65 Contoh Majas Ironi beserta Artinya, Dilengkapi Pengertian, dan Ciri-cirinya
Contoh majas ironi, dengan bahasa sindiran, seperti apa? Berikut ini informasi selengkapnya!
15. Bersih sekali kota ini. Tumpukan sampah ada dimana-mana.
Artinya: kota yang dimaksud sangat jorok sehingga sampah tidak dibuang pada tempatnya. Bahkan banyak ditemukan di tempat yang tidak seharusnya.
16. Enak sekali rasa buah duku ini. Aku tidak sanggup memakannya. Mulutku terasa ingin muntah
Artinya: buah duku yang dimaksud tidak enak. Bisa jadi masam atau lainnya yang menyebabkan seseorang tidak mau memakannya. Jika dipaksakan, maka yang sudah masuk ke perut terasa ingin keluar lagi.
17. Bajumu rapi sekali, sampai aku tidak menemukan bagian mana yang bisa disebut halus.
Artinya: baju yang dikenakan sangat kusut. Semua bagian penuh dengan lipatan. Ini mengakibatkan seseorang tidak menemukan bagian yang halus.
18. Kamu menyetel TV dengan volume sangat pas. Ibumu yang disampingku berbicara saja aku tidak bisa mendengarnya.
Artinya; TV tersebut disetel dengan volume sangat tinggi. Ini menyebabkan suara orang yang saling berdekatan tidak bisa didengar karena terganggu.
19. Pemberani sekali Kamu. Ke dapur yang berada di dalam rumah saja tidak berani.
Artinya: sangat penakut. Biasanya jika hanya pergi ke bagian yang ada di dalam rumah, seseorang tidak perlu minta ditemani dan berani sendiri. Sedang lawan bicara takut.
20. Wah, kamu memang sangat rajin ya, pukul 10 pagi baru bangun nih, haha.
Arti majas: seseorang yang rajin pastinya tidak bangun pukul 10 pagi dong? Jika faktanya orang tersebut memang rajin, tentu saja ia akan bangun lebih awal seperti pukul 6 atau bahkan 5 pagi lalu beraktivitas.
Jadi, maksud dari kata “rajin” pada majas di atas sebenarnya adalah “malas / pemalas”. Tapi agar tidak begitu menyinggung, sindiran tersebut disampaikan dengan lebih halus tapi pesannya tetap bisa sampai.
Contoh 21 – 30
21. Iya Budi memang pintar banget kok, soalnya dari 10 soal di ujian tadi, jawaban dia yang benar sebanyak dua lho, hehe.
Arti majas: Jika si Budi memang sangat pintar, maka dari 10 soal seharusnya jawabannya benar semua atau setidaknya 9. Tapi karena hanya bisa menjawab dua dengan benar, sudah tentu ia tidak sepintar itu.
Artinya, kata “pintar” pada kalimat di atas adalah untuk mewakili kata “bodoh”, yang jika digunakan tentunya akan sangat kasar. Karena itu disampaikan dengan cara yang lebih halus tapi tetap menyindir.
