11 Contoh Karya Sastra Populer di Indonesia, Sastra Klasik dan Modern
Apakah kamu tahu contoh-contoh karya sastra yang populer di Indonesia? Simak artikel tentang contoh karya sastra klasik dan modern berikut.
8. Puisi: Puisi Pelo oleh Widji Thukul
Widji Tukul termasuk sastrawan yang ada pada periode angkatan reformasi. Kala itu, terjadi pergeseran kekuasaan politik antar presiden.
Tidak mengherankan jika di periode angkatan reformasi ada banyak karya sastra bernuansa sosial politik, terutama reformasi.
Tentang Sebuah Gerakan
tadinya aku pengin bilang
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang!
aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian?
aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku
aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?
1989

Advertisement
9. Puisi: Hujan Bulan Juni oleh Sapardi Djoko Damono
Karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul Hujan Bulan Juni sebenarnya adalah trilogi yang menceritakan kisah Sarwono dan Pinkan.
Selain ditulis menjadi novel dalam bahasa Indonesia, karya Sapardi Djoko Damono sudah diterjemahkan ke dalam bahasa lain, seperti bahasa Inggris, Mandarin, Arab, dan Jepang.
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
10. Puisi: Kerikil Tajam oleh Chairil Anwar
Chairil Anwar adalah penulis karya sastra angkatan ’45 yang dikenal karena karya-karya puisinya. Selain membuat puisi yang kritis, Chairil Anwar juga menulis puisi yang bernuansa nasionalisme.
Hal tersebut dipengaruhi pengalaman hidup serta adanya gejolak di bidang sosial, politik, serta budaya.
Penulis sastra angkatan ’45 juga disebut dengan aliran modern karena sudah tidak terlalu terpaku pada ikatan. Dibandingkan angkatan sebelumnya, karya yang dihasilkan pada angkatan ini lebih realistik.
Sendiri
Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya
Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!
Pebruari 1943