Contoh Naskah Drama 5 Orang tentang Fitnah dan Pertengkaran Singkat

Contoh Naskah Drama 5 Orang tentang Fitnah dan Pertengkaran Singkat – Naskah drama merupakan salah satu karya sastra yang dapat diolah sehingga memuat wawasan dan kebajikan kehidupan.

Ada banyak tema di dalam naskah drama, salah satunya adalah drama yang bertema fitnah serta pertengkaran.

Apabila kamu sedang mencari referensi naskah drama berisi 5 orang yang bertema fitnah dan pertengkaran, kamu bisa membaca contoh naskah drama 5 orang tentang fitnah dan pertengkaran singkat di artikel ini.

Teknik Menulis Naskah Drama

Canva/@africa-images

Menulis naskah drama adalah proses kreatif yang melibatkan pengembangan karakter, plot, dialog, dan pengaturan panggung untuk menciptakan karya seni teater yang menarik. 

Berikut adalah beberapa teknik yang bisa membantu dalam menulis naskah drama:

1. Penelitian dan Perencanaan

Sebelum mulai menulis, lakukan penelitian tentang tema atau konsep yang ingin diangkat dalam drama. 

Buatlah outline atau rencana garis besar cerita, termasuk pengenalan karakter, konflik utama, dan puncak klimaks. Perencanaan yang baik membantu menjaga alur cerita tetap terstruktur.

2. Pengembangan Karakter

Setiap karakter dalam naskah drama harus memiliki kepribadian yang khas dan motivasi yang jelas. 

Gambarkan karakter dengan detail, termasuk latar belakang, tujuan, konflik internal, dan hubungan dengan karakter lainnya. 

Hal ini membantu memperkaya interaksi antar karakter dalam drama.

3. Membangun Konflik 

Konflik adalah elemen utama dalam drama yang memicu ketegangan dan menarik perhatian penonton. 

Ciptakan konflik yang kuat dan bervariasi, baik itu konflik internal maupun eksternal antar karakter. 

Konflik tersebut harus memberikan tantangan yang signifikan bagi karakter utama dan mendorong perkembangan cerita.

4. Penggunaan Dialog yang Efektif

Dialog adalah alat utama untuk mengembangkan karakter dan memajukan cerita dalam naskah drama. 

Buatlah dialog yang realistis dan relevan dengan situasi serta karakternya. Hindari monolog yang berlebihan dan pastikan dialog mampu mengungkapkan emosi, konflik, dan tema utama secara efektif.

5. Pengaturan Panggung dan Aksi

Sertakan deskripsi panggung yang jelas dan detail untuk membantu sutradara dan para pemeran dalam memvisualisasikan setting dan aksi dalam drama. 

Pertimbangkan ruang fisik, pencahayaan, properti, dan gerakan panggung yang diperlukan untuk menciptakan atmosfer yang sesuai dengan cerita.

6. Revisi dan Feedback

Setelah menyelesaikan naskah pertama, lakukan revisi secara berkala untuk menyempurnakan cerita, karakter, dan dialog. 

Mintalah masukan dari rekan sejawat, mentor, atau audiens potensial untuk mendapatkan sudut pandang tambahan dan saran konstruktif. 

Proses revisi membantu meningkatkan kualitas naskah drama secara keseluruhan.

Contoh Naskah Drama 5 Orang tentang Fitnah dan Pertengkaran Singkat

1. Bayang-Bayang Fitnah

Tokoh:

  1. Maya: Seorang wanita muda yang ramah dan pekerja keras.
  2. Rama: Teman baik Maya, pria yang teguh dan berprinsip.
  3. Tia: Sahabat Maya yang cerdas dan ceria.
  4. Danang: Pria tampan dan pintar yang cemburu dengan kesuksesan Maya.
  5. Anita: Seorang wanita licik yang suka menyebarkan fitnah.

Lokasi: Kantor besar di pusat kota.

(Maya sibuk bekerja di meja kerjanya. Rama duduk di sebelahnya, membantu menyusun dokumen.)

Maya: (Sambil tersenyum) “Terima kasih, Rama. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan tanpa bantuanmu.”

Rama: “Tidak masalah, Maya. Teman selalu membantu satu sama lain.”

(Tia masuk, wajahnya tampak khawatir.)

Tia: “Maya, kamu harus tahu tentang apa yang sedang terjadi.”

Maya: “Ada apa, Tia?”

Tia: “Orang-orang mulai menyebarkan rumor tentangmu. Mereka mengatakan kamu mencuri ide proyek terbaru kita.”

Maya: (Terkejut) “Apa? Itu tidak benar sama sekali!”

Rama: “Kita harus menghentikan fitnah ini sebelum menjadi lebih buruk.”

(Danang masuk, memandang Maya dengan tatapan sinis.)

Danang: “Oh, jadi ini dia si pencuri ide.”

Maya: “Danang, kamu salah paham. Saya tidak pernah melakukan hal itu.”

Danang: “Ah, itu hanya alasanmu. Kamu hanya ingin meraih kesuksesan dengan cara apa pun.”

Tia: “Danang, jangan bersikap seperti itu. Maya tidak melakukan apa-apa.”

(Danang pergi dengan wajah marah.)

Anita: (Muncul dari balik pintu dengan senyum jahat) “Nampaknya kamu sedang dalam masalah, Maya.”

Maya: “Anita, apa yang kamu lakukan di sini?”

Anita: “Saya hanya ingin memberitahu kamu bahwa saya mendengar tentang tuduhan terhadapmu. Dan saya punya bukti yang bisa membuktikan bahwa kamu mencuri ide proyek itu.”

Maya: “Itu tidak benar! Kamu pasti menyebarkan fitnah.”

Anita: “Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tapi saya sudah memberitahu bos tentang hal ini. Siapa yang akan percaya padamu sekarang?”

(Tia dan Rama mendekati Maya, mencoba memberikan dukungan.)

Rama: “Maya, jangan biarkan Anita mengalahkanmu. Kita akan menemukan cara untuk membersihkan namamu.”

Maya: “Terima kasih, Rama. Saya tidak akan membiarkan fitnah ini merusak reputasiku.”

(Tia mengambil tindakan, memutuskan untuk mengumpulkan bukti untuk membuktikan kebenaran.)

(Terjadilah serangkaian peristiwa di mana Maya, dengan bantuan Tia dan Rama, berhasil mengumpulkan bukti yang memperlihatkan bahwa tuduhan fitnah yang dialamatkan padanya tidak berdasar.)

Maya: “Tia, ini adalah bukti bahwa saya tidak melakukan apa yang dituduhkan padaku.”

Tia: “Sangat bagus, Maya. Sekarang kita bisa membuktikan kebenaran kepada semua orang.”

(Para tokoh mempresentasikan bukti tersebut kepada bos dan rekan-rekan mereka.)

Bos: “Maya, saya minta maaf atas ketidaknyamanan ini. Ternyata fitnah tersebut tidak berdasar. Dan saya menghargai upaya kalian dalam membuktikan kebenaran.”

(Rama menatap Anita dengan tajam.)

Rama: “Anita, apa yang kamu lakukan sangat tidak etis. Saya harap kamu belajar dari ini.”

Anita: (Menundukkan kepala dengan malu) “Saya minta maaf. Saya tidak menyadari bahwa fitnah saya akan berdampak sebesar ini.”

Maya: “Semoga kita bisa belajar dari pengalaman ini bahwa fitnah tidak pernah membawa kebaikan. Mari kita jaga kepercayaan dan integritas kita dengan baik.”

(Tirai turun.)

Tamat.

2. Kampus Penuh Fitnah

Tokoh:

  1. Rani (tokoh utama)
  2. Maya (sahabat Rani)
  3. Dinda (sahabat Rani)
  4. Ryan (teman Rani)
  5. Lisa (antagonis)

Setting: Dalam sebuah kampus

(Sebuah ruang kuliah di kampus. Rani, Maya, dan Dinda duduk bersama. Mereka terlihat sedang berdiskusi.)

Rani: (gelisah) Saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Semakin hari semakin banyak orang yang memandang saya aneh.

Maya: (menghibur) Tenang saja, Rani. Kita selalu ada untukmu.

Dinda: (bertanya) Ada apa sebenarnya, Rani?

Rani: (terengah-engah) Beberapa hari ini, Lisa telah menyebarkan fitnah tentang saya. Dia mengatakan bahwa saya mencuri uang di dalam kelas.

Maya: (terkejut) Apa? Itu sama sekali tidak masuk akal!

Dinda: (marah) Kita harus segera menyelesaikan ini. Kita tidak boleh membiarkan Lisa menyebarkan kebohongan tentangmu, Rani.

(Ryan masuk ke ruangan.)

Ryan: Ada apa, kalian semua terlihat khawatir?

Rani: Ryan, kamu datang tepat waktu. Saya butuh bantuanmu.

Maya: Lisa telah menyebarkan fitnah tentang Rani.

Ryan: (terkejut) Apa? Kita harus menghentikannya sebelum ini semakin meluas.

Dinda: Benar. Tapi, bagaimana caranya?

Maya: Kita bisa meminta bukti kepada Lisa. Dia harus menyadari kesalahannya.

(Rani, Maya, Dinda, dan Ryan keluar dari ruangan dan mencari Lisa di kampus. Mereka menemukan Lisa sedang duduk di taman kampus.)

Maya: Lisa, kami perlu berbicara denganmu.

Lisa: (sombong) Ada apa, ya?

Ryan: Kamu telah menyebarkan fitnah tentang Rani. Kami membutuhkan penjelasan darimu.

Lisa: (mengejek) Fitnah? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.

Rani: (menghela nafas) Lisa, kamu tahu bahwa itu tidak benar. Tolong hentikan kebohongan ini.

Lisa: (menyeringai) Mengapa aku harus percaya padamu?

Maya: Karena kita semua adalah teman-temanmu. Kamu tidak akan merasa senang jika hal yang sama terjadi padamu.

Lisa: (berpikir sejenak) Baiklah, saya akan berhenti.

(Rani, Maya, Dinda, dan Ryan lega mendengar jawaban Lisa.)

Rani: Terima kasih, Lisa.

Lisa: Maafkan aku, Rani. Aku akan memperbaiki kesalahanku.

(Rani, Maya, Dinda, dan Ryan kembali ke ruang kuliah.)

Maya: Semua sudah selesai.

Dinda: Kita harus selalu saling mendukung satu sama lain.

Ryan: Benar. Teman adalah seseorang yang harus kita percayai dan kita lindungi.

Rani: (tersenyum) Aku sangat beruntung memiliki kalian semua sebagai teman.

(Tokoh-tokoh berpelukan erat.)

Tamat.

3. Pertengkaran di Koridor

Tokoh:

  1. Andi (tokoh utama)
  2. Maya (teman Andi)
  3. Budi (teman Andi)
  4. Rini (teman Maya)
  5. Dian (antagonis)

Setting: Koridor sekolah

(Suasana koridor sekolah yang ramai. Andi, Maya, dan Budi sedang berjalan bersama menuju kelas.)

Maya: (tersenyum) Hari ini suasana terasa sangat cerah, ya?

Budi: (setuju) Iya, aku juga merasakannya.

Andi: (mengernyitkan dahi) Tapi, kenapa aku merasa ada yang aneh?

(Mereka tiba di depan kelas, di mana Rini dan Dian sedang berdiri.)

Rini: (menjauhi Dian) Aku tidak ingin berbicara lagi denganmu, Dian!

Dian: (marah) Kau pikir kau bisa menghindar dariku, Rini? Kau harus bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan!

Maya: (heran) Ada apa dengan mereka?

Andi: (menghampiri mereka) Ada apa, Rini? Kenapa kalian bertengkar?

Rini: (menangis) Dian menuduhku mencuri uang di kantin.

Budi: (terkejut) Apa? Itu tidak mungkin!

Dian: (menghadapi Rini) Bukankah uangmu habis begitu saja? Kau pasti yang mengambilnya!

Andi: (menghentikan Dian) Sudah cukup, Dian! Kita harus menyelesaikan ini dengan tenang.

Maya: Benar, kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

(Mereka berusaha untuk menenangkan Rini dan Dian, lalu bertemu dengan kepala sekolah.)

Kepala Sekolah: Ada apa, anak-anak? Mengapa kalian terlihat begitu cemas?

Andi: (mengungkapkan) Ada masalah di antara Rini dan Dian, Bu. Dian menuduh Rini mencuri uang di kantin.

Kepala Sekolah: (berpikir sejenak) Ini adalah masalah serius. Kita harus menemukan bukti yang jelas sebelum membuat kesimpulan.

Maya: Bagaimana caranya?

Kepala Sekolah: (memberikan saran) Pertama, kita harus mencari saksi yang melihat kejadian tersebut. Lalu, kita bisa memeriksa rekaman CCTV di kantin.

Budi: (mengangguk) Aku akan mencari saksi-saksi yang ada di kantin saat kejadian itu.

Andi: (menghampiri Rini) Tenanglah, Rini. Kita akan menyelesaikan ini.

(Mereka berpisah untuk melakukan tugas masing-masing. Beberapa saat kemudian, mereka kembali bertemu di kantin.)

Maya: Apa hasilnya, Budi?

Budi: Saya menemukan beberapa saksi yang melihat Rini tidak pernah mengambil uang di kantin.

Andi: Bagus. Bagaimana dengan rekaman CCTV?

Maya: (menunjukkan ponselnya) Saya telah meminta bantuan guru untuk memeriksa rekaman CCTV. Mereka sedang mengeceknya sekarang.

Kepala Sekolah: (menghampiri mereka) Saya sudah mendengar kabar dari guru. Ternyata, rekaman CCTV menunjukkan bahwa Rini tidak pernah menyentuh uang di kantin.

Rini: (menangis) Terima kasih, Bu.

Kepala Sekolah: (menatap Dian tajam) Dian, apa kamu memiliki penjelasan untuk ini?

Dian: (merasa bersalah) Saya… Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan.

Kepala Sekolah: (tegas) Saya tidak akan mentolerir tindakan seperti ini di sekolah ini. Kamu akan menerima hukuman yang pantas.

(Mereka kembali ke koridor sekolah setelah masalah terselesaikan.)

Maya: Akhirnya, semuanya berakhir dengan baik.

Budi: Ya, dan Rini tidak lagi harus menderita karena fitnah Dian.

Andi: Ini menunjukkan betapa pentingnya mencari kebenaran sebelum membuat kesimpulan.

(Rini, Maya, Budi, dan Andi berpelukan erat.)

Tamat.

4. Ketegangan di Perumahan Sejahtera

Tokoh:

  1. Pak Slamet (tokoh utama)
  2. Ibu Siti (istri Pak Slamet)
  3. Pak Joko (tetangga Pak Slamet)
  4. Ibu Rini (istri Pak Joko)
  5. Bu Maryam (antagonis)

Setting: Dalam sebuah perumahan yang tenang dan nyaman.

(Suasana senja di perumahan Sejahtera. Pak Slamet sedang duduk di teras rumahnya bersama Ibu Siti. Mereka sedang menikmati secangkir teh.)

Pak Slamet: (sambil menghela nafas) Ah, udara di sini begitu segar. Betapa damainya perumahan kita ini, Siti.

Ibu Siti: (tersenyum) Ya, benar sekali, Sayang. Namun, aku merasa ada sesuatu yang mengganggu akhir-akhir ini.

Pak Slamet: (memandang Ibu Siti dengan heran) Apa yang membuatmu merasa seperti itu?

(Suara gaduh terdengar dari rumah seberang.)

Pak Joko: (teriak) Kenapa kau selalu merusak taman depanku, Maryam? Sudah berapa kali aku minta padamu untuk mengendalikan anjingmu!

Ibu Rini: (mengikuti) Pak Joko benar, Bu Maryam. Anjingmu sering mengganggu ketenangan kami.

Bu Maryam: (dengan nada tinggi) Kenapa aku harus peduli? Itu urusanmu sendiri jika tidak bisa mengendalikan binatang peliharaanmu!

(Pak Slamet dan Ibu Siti menuju ke rumah Pak Joko untuk mencoba menenangkan situasi.)

Pak Slamet: (memasuki rumah Pak Joko) Ada apa di sini?

Pak Joko: (frustrasi) Bu Maryam lagi-lagi tidak mau bertanggung jawab atas anjingnya yang merusak taman depan rumahku!

Ibu Rini: (menghela nafas) Kami tidak bisa terus menerus seperti ini, Pak Slamet. Harus ada solusi.

Pak Slamet: (berpikir sejenak) Mari kita bicarakan secara tenang. Mungkin kita bisa mencari solusi yang baik untuk semua orang.

(Mereka berdiskusi untuk menemukan solusi yang tepat.)

Ibu Siti: Bagaimana jika kita membuat pagar pemisah di antara rumah kita dan rumah Bu Maryam? Itu mungkin bisa mengurangi masalah.

Pak Joko: (setuju) Itu terdengar sebagai solusi yang baik. Tidak ada lagi masalah dengan anjingnya masuk ke halaman kami.

Bu Maryam: (menolak) Tidak, saya tidak akan setuju dengan itu! Rumah saya akan terasa seperti penjara dengan pagar itu!

Pak Slamet: (tenang) Mari kita pikirkan solusi lain yang dapat memuaskan semua pihak.

(Mereka kembali ke rumah masing-masing dengan kekecewaan.)

(Selang beberapa hari, ketegangan di antara mereka semakin meningkat.)

Ibu Siti: (mengeluh) Siti, situasi di sini semakin tidak terkendali. Kami harus menemukan cara untuk mengakhiri pertengkaran ini.

Pak Slamet: (mengangguk) Ya, kamu benar. Saya akan mencoba berbicara lagi dengan Bu Maryam.

(Pak Slamet pergi ke rumah Bu Maryam untuk berbicara dengannya.)

Pak Slamet: (memasuki rumah Bu Maryam) Bu Maryam, saya datang untuk berbicara denganmu. Kita harus menemukan solusi untuk masalah ini.

Bu Maryam: (dingin) Saya sudah tidak tertarik lagi mendengar pendapatmu, Pak Slamet. Anda tidak bisa memaksakan saya untuk menuruti keinginan Anda.

Pak Slamet: (berusaha memahami) Saya mengerti Anda merasa kesal, Bu Maryam. Namun, kita harus mencari jalan keluar yang baik untuk semua orang.

Bu Maryam: (mengabaikan) Saya tidak peduli dengan apa yang Anda katakan. Saya akan terus melakukan apa yang saya inginkan!

(Pak Slamet kembali ke rumahnya dengan perasaan frustasi.)

Pak Slamet: (kepada Ibu Siti) Siti, saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Bu Maryam sepertinya tidak mau mendengarkan saran dari siapapun.

Ibu Siti: (menyentuh pundak Pak Slamet) Tenanglah, Sayang. Kita harus tetap tenang dan mencari solusi yang terbaik.

(Suara gaduh terdengar lagi dari rumah seberang.)

Pak Joko: (teriak) Bu Maryam, berhenti mengganggu kami dengan kebisinganmu!

Bu Maryam: (marah) Aku akan melakukan apa pun yang aku mau di rumahku! Tidak ada yang bisa menghentikanku!

(Pak Slamet dan Ibu Siti memutuskan untuk mencari bantuan dari pihak berwenang.)

(Petugas keamanan perumahan datang untuk menengahi pertengkaran.)

Petugas: (menegur) Maaf mengganggu, tetapi saya telah menerima laporan tentang ketegangan di antara warga kami.

Pak Slamet: (berterima kasih) Kami sangat berterima kasih atas kehadiran Anda. Kami telah berusaha menyelesaikan masalah ini secara damai, tetapi tampaknya tidak berhasil.

Petugas: (mengangguk) Saya akan mencoba berbicara dengan Bu Maryam dan mencari solusi yang dapat diterima oleh semua pihak.

(Petugas pergi untuk berbicara dengan Bu Maryam.)

(Selang beberapa waktu kemudian, Petugas kembali.)

Petugas: (mengumumkan) Saya telah berbicara dengan Bu Maryam dan kami telah mencapai kesepakatan. Bu Maryam setuju untuk mengendalikan anjingnya dengan lebih baik dan menghormati kebutuhan tetangga. Kami juga akan memasang pagar pemisah untuk membatasi akses ke properti masing-masing.

Semua: (merasa lega) Terima kasih banyak, Pak Petugas.

(Semua warga merasa lega dan akhirnya ketegangan di perumahan Sejahtera terselesaikan.)

Tamat.

Penutup

Nah, itulah contoh naskah drama 5 orang tentang fitnah dan pertengkaran singkat yang bisa menjadi bahan inspirasimu. Semoga bermanfaat.


Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:

Kost Dekat UGM Jogja

Kost Dekat UNPAD Jatinangor

Kost Dekat UNDIP Semarang

Kost Dekat UI Depok

Kost Dekat UB Malang

Kost Dekat Unnes Semarang

Kost Dekat UMY Jogja

Kost Dekat UNY Jogja

Kost Dekat UNS Solo

Kost Dekat ITB Bandung

Kost Dekat UMS Solo

Kost Dekat ITS Surabaya

Kost Dekat Unesa Surabaya

Kost Dekat UNAIR Surabaya

Kost Dekat UIN Jakarta