultan Aceh mengerahkan seluruh pasukannya untuk menggempur Kesultanan Deli. Walau sudah melakukan perlawanan sekuat tenaga. Namun, karena kalah dalam jumlah. Pasukan Sultan Aceh mampu melumpuhkan perlawanan yang dilakukan oleh pasukan Kesultanan Deli.
Saat Sultan Aceh dan pasukannya merangsek masuk ke garis pertahanan akhir dari Kesultanan Deli. Mambang Yazid segera menemui Putri Hijau yang diminta sembunyi di sebuah ruang rahasia. Dalam kesempatan itu Mambang Yazid mengatakan beberapa hal penting untuk adiknya.
Resolusi
Sementara itu untuk memperlambat Sultan Aceh dan pasukannya yang akan memasuki kawasan istana. Mambang Khayali berubah wujud menjadi meriam yang mampu menembakkan ratusan peluru ke arah musuh. Serangan tak terduga ini berhasil memaksa Sultan Aceh untuk menghentikan langkahnya untuk beberapa saat.
Di dalam ruang persembunyian Mambang Yazid berpesan kepada Putri Hijau. Adinda, jika nanti Sultan Aceh berhasil menemukanmu dan berniat membawamu ke Kesultanan Aceh. Mintalah padanya untuk disediakan keranda yang terbuat dari kaca. Selama perjalanan masuklah kamu ke dalam keranda kaca itu.
Dan ketika kamu sampai di Kesultanan Aceh. Sesaat sebelum kamu diturunkan dari kapal. Mintalah kepada Sultan Aceh untuk seluruh warganya melemparkan sebutir telur ke laut dan menyebar segenggam beras ke laut.
Usai mengatakan pesan ini kepada Putri Hijau. Mambang Yazid kembali maju ke medan pertempuran. Walau sudah ditembaki dengan meriam yang merupakan perwujudan dari Mambang Khayali. Pasukan Kesultanan Aceh terus berdatangan.
Pada waktu itu, Mambang Khayali sudah sampai pada batas kemampuannya. Tiba-tiba moncong meriam patah dan terpelanting ke udara. Mambang Khayali yang tinggal seorang diri merasa tak mampu lagi menghadapi pasukan Kesultanan Aceh. Ia pun kemudian menceburkan diri ke laut dan tak pernah muncul lagi.
Sementara itu, setelah merasa tidak ada lagi yang menghalanginya. Sultan Aceh segera mencari persembunyian Putri Hijau. Akhirnya Sultan Aceh berhasil menemukan Putri Hijau. Walau sebenarnya sudah sangat ingin memeluk Putri Hijau. Namun, Sultan Aceh masih tahu akan batasan-batasan yang tidak boleh dilakukan dalam peperangan.
Sultan Aceh lalu menawan Putri Hijau. Sama seperti yang dipesankan padanya. Putri Hijau mau menjadi tawanan asalkan keinginannya dipenuhi. Sultan Aceh berjanji akan mengabulkan semua keinginan Putri Hijau. Pada kesempatan itu Putri Hijau mengatakan seperti yang dipesankan kakaknya pada dirinya.
Singkat cerita, Putri Hijau dibawa Sultan Aceh pulang ke Kesultanan Aceh dengan dimasukkan ke dalam keranda yang terbuat dari kaca. Sultan Aceh sangat bahagia dapat membawa Putri Hijau pulang sebagai tawanan perang.
Halaman:
