Contoh Naskah Drama 5 Orang tentang Fitnah dan Pertengkaran Singkat
Sedang mencari referensi naskah drama berisi 5 orang? Baca contoh naskah drama tentang fitnah dan pertengkaran singkat di artikel ini.
(Suara gaduh terdengar dari rumah seberang.)
Pak Joko: (teriak) Kenapa kau selalu merusak taman depanku, Maryam? Sudah berapa kali aku minta padamu untuk mengendalikan anjingmu!
Ibu Rini: (mengikuti) Pak Joko benar, Bu Maryam. Anjingmu sering mengganggu ketenangan kami.
Bu Maryam: (dengan nada tinggi) Kenapa aku harus peduli? Itu urusanmu sendiri jika tidak bisa mengendalikan binatang peliharaanmu!
(Pak Slamet dan Ibu Siti menuju ke rumah Pak Joko untuk mencoba menenangkan situasi.)
Pak Slamet: (memasuki rumah Pak Joko) Ada apa di sini?
Pak Joko: (frustrasi) Bu Maryam lagi-lagi tidak mau bertanggung jawab atas anjingnya yang merusak taman depan rumahku!
Ibu Rini: (menghela nafas) Kami tidak bisa terus menerus seperti ini, Pak Slamet. Harus ada solusi.
Pak Slamet: (berpikir sejenak) Mari kita bicarakan secara tenang. Mungkin kita bisa mencari solusi yang baik untuk semua orang.
(Mereka berdiskusi untuk menemukan solusi yang tepat.)
Ibu Siti: Bagaimana jika kita membuat pagar pemisah di antara rumah kita dan rumah Bu Maryam? Itu mungkin bisa mengurangi masalah.
Pak Joko: (setuju) Itu terdengar sebagai solusi yang baik. Tidak ada lagi masalah dengan anjingnya masuk ke halaman kami.
Bu Maryam: (menolak) Tidak, saya tidak akan setuju dengan itu! Rumah saya akan terasa seperti penjara dengan pagar itu!
Pak Slamet: (tenang) Mari kita pikirkan solusi lain yang dapat memuaskan semua pihak.
(Mereka kembali ke rumah masing-masing dengan kekecewaan.)
(Selang beberapa hari, ketegangan di antara mereka semakin meningkat.)
Ibu Siti: (mengeluh) Siti, situasi di sini semakin tidak terkendali. Kami harus menemukan cara untuk mengakhiri pertengkaran ini.
Pak Slamet: (mengangguk) Ya, kamu benar. Saya akan mencoba berbicara lagi dengan Bu Maryam.
(Pak Slamet pergi ke rumah Bu Maryam untuk berbicara dengannya.)
Pak Slamet: (memasuki rumah Bu Maryam) Bu Maryam, saya datang untuk berbicara denganmu. Kita harus menemukan solusi untuk masalah ini.
Bu Maryam: (dingin) Saya sudah tidak tertarik lagi mendengar pendapatmu, Pak Slamet. Anda tidak bisa memaksakan saya untuk menuruti keinginan Anda.
Pak Slamet: (berusaha memahami) Saya mengerti Anda merasa kesal, Bu Maryam. Namun, kita harus mencari jalan keluar yang baik untuk semua orang.
Bu Maryam: (mengabaikan) Saya tidak peduli dengan apa yang Anda katakan. Saya akan terus melakukan apa yang saya inginkan!
