Advertisement
Source : unsplash.com/@joszczepanska

5+ Contoh Studi Kasus beserta Cara Membuatnya, Pengertian, Jenis, dan Tujuannya

Menemukan contoh studi kasus tentu bukan istilah baru bagi para pelajar maupun mahasiswa, terutama ketika ada tugas menyusun karya ilmiah.

29 Oktober 2025 Mamikos

Tambahan Contoh Studi Kasus

1. Dampak Kecanduan Gawai terhadap Prestasi Akademik Remaja

Rafi, seorang siswa kelas XI di salah satu SMA di Bandung, mengalami penurunan drastis dalam prestasi akademiknya selama dua tahun terakhir. Sebelumnya, Rafi dikenal sebagai siswa berprestasi yang selalu berada di peringkat tiga besar. Namun, sejak memiliki ponsel pintar pribadi, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk bermain game online dan bersosialisasi di media sosial hingga larut malam.

Guru dan orang tuanya menyadari perubahan perilakunya: ia sering mengantuk di kelas, sulit fokus saat pelajaran, dan sering lupa mengerjakan tugas sekolah. Setelah dilakukan wawancara dan observasi oleh guru BK, diketahui bahwa rata-rata waktu penggunaan gawainya mencapai 10 jam per hari.

Setelah mendapatkan bimbingan konseling dan pembatasan waktu penggunaan gawai dari orang tua, Rafi perlahan mampu mengatur kembali waktu belajarnya. Dalam waktu tiga bulan, nilainya meningkat dan ia mulai kembali aktif dalam kegiatan sekolah. Kasus Rafi menunjukkan bagaimana kecanduan gawai dapat memengaruhi prestasi akademik remaja, namun juga bagaimana dukungan keluarga dan sekolah berperan penting dalam pemulihannya.

2. Resiliensi Anak Korban Perceraian Orang Tua

Salsa, siswi kelas IX SMP di Surabaya, menjadi korban dampak perceraian orang tuanya sejak usia 12 tahun. Setelah perpisahan, ia tinggal bersama ibunya dan jarang bertemu ayahnya. Awalnya, Salsa menunjukkan perubahan perilaku signifikan: sering murung, menolak berinteraksi dengan teman, dan prestasinya menurun.

Guru BK kemudian mengajaknya mengikuti kegiatan konseling kelompok di sekolah yang membahas manajemen emosi dan penerimaan diri. Selama enam bulan, Salsa menunjukkan perkembangan positif. Ia mulai terbuka kepada teman-temannya, kembali aktif di kegiatan ekstrakurikuler, dan bahkan berhasil meraih peringkat lima besar di kelas.

Kasus ini menggambarkan bahwa resiliensi emosional pada anak korban perceraian dapat tumbuh melalui dukungan sosial yang tepat dan lingkungan sekolah yang suportif.

3. Dampak Bullying terhadap Kesehatan Mental Siswa SMP

Dina adalah siswi kelas VIII di salah satu SMP di Yogyakarta. Selama hampir satu tahun, ia menjadi korban perundungan verbal dan fisik oleh teman sekelasnya karena penampilan fisiknya. Akibatnya, Dina menjadi pendiam, kehilangan semangat belajar, dan sering izin tidak masuk sekolah.

Orang tua Dina yang menyadari perubahan perilakunya segera melapor ke pihak sekolah. Setelah dilakukan penanganan oleh guru BK, serta pelibatan psikolog anak, Dina menjalani terapi konseling mingguan. Sekolah juga mengadakan program anti-bullying yang melibatkan seluruh siswa dan guru.

Setelah enam bulan, Dina menunjukkan pemulihan signifikan. Ia kembali bersemangat belajar, bergabung dalam klub seni, dan menjadi contoh bagi teman-temannya dalam melawan perundungan. Studi kasus ini menunjukkan bahwa penanganan cepat dan dukungan lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap pemulihan korban bullying.

4. Adaptasi Mahasiswa Baru di Lingkungan Perguruan Tinggi

Bayu, mahasiswa baru dari luar kota yang kuliah di universitas ternama di Jakarta, mengalami kesulitan beradaptasi pada semester pertama. Ia merasa tertekan oleh budaya kompetitif dan gaya hidup kota besar yang berbeda jauh dari daerah asalnya. Hal ini membuatnya merasa kesepian dan sulit berkonsentrasi belajar.

Setelah mengikuti program orientasi kampus dan bergabung dengan komunitas daerah, Bayu mulai menemukan teman-teman yang memiliki latar belakang serupa. Dukungan sosial yang ia dapatkan membantu meningkatkan rasa percaya diri dan motivasinya. Pada akhir semester pertama, IPK-nya meningkat dari 2,75 menjadi 3,35.

Kasus ini menunjukkan bahwa adaptasi mahasiswa baru terhadap lingkungan akademik dan sosial yang baru sangat dipengaruhi oleh kemampuan membangun jaringan sosial serta dukungan komunitas.

5. Perubahan Perilaku Anak setelah Mengikuti Program Literasi Sekolah

Anisa, siswi kelas IV SD di Semarang, awalnya memiliki minat baca yang sangat rendah. Ia lebih suka bermain di luar rumah daripada membaca buku. Namun, sejak sekolahnya menerapkan program “15 Menit Membaca Sebelum Pelajaran Dimulai”, perilakunya berubah.

Guru kelas mencatat bahwa dalam waktu dua bulan, Anisa mulai membawa buku bacaan sendiri, aktif berdiskusi mengenai isi buku, dan menunjukkan peningkatan kemampuan menulis. Nilai Bahasa Indonesianya meningkat signifikan dari 72 menjadi 90.

Kasus ini membuktikan bahwa program literasi sekolah yang konsisten mampu meningkatkan minat baca, kemampuan literasi, dan prestasi belajar siswa secara menyeluruh.

Tujuan dari Penyusunan Studi Kasus

Melirik sedikit perihal ketiga contoh di atas, kini kami beritahukan apa saja tujuan penyusunan studi kasus dalam karya ilmiah.

Karena kegiatannya meneliti maka secara tepat peneliti akan memahami objek sampai ke akarnya selama penelitian dilakukan seksama.

Peneliti tidak asal memilih objek penelitian, biasanya yang dekat dengan kehidupan sosial sehingga dampaknya juga akan terasa oleh para responden.

Contoh, dari pengelolaan sampah tadi bukan hanya membantu karya ilmiah secara teori, namun secara praktik.

Jika masyarakat bisa diajak bekerja sama untuk mengentaskan sampah di Bandung maka mudah sekali mengaplikasikan solusi dari hasil akhir penelitian tentang sampah. Jika dirangkum dalam bentuk poin maka tujuan studi kasus meliputi:

  1. Jika yang melakukan psikolog maka tujuannya mengetahui pikiran, sikap, perilaku, serta pemikiran manusia secara kognitif sebagai individu.
  2. Jika pelakunya adalah sosiolog maka objek penelitian sama, yakni manusia, namun perbedaannya dengan psikolog adalah sosiolog ini lebih mengarah ke interaksi antar manusia.
  3. Jika pelakunya seorang ilmuwan maka didapati contoh studi kasus mengenai kelahiran teori baru sesuai dengan bidangnya masing-masing. 

Jika ditelisik detail, tujuan masing-masing peneliti berbeda, namun intinya satu. Yakni, memecahkan permasalahan secara ilmiah.

Halaman:

Advertisement