21+ Contoh Teks Anekdot beserta Strukturnya, Kaidah Kebahasaan & Cara Membuatnya
Penasaran bagaimana cara untuk membuat sebuah contoh teks anekdot beserta strukturnya? Simak uraian di bawah ini.
7. Maling Sandal
Abstraksi
Di pagi yang cerah, Arkan tampak lahap menyantap semangkuk soto di warung makan favoritnya.
Orientasi
Setelah puas makan soto, Ia pun bergegas pulang. Namun, di tengah perjalanan ia terserempet motor yang melaju ugal-ugalan. Akibatnya, sandal yang dipakainya putus.
Dengan terpaksa, Arkan melanjutkan perjalanan tanpa alas kaki. Karena jarak rumah masih jauh, ia pun singgah ke toko terdekat untuk membeli sandal baru.
Sayangnya, uang yang dibawanya tidak cukup.
Krisis
Karena tak punya cukup uang, Arkan memutuskan untuk mencuri sandal di masjid yang jaraknya dekat dengan toko tersebut. Ia mengincar sandal terbaik yang ada di sana.
Sembari duduk di teras masjid, Arkan memperhatikan orang-orang yang masuk. Saat pemiliknya sibuk beribadah, ia segera mengambil sandal berwarna hitam itu.
Awalnya aksinya lancar, tapi ternyata pemilik sandal sadar dan langsung mengejarnya. Karena perutnya buncit apalagi setelah makan soto, Arkan pun tidak bisa lari dengan cepat hingga akhirnya tertangkap dan dibawa ke kantor polisi.
Setelah penyelidikan, ia dijerat pasal pencurian dan kasusnya disidangkan seminggu kemudian.
Saat sidang berlangsung, Arkan duduk tertunduk di kursi terdakwa.
Hakim: “Arkan, umur 24 tahun, terbukti mencuri sandal seharga Rp30.000. Dengan ini, Anda dijatuhi hukuman lima tahun penjara.”
Arkan: “Lho, Pak! Ini tidak adil, kenapa hukuman saya lebih berat daripada koruptor?” Reaksi Hakim lalu menjawab bahwa Arkan merugikan seseorang sebesar Rp30.000, sedangkan koruptor yang mencuri Rp2 miliar membaginya ke 200 juta rakyat.
Koda
Artinya, apa yang dilakukan Arkan dinilai lebih merugikan daripada tindakan para koruptor.
8. Unta Milik Salman
Abstraksi
Di padang pasir yang tandus, ada seekor unta bersama majikannya yang bernama Salman.
Orientasi
Unta tersebut hanya mau berjalan jika Salman berkata “Syukurlah” dan akan berhenti begitu ia berkata “Cukup”. Suatu hari, Salman berniat jalan-jalan dengan untanya.
Setelah naik ke punggung unta, ia mengucapkan “Syukurlah”, dan unta itu mulai melangkah, meski dengan langkah yang pelan.
Krisis
Salman pun kesal. Ia pun mengucapkan “Syukurlah” berulang kali, sampai sepuluh kali, hingga akhirnya unta itu berlari semakin kencang. Tak disangka, sekitar sepuluh meter di depannya sudah menunggu sebuah jurang yang sangat dalam.
Salman berteriak “Cukup!”, lalu unta itu berhenti tepat di bibir jurang.
Reaksi
Sambil menyeka keringat dan menarik napas panjang, Salman mengucapkan “Syukurlah”, dan unta itu pun kembali melangkah. Koda Hingga kini, tidak ada seorang pun yang melihat keberadaan Salman.Â
9. Kecoa
Abstraksi
Suatu hari, ada sepasang kakak beradik dalam sebuah keluarga sederhana.
Orientasi
Awalnya mereka berniat pergi berkebun, tetapi tiba-tiba berubah pikiran dan segera pulang dengan tergesa-gesa.
Krisis
Kakak: “Ma, tolong, adik nggak sengaja menelan kecoa!”
Mamah: “Astaga! Gimana bisa begitu? Cepat telepon dokter, Kak!”
Kakak: “Waduh, kalau dokter datang malah makin repot, Ma. Nggak usah khawatir, sebentar lagi kecoanya pasti mati kok…”
Mamah: “Kok bisa?”
Kakak: “Soalnya tadi adik udah aku kasih minum racun serangga.”
Reaksi dan Koda
Mamah: (pingsan)Â
10. Modal Huruf
Abstraksi
Suatu hari, ada seorang guru sekolah dasar yang bertanya tentang hasil belajar menghafalkan huruf kepada muridnya.
Orientasi
Pak guru menanyakan kepada Faiz huruf apa saja yang sudah diingatnya. Faiz pun menjawab kalau dirinya hanya mau menghafal huruf C, D, E, F, G, A, B, dan kembali ke C.
Krisis
Mendengar jawaban tadi, pak guru jadi heran lalu menanyakan lagi kepada Farid mengapa ia hanya mau mengingat tujuh huruf saja.
Reaksi
Faiz pun menjawab dengan penuh semangat, bahwa cukup dengan menghafal tujuh huruf itu saja, ia bisa menjadi musisi handal dan meraih banyak uang.
Koda
Mendengar penjelasan Faiz, pak guru hanya mengangguk-angguk lalu berkomentar, “ada benarnya juga.”
11. Lomba 17 Agustus
Abstraksi
Setelah mengikuti lomba 17 Agustus, kakak dan adik tiba di rumah sambil menenteng hadiah.
Orientasi
Mereka berdua duduk di kursi ruang tamu, kemudian sang adik mulai bercerita. Krisis Adik: “Kak, tadi aku ikut lomba makan kerupuk, lho!”
Kakak: “Wow, keren! Terus kamu menang kah?”
Adik: “Menang dong, tapi ada yang aneh tau Kak.”
Kakak: “Aneh gimana maksudnya?”
Adik: “Anak-anak sih pada lomba makan kerupuk, tapi orang dewasanya… malah lomba makan teman sendiri!” Koda
Sang Kakak hanya bisa geleng-geleng kepala, tidak habis pikir dengan pernyataan adiknya.
12. Rindu Anak
Abstraksi
Dalam kesehariannya, orang tua Iwan selalu bekerja.
Orientasi
Karena sibuk mengisi seminar dan diklat, mereka jarang pulang. Setelah sebulan tak berjumpa, sang ayah merasa rindu lalu menelpon anaknya untuk mengetahui apakah anaknya juga merasakan hal yang sama.
Krisis
“Lan, apakah kamu sayang kepada orang tuamu?” “Tentu saja aku sayang sama ayah, aku selalu merindukan keberadaan ayah dan ibu saat sendiri di rumah,” kata Iwan berbohong.
Reaksi
Sang ayah merasa tenang mendengar jawaban Alan. Dalam doanya, ia berkata, “Ya Tuhan, terima kasih atas anak baik yang Kau titipkan. Jika ia berbuat salah, berilah ia pelajaran.” Koda Seketika Alan pingsan.
13. Orang Pintar
Abstraksi
Di sebuah kelas, suasana belajar berlangsung dengan aktif.
Orientasi
Guru sedang memberikan pelajaran sambil berdiskusi dengan murid-muridnya.
Krisis
Guru: “Anak-anak, menurut kalian apa tanda orang itu pintar?”
Alfi: “Kalau rajin membaca, Bu.”
Guru: “Bagus, ada jawaban lain?”
Bene: “Kalau rajin menulis juga, Bu.”
Guru: “Benar sekali, Bene.”
Alfi: “Tapi ada juga yang pintar karena suka menyontek, Bu.”
Bene: “Iya, Bu. Kalau kita tidak meniru, kadang susah. Misalnya bikin pesawat kertas, pasti harus menyontek caranya dulu. Betul, kan Bu?”
Reaksi
Guru: “Hmm, iya juga ya, Ben.” Bene: “Asik! Jadi hari ini kita boleh menyontek biar tambah pintar, teman-teman!”
Koda
Guru pun hanya bisa terdiam kebingungan.
14. Kursi
Abstraksi
Suatu hari, dua pemuda bernama Yusuf dan Ridwan sedang ngobrol santai di sebuah warung kopi.
Orientasi
Ridwan: “Cup, aku ada tebakan.” Yusuf: “Apa tuh, Wan?”
Krisis
Ridwan: “Kursi apa yang bisa bikin orang lupa ingatan?”
Yusuf: “Kursi goyang! Soalnya kan kalau duduk di situ suka ngantuk kan, terus ketiduran. Jadi lupa mau ngapain.”
Ridwan: sambil ketawa “Hehe, masuk akal sih! Tapi salah, Cup.”
Reaksi
Yusuf: “Lah terus jawabannya apa?” Ridwan: “Kursi jabatan!” Yusuf: “Hah, kok gitu?”
Koda
Ridwan: “Ya coba lihat pejabat. Waktu sebelum dilantik janji manisnya banyak. Begitu udah duduk di kursi jabatan, eh malah kayak lupa sama janji-janjinya.” Yusuf: “Wah, bener juga!”
15. Selembar Uang Rp 50.000
Abstraksi
Pada sore hari, seorang suami pulang ke rumah setelah seharian bekerja keras sebagai kuli bangunan.
Orientasi
Dengan wajah lelah tapi tetap tersenyum, ia disambut istri dan dua anaknya yang masih kecil berusia 8 dan 6 tahun.
Krisis
Sang suami lalu memberikan uang Rp50.000 kepada istrinya di depan anak-anak. Ia berkata, “Dik, ini uang untuk belanja sebulan, semoga cukup ya.”
Sang istri menjawab, “Iya mas, ini malah cukup banget kok untuk belanja setahun!” Kaget, suami pun bertanya, “Lho, kok bisa? Belanja apa saja yang bisa tahan setahun?” Istrinya tersenyum lalu menjawab, “Ya belinya kalender, mas!”
Reaksi
Mendengar itu, suami langsung terdiam, sementara kedua anaknya tertawa terbahak-bahak.
Koda
Akhirnya mereka masuk kembali ke rumah dengan suasana penuh canda.
Halaman:
