Advertisement
Source : Canva/@Ron Lach

3 Contoh Studi Kasus PPG 2026 dan Cara Membuatnya agar Lulus UKPPPG

Bagi Anda yang akan mengerjakan studi kasus PPG, wajib menyimak contohnya terlebih dahulu di artikel Mamikos kali ini.

10 Februari 2026 Lintang Filia

Salah satu tugas yang harus diselesaikan oleh peserta PPG Dalam Jabatan adalah menyusun studi kasus.

Sebagai peserta, Anda diharapkan mampu menunjukkan kemampuan reflektif sebagai pendidik dalam menghadapi permasalahan nyata di kelas. Namun, tak sedikit guru yang merasa kesulitan saat membuatnya. 📝

Nah sebagai panduan dan referensi, Mamikos telah menyiapkan contoh studi kasus PPG 2026 lengkap dengan cara membuatnya di artikel ini. Simak sampai selesai dan jangan ada bagian yang terlewat, ya. 👇🏻

Contoh Studi Kasus PPG 2026

contoh studi kasus PPG 2026
Canva/@Ron Lach
45 Latihan Soal CPNS 2026 dan Jawabannya, TIU, TKP dan TWK

Setelah memahami pengertian dan cara penyusunan studi kasus dalam PPG yang sudah Mamikos bahas, kini saatnya melihat langsung contoh yang bisa Anda jadikan referensi pembuatan.  

Oh, ya, perlu diingat bahwa contoh studi kasus PPG 2026 di bawah ini bukan merupakan studi kasus yang nyata. Narasi ini Mamikos tulis sebagai ilustrasi dari berbagai kemungkinan yang bisa terjadi di kelas.

Tujuannya adalah memberikan gambaran tentang bagaimana menyusun studi kasus yang baik, dengan alur yang jelas, bahasa yang mengalir, dan muatan reflektif yang kuat.

Jawaban Soal Modul 3.4 PINTAR Kemenag Pendayagunaan Ekonomi dan SDM di Rumah Ibadah

Contoh Studi Kasus 1 – Siswa Memiliki Tingkat Literasi Rendah

1. Permasalahan yang di hadapi

Dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia kelas VII, saya menghadapi tantangan besar yaitu rendahnya kemampuan literasi siswa. Masalah tersebut terlihat saat mereka diminta membaca teks naratif lalu menjawab pertanyaan pemahaman.

Ternyata banyak siswa yang kesulitan menemukan ide pokok, menyimpulkan isi bacaan, hingga memahami makna kata dalam konteks. Bahkan beberapa siswa enggan membaca teks panjang karena merasa lelah atau bingung dengan isi bacaan.

2. Upaya penyelesaian masalah

Langkah pertama yang saya lakukan adalah menggali penyebab rendahnya literasi melalui observasi dan wawancara ringan dengan siswa. Saya temukan bahwa sebagian siswa kurang terbiasa membaca karena akses bacaan yang terbatas dan minimnya kebiasaan membaca di rumah.

Download Aplikasi EXAMBPPP untuk Ujian PPG 2026 dan Panduan saat UTBK, Lengkap!

Setelah itu saya mencoba beberapa strategi berikut:

  • Memilih teks bacaan pendek dan kontekstual yang sesuai dengan minat siswa, misalnya kisah inspiratif remaja, cerita rakyat lokal, atau fabel dengan ilustrasi.
  • Membiasakan membaca bersama di awal pembelajaran. Saya membacakan teks dengan intonasi dan ekspresi, lalu mengajak siswa membaca bergantian untuk meningkatkan keterlibatan mereka.
  • Menggunakan teknik jigsaw untuk melatih siswa bekerja sama memahami teks secara bertahap. Setiap kelompok memegang bagian teks dan saling menjelaskan kepada kelompok lain.
  • Membuat jurnal literasi mingguan, di mana siswa diminta menuliskan satu hal menarik dari bacaan yang mereka pilih sendiri dari sudut baca kelas.
  • Memberikan pertanyaan pemantik sederhana sebelum membaca, agar siswa lebih siap dan memiliki tujuan membaca yang jelas.

3. Hasil upaya

Setelah konsisten menerapkan strategi tersebut selama beberapa minggu, saya mulai melihat perubahan positif. Siswa menjadi lebih terbuka untuk mencoba membaca, dan beberapa bahkan mulai meminjam buku di sudut baca.

Saat diskusi kelas, mereka bisa mengungkapkan isi teks meskipun dengan kalimat sederhana. Kemampuan menyimpulkan bacaan meningkat, dan hasil latihan soal bacaan menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

4. Pengalaman berharga yang didapat

Saya belajar bahwa literasi bukan sekadar soal kemampuan teknis membaca, tapi juga tentang membangun rasa percaya diri dan minat siswa terhadap bacaan.

Memberi ruang yang nyaman, pendekatan yang tidak menghakimi, serta pemilihan teks yang relevan bisa membuka jalan bagi siswa untuk mulai mencintai membaca.

Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa peningkatan literasi harus dilakukan secara bertahap dan penuh kesabaran. Setiap langkah kecil dari siswa patut diapresiasi, karena dari situlah semangat belajar akan tumbuh.

Contoh Studi Kasus 2 – Kurangnya Media Pembelajaran

1. Permasalahan yang di hadapi

Ada satu momen yang masih saya ingat dengan jelas. Di tengah penjelasan saya tentang materi “konversi energi” pada pelajaran IPA, seorang siswa mengangkat tangan dan bertanya, “Bu, itu maksudnya energi gerak berubah jadi apa, sih? Saya nggak bisa ngebayangin.”

Pertanyaan itu sederhana, tapi mengena. Saya sadar, selama ini saya terlalu mengandalkan penjabaran verbal dan papan tulis, tanpa memberi visualisasi yang bisa diakses semua siswa.

Beberapa anak mungkin bisa membayangkan dari cerita, tapi yang lainnya butuh melihat langsung dan di situlah masalahnya, bahwa saya tidak punya media bantu yang memadai untuk menjembatani konsep abstrak menjadi sesuatu yang lebih konkret.

Halaman:

Advertisement