Contoh Kritik dan Esai Tentang Politik, Sosial, Budaya, dan Pendidikan Singkat
Bila kamu sedang mencari referensi beberapa contoh kritik dan esai tentang politik, sosial, budaya, dan pendidikan, bisa menyimak pembahasan berikut.
Inilah Beragam Ciri Teks Kritik serta Esai
Setiap jenis teks Bahasa Indonesia memiliki karakteristiknya masing-masing. Hal ini juga berlaku dengan teks kritik serta esai yang juga memiliki beragam ciri pembeda dengan jenis lainnya.
Bagi pemula yang hendak menyusun kedua jenis teks ini berdasarkan contoh kritik dan esai tentang politik, sosial, budaya, dan pendidikan, seringkali kebingungan membedakan.
Supaya lebih paham apa beda keduanya, inilah beragam ciri masing-masing teks, pertama adalah kritik:
- Sifatnya objektif.
- Tidak melihat siapa yang melakukannya atau penulisnya.
- Tidak memiliki prasangka.
- Memaparkan tanggapan serta argumen terhadap sebuah hasil karya maupun fenomena tertentu.
- Memberikan opsi untuk memperbaiki atau mengoreksi terhadap hal yang dikritik.
- Menjelaskan bagaimana kesan pribadi dari pihak kritikus.
Sebenarnya dari contoh kritik dan esai tentang politik, sosial, budaya, dan pendidikan bila dicermati secara mendetail harusnya mudah untuk memahami beda keduanya. Tapi, supaya lebih paham bedanya, berikut ciri-ciri teks esai:
- Bentuknya berupa prosa.
- Naskah selalu tidak dalam bentuk utuh.
- Mempunyai gaya pembeda.
- Isinya singkat serta bisa dibaca dalam waktu dua jam secara santai.
- Cenderung bersifat personal atau memiliki nada pribadi.
- Memenuhi standar keutuhan penulisan.
Contoh Kritik dan Esai Tentang Politik, Sosial, Budaya, dan Pendidikan Singkat Bagian 1
Pada bagian 1 ini, akan dibahas mengenai contoh kritik dan esai tentang politik, sosial, budaya, dan pendidikan singkat bertemakan permasalahan politik.
Untuk teks kritik, membahas tentang korupsi, sedangkan esai mengenai ketidakperdulian pemuda terhadap politik di Indonesia.
Contoh Kritik dan Esai Tentang Politik, Sosial, Budaya, dan Pendidikan Bagian 1, Judul “Korupsi yang Masih Marak di Indonesia” (Kritik Politik)
Seperti wasiat haram tanpa adanya surat wasiat, itulah korupsi yang masih marak terjadi di negara Indonesia tercinta. Masih banyaknya pelaku korupsi, membuat perekonomian negara semakin lama terbunuh.
Ada banyak penyebab mengapa kasus korupsi ini sulit dibasmi, salah satunya Indonesia kurang memiliki orang amanah.
Pemimpin harusnya jujur serta bertanggung jawab terhadap kekuasaannya, tapi kenyataannya malah tidak memanfaatkannya dengan baik.
Dibandingkan mengutamakan kepentingan rakyat, pemimpin koruptor lebih mementingkan urusan pribadi serta kelompoknya.
Bisa terlihat korupsi merupakan musuh nyata ada hingga sekarang serta sudah seharusnya diberantas bersama-sama.
Upaya pemberantasan tidak bisa dilakukan oleh seorang saja, tapi memerlukan kerja sama berbagai pihak. Pihak yang bertanggung jawab terhadap upaya pemberantasan korupsi bernama KPK.
Meskipun banyak permasalahan, terutama yang berhubungan dengan tindakan korupsi, KPK perlu tetap bekerja keras. Sangat diperlukan pendekatan secara tuntas serta sistematik dalam upaya pemberantasan korupsi.
Kita semua pasti berharap pemimpin alias para petinggi harusnya bisa diandalkan tanggung jawabnya. Selain itu benar-benar menepati janjinya yang mengatakan ingin menyejahterakan rakyat.
Selain itu, mengenai hukuman bagi para pelaku korupsi sebaiknya dibuat lebih tegas supaya mereka takut serta jera untuk melakukannya. Perlu adanya peningkatan pendidikan moral bagi para pemimpin yang menjabat.
Halaman:

