Contoh Resensi Novel Bumi Manusia Singkat Karya Pramoedya Ananta Toer
Ulasan buku atau resensi buku masih menjadi salah satu pertimbangan bagi seorang pembaca untuk membeli atau melanjutkan keseluruhan isi buku.
Pendahuluan
Novel yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ini mengisahkan tentang perjuangan seorang perempuan melawan kelas dan struktur sosial yang sudah dibangun dan melekat.
Pramoedya Ananta Toer atau yang juga akrab disapa Pram adalah salah satu Sastrawan besar yang terkenal dan menjadi kebanggaan Indonesia.
Pram adalah putra sulung dari seorang Kepala Sekolah Institut Budi Oetomo.
Selama hidupnya, Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya sastra dan telah diterjemahkan dalam 41 bahasa asing.
Pram pernah bekerja sebagai juru ketik dan korektor di kantor berita Domei (LKBN ANTARA semasa pendudukan Jepang) kemudian memantapkan pilihannya untuk menjadi seorang penulis buku.
Sepanjang karirnya, Pram telah menghasilkan artikel, puisi, cerpen, dan novel.
Namanya terkenal dan mendunia bahkan telah sejajar dengan para sastrawan dunia dengan karyanya yang kekal abadi sepanjang masa.
Sinopsis Novel
Novel Bumi Manusia mengisahkan tentang perjuangan seorang perempuan desa yang dinikahkan paksa oleh ayahnya dengan seorang laki-laki yang adalah kaum bangsawan.
Perempuan ini dinikahkan oleh ayahnya saat ia masih berumur belia. Perempuan itu bernama Sanikem yang kemudian akan dikenal sebagai Nyai Ontosoroh.
Meski begitu, pernikahan paksa yang harus dijalani Sanikem bukan suatu keterpaksaan yang membuat perempuan itu kecewa.
Walaupun ia amat membenci orang tua yang memaksanya menikah, namun ada banyak keuntungan yang ia peroleh dari kaum bangsawan yang ia nikahi.
Sanikem diajari caranya menulis dan membaca dalam bahasa Belanda.
Perempuan itu mulai diajarkan bagaimana mengelola sebuah perusahaan dan ladang yang dimiliki oleh kaum bangsawan yang menjadi suaminya tersebut.
Lama kelamaan, nama Sanikem berganti menjadi Nyai Ontosoroh yang memiliki karakter kuat dan bisa memimpin perusahaan yang suaminya jalankan.
Nyai Ontosoroh bukan hanya dapat membaca dan menulis dalam bahasa Belanda tanpa cela, ia juga menjadi Ibu berdaya bagi Robert dan Annelies Mellema.
Nyai Ontosoroh dapat bersolek dengan necis layaknya priyayi, meski darah biru tak pernah mengalir dalam dirinya.
Nyai Ontosoroh memiliki peran yang berpengaruh bagi hidup Minke, tokoh utama dalam Tetralogi Pulau Buru. Minke kemudian menjadi menantu Nyai Ontosoroh, karena menikahi Annelies Mellema, putri bungsunya.
Halaman:
