3 Contoh Naskah Drama Pendek Mengandung Pesan Moral beserta Unsur-unsurnya
Naskah sebuah drama menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam sebuah pementasan, baik pementasan di lingkup kecil maupun untuk acara tertentu.
2. Contoh Naskah Drama Pendek: Peduli dengan Orang Lain
- Tema: Keluarga
- Tokoh/Karakter: Ayah, Ibu, Diana, Diaz
- Latar: Rumah
Suasana di dalam rumah minggu pagi sibuk seperti biasa. Ayah sedang membetulkan sepeda Diaz, si bungsu, dan ibu sedang membersihkan rumah bersama Diana, si sulung.
Sementara itu Diaz sedang bermain game di ponsel dan seolah tak memperhatikan suasana rumah yang sedang sibuk. Diana kemudian memanggil adiknya, Diaz.
Diana: Dek, tolong ambilkan ember dan kain pel. Tangan Kakak kotor, Ibu juga sedang melipat pakaian bersih. Tolong, Dek.
Diaz: Nanti, Kak. Baru juga mulai main game nya. Masak ditinggal. Ini game online, Kak, nggak bisa dipause.
Diana yang sedang membersihkan jendela kemudian menghampiri adiknya karena jarah mereka tidak begitu jauh.
Diana: Lihat deh orang satu rumah sedang sibuk dan bekerja sama untuk membuat rumah ini jadi jauh lebih rapi. Ayah bahkan lagi membetulkan sepeda kamu yang rusak. Terus kamu di sini cuma main game?
Diana terlihat masih menahan kesabarannya. Diaz tidak menggubris sama sekali dengan ucapan sang kakak. Karena telanjur kesal dan tak bisa menghadapi adiknya, akhirnya Diana pun pergi ke garasi untuk mengadu pada Ayahnya.
Diana: Yah, Diaz tuh dari tadi cuma main game hape. Padahal sejak pagi aku sudah bantu ibu ke pasar dan masak. Masih dilanjutkan beres-beres rumah juga. Aku minta tolong diambilkan kain pel dan ember saja dia tidak bergerak dari kursinya.
Diana benar-benar jengkel saat mengucapkan kalimat itu. Ayah lalu menoleh pada putrinya itu dan bertanya.
Ayah: Memangnya kamu sudah ajak bicara Diaz baik-baik?
Diana: Ya, sudah. Cuma aku udah jengkel karena permintaanku yang pertama nggak digubris. Lalu kali kedua aku deketin, dia tetep nggak mau lepasin hape di tangannya.
Ayah lalu meletakkan bangun dari posisi duduknya dan menghampiri putra bungsunya.
Diaz: Diaz, kenapa kamu tidak mau menolong kakak?
Diaz yang masih seru bermain game lalu menjawab tanpa melihat wajah sang ayah.
Diaz: Ya, kan Diaz sibuk, yah. Ini aja hampir kalah karena diganggu sama kakak. Ini Ayah ngomong, Diaz juga hampir kehilangan konsentrasi nih.
Ayah menoleh pada Diana yang mengangkat bahunya lalu masih tidak mau pergi sebelum Ayah menegur Diaz dengan keras.
Ayah kemudian mengambil ponsel Diaz dengan sigap dan mematikannya. Diaz nampak terkejut dan langsung menyuarakan protes.
Diaz: Kenapa ponsel Diaz diambil, Yah? Kan, Diaz, lagi main game. Tadi udah hampir menang.
Ayah lalu bicara pada putra bungsunya.
Ayah: Itu ponsel ayah yang belikan, jadi secara kepemilikan, ponsel itu milik ayah. Jadi ayah bisa berbuat apa saja pada barang milik ayah. Dan ayah merasa memberikan kamu hape justru membuat Diaz jadi malas. Kakak tadi minta tolong pun tidak Diaz bantu. Padahal tidak sampai satu jam yang akan kamu habiskan jika mengambilkan ember dan lap pel untuk kakakmu.
Diaz: Ya, tapi kan itu memang pekerjaan perempuan, Yah. Pekerjaan laki-laki memang dilayani bukan?
Ayah terkejut mendengar pernyataan Diaz tersebut.
Ayah: Bagaimana kamu bisa berpikiran demikian, Diaz? Dengar dari mana? Karena sepertinya Ayah tidak pernah mengajarkan kamu hal itu.
Diaz lalu menjawab dengan ogah-ogahan.
Diaz: Dari Kakaknya Rizky. Katanya tugas perempuan itu ya memang beres-beres, membantu di rumah, memasak. Sementara tugas laki-laki itu dilayani dan dihormati.
Ibu datang dari arah dapur dan berdiri di samping ayah.
Diana: Dan kamu menelan bulat-bulat apa yang disampaikan oleh kakaknya teman kamu itu? Coba aku tanya? Apa ketika Ibu masak, ayah diam saja? Tidak. Ayah pasti ada membantu ibu. Bahkan ketika aku mau bantu, ayah menyuruh untuk segera mengerjakan tugas sekolah saja.
Ibu: Yang dikatakan oleh kakakmu itu benar, Nak. Peran laki-laki dan perempuan untuk urusan domestik ini adalah setara. Tidak ada pekerjaan khusus untuk perempuan atau untuk laki-laki saja. Sebab semuanya punya kewajiban yang sama.
Ayah pun menyambung.
Ayah: Kamu perlu menyaring lagi informasi yang kamu dapatkan Diaz. Tidak semuanya kamu telan mentah dan mengaplikasikannya seolah itu adalah sebuah kebenaran. Apalagi perkara menjaga dan merawat rumah. Ini rumah kita, jadi sepatutnya kita rawat dan jaga bersama.
Diaz: Lalu apa yang dikatakan kakaknya Rizky itu salah?
Ibu: Mungkin persepsinya saja yang salah. Karena tugas domestik itu tidak memandang jenis kelamin. Semua harus bisa melakukannya. Dan karena ini tempat kita tinggal bersama, berarti kita juga yang harus menjaganya bukan?
Diaz mengakui kebenaran dari ucapan ibunya. Akhirnya ia pun meminta maaf dan mulai terlibat membantu bersih-bersih.
Halaman:

