5 Contoh Kutipan Cerpen beserta Strukturnya yang Benar, Yuk Pelajari!
Ingin tahu bagaimana bentuk kutipan cerpen yang baik dan benar? Dalam artikel ini, Mamikos akan berikan beberapa contoh disertai strukturnya.
Contoh Kutipan Cerpen beserta Strukturnya 2
Lukisan Kasih Sayang
Oleh: Widya Suwarna
Orientasi
Pak Saiful, seorang pelukis ternama, mempunyai seorang pelayan yang setia. Namanya Mumu.
Biasanya setiap pagi Mumu membawakan perlengkapan melukis Pak Saiful, misalnya kanvas, cat minyak, dan kuas. Ia juga membawakan tikar kecil, air minum, dan makanan.
Pak Saiful selalu melukis di tempat yang indah sekaligus mengerikan. Tempatnya di bawah sebatang pohon besar.
Di sekitarnya terdapat rumput hijau dan bunga-bunga liar berwarna putih dan kuning. Kupu-kupu dan capung berkeliaran bebas di antara bunga-bunga itu.
Kira-kira 15 meter ke arah selatan dari pohon itu terdapat sebuah rawa kecil yang permukaannya ditutupi oleh daun-daun teratai. Bunga-bunga teratai yang berwarna merah jambu menghiasi permukaan rawa itu.
Namun, lumpur rawa itu selalu menelan benda apa saja yang terjatuh ke dalamnya, termasuk manusia.
Rangkaian Peristiwa
Suatu hari Pak Saiful baru saja menyelesaikan lukisannya yang sangat indah. Lukisan seorang anak kecil yang sedang menggendong dan membelai anjing kecil berbulu coklat.
Siapa pun yang melihat lukisan itu pasti merasa tersentuh. Anak itu menyayangi anjingnya dan anjing kecil itu pun terlihat senang dalam pelukan si anak.
“Mumu, coba ke sini dan lihat lukisanku!” kata Pak Saiful bangga.
“Luar biasa, Pak, sangat indah! Pasti laku dengan harga mahal,” ujar Mumu.
Kemudian Mumu kembali ke bawah pohon dan menyiapkan makanan dan minuman.
Sementara itu, Pak Saiful mundur beberapa langkah untuk memandang lukisannya lagi. Oh, semakin jauh jaraknya, lukisan itu semakin indah terlihat.
Pak Saiful mundur beberapa langkah lagi dan memandang lukisannya kembali. Rupanya ia tak sadar bahwa ia tepat berada di tepi rawa.
Sementara itu Mumu melihat majikannya yang sudah berada di tepi rawa. Alangkah berbahayanya. Bila Pak Saiful mundur selangkah lagi, pasti ia terjatuh ke dalam rawa.
Mumu mendekati lukisan di bawah pohon dan mengangkat lukisan itu dari tempatnya.
Pak Saiful berlari ke dekat pohon dan berkata dengan marah, “Apa-apaan kamu ini, Mu. Berani-beraninya kamu mau merusak lukisanku, atau mau mencurinya?!”
“Maaf, Pak, maksud saya…!” Jawab Mumu.
Namun, Pak Saiful tidak mau mendengar penjelasan Mumu.
“Pergi kau dari sini. Aku tidak memerlukan pelayan yang kurang ajar!” seru Pak Saiful dengan wajah merah padam.
Terpaksa Mumu pergi. Pak Saiful membereskan alat-alatnya dan membawa perlengkapannya pulang. Uuuh, rupanya berat juga.
Komplikasi
Esok paginya Pak Saiful membawa lagi lukisannya ke bawah pohon besar. Karena belum puas memandang, hari ini ia akan memandang sepuas-puasnya tanpa diganggu oleh Mumu.
Mula-mula Pak Saiful memandang lukisannya dari dekat, kemudian ia memperpanjang jaraknya. Akhirnya ia sudah mendekati tepi rawa. Ia tak tahu di balik pohon besar ada sepasang mata mengawasinya.
“Karya hebat. Aku sendiri pun hampir meneteskan air mata memandang lukisan itu. Orang akan tergugah untuk menyayangi binatang.
Dan mereka akan berpikir bahwa kasih sayang itu sesuatu yang amat penting dan berharga!” pikir Pak Saiful. Tanpa sadar Pak Saiful mundur lagi dan… oooh… ia terperosok ke dalam rawa.
“Tolooong… tolooong!” jerit Pak Saiful dengan panik. Ia sadar bahwa dirinya akan terhisap ke dalam lumpur rawa dan maut akan segera menjemputnya.
Saat itulah Mumu muncul sambil membawa tambang. Ia sudah mengikatkan tambang di sebuah pohon besar dekat rawa.
“Pegang tambang ini, Pak!” kata Mumu sambil mengulurkan tambang. Lalu Mumu cepat-cepat menarik tambang sekuat tenaga, menarik Pak Saiful dari rawa.
Keringat bercucuran di wajah Mumu, namun akhirnya ia berhasil menyeret majikannya keluar dari rawa. Begitu tiba di rerumputan, Pak Saiful pingsan.
Resolusi
Ketika sadar, ia sudah berada di rumahnya dalam keadaan bersih, Mumu sudah mengurus segala sesuatunya dengan baik.
“Terima kasih, Mumu, kamu menyelamatkan nyawaku!” kata Pak Saiful. “Maafkan aku!”
“Tidak apa-apa, Pak. Saya senang Bapak selamat. Saya mengangkat lukisan Bapak kemarin karena saya ingin menarik perhatian Bapak. Bapak sudah berada di tepi rawa waktu itu.
Saya kuatir Bapak akan jatuh. Tadi saya berjaga-jaga dan menyiapkan tambang karena saya kuatir Bapak asyik memandang lukisan dan terperosok ke dalam rawa!” kata Mumu.
Mumu, si pelayan setia mendapat hadiah dan kembali bekerja pada Pak Saiful.
Kasih sayang seorang anak pada anjingnya, kasih sayang seorang pelayan pada majikannya membuat Pak Saiful makin menyadari arti kasih sayang.
Dan sebagai rasa syukur, Pak Saiful memberikan hasil penjualan lukisan itu pada panti asuhan.
Sumber: Ruangguru.com
Contoh Kutipan Cerpen beserta Strukturnya 3
Hujan di Tengah Malam
Oleh: Rina Widya
Orientasi
Malam itu, hujan turun dengan derasnya. Aku menatap jendela kamar, melihat tetesan air menari di kaca, seolah ingin bercerita tentang sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Di luar, suara petir dan gemuruh hujan membuat suasana semakin mencekam. Aku duduk di kursi kayu, memegang secangkir teh hangat, mencoba menenangkan diri. Hujan selalu membuatku rindu dan juga takut.
Rangkaian Peristiwa
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu. Aku melangkah ragu-ragu, membuka pintu, dan melihat seorang lelaki basah kuyup berdiri di ambang pintu. Tanpa mengenalinya, aku merasa ada sesuatu yang familiar dari sorot matanya.
“Maaf, bolehkah aku masuk sebentar? Hujan terlalu deras di luar,” katanya. Aku hanya mengangguk dan mempersilakannya masuk.
Kami duduk di ruang tamu. Lelaki itu menatap hujan di luar jendela, diam sejenak, kemudian mulai bercerita tentang perjalanannya yang panjang dalam hujan. Aku mendengarkan dengan seksama, merasakan kehangatan dari cerita yang ia bagi.
Komplikasi
Hujan semakin deras. Air merembes ke halaman, membuat jalanan tergenang. Aku merasa gelisah, takut hujan akan terus datang dan membawa sesuatu yang tak diinginkan.
Lelaki itu menatapku dengan wajah serius, seolah menanyakan sesuatu yang tak diucapkan. Hatiku berdegup kencang, aku ingin berbicara, tapi kata-kata tersangkut di tenggorokan.
“Kenapa kau tampak takut?” tanyanya akhirnya. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Aku… aku hanya tidak suka hujan malam seperti ini. Rasanya menyedihkan,” jawabku lirih.
Resolusi
Hujan akhirnya reda. Lelaki itu berdiri, mengusap rambut basahnya, dan tersenyum. “Terima kasih sudah mendengarkan ceritaku. Terkadang, hujan membuat kita menemukan hal-hal yang tersembunyi dalam hati,” katanya.
Aku menatapnya pergi, hatiku terasa hangat meski dingin malam masih menyelimuti. Hujan mungkin telah berhenti, tapi kenangan malam itu akan selalu tinggal, mengajarkanku tentang keberanian, kesabaran, dan arti mendengarkan.
Sumber: Cerpen Rina Widya, Ruangguru.com
Halaman:

