6 Daftar Nama Pahlawan sebelum Tahun 1908, Siapa Saja?
Untuk ulasan dan penjelasan nama-nama pahlawan sebelum tahun 1908 dapat kamu simak secara saksama pada artikel terbaru Mamikos berikut ini.
Selain itu, kelakukan Hindia Belanda juga telah menyengsarakan rakyat dengan memberlakukan pajak tinggi terhadap masyarakat saat itu.
Mereka juga tidak menghargai adat istiadat setempat sehingga semakin menambah kemarahan Diponegoro. Pangeran Diponegoro kemudian menentang Hindia Belanda secara terang-terangan.
Keputusannya mendapatkan simpati serta dukungan dari rakyat. Atas nasihat dari sang paman. Diponegoro akhirnya meninggalkan Tegalrejo dan mendirikan markas di Gua Selarong.
Kemudian tercetuslah perlawanan, kala itu Diponegoro menyatakan perlawanan tersebut adalah perang sabil (peperangan melawan kafir).
Peperangan tersebut kemudian dikenal dengan Perang Diponegoro yang berlangsung selama 5 tahun, dari 1825 sampai 1830.
Namun pada tanggal 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Hindia Belanda dan diasingkan ke Semarang. Ia menghabiskan sisa hidupnya di sana dan tutup usia pada tanggal 8 Januari 1855.
2. Sultan Hasanuddin (1631 – 1670)
Nama pahlawan sebelum tahun 1908 berikutnya adalah Sultan Hasanuddin. Mungkin kamu pernah mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.
Dari tokoh inilah nama bandara tersebut terinspirasi. Orang-orang Belanda menjulukinya Ayam Jantan dari Timur.
Nama lahirnya adalah Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Sultan Hasanuddin dilahirkan di Makassar tepatnya tanggal 12 Januari 1631.
Nama Sultan Hasanuddin sendiri merupakan gelar kesultanan setelah ia naik tahta sebagai Sultan Gowa ke-16. Masa pemerintahannya di Kerajaan Gowa berlangsung dari 1653-1669.
Sultan Hasanuddin merupakan putra Sultan Gowa ke-15 yakni Sultan Malikus Said. Sedangkan ibunya adalah I Sabbe To’mo Lakuntu.
Sang Sultan memiliki jiwa kepemimpinan tinggi sejak kecil. Ini tidak lain karena didikan dari sang ayah yang sering mengajaknya pada berbagai pertemuan penting.
Selain itu, bimbingan juga diperolehnya dari Mangkubumi Kesultanan Gowa bernama Karaeng Pattigalloang. Ia naik tahta saat usianya masih sangat muda, yaitu awal 20-an.
Kedatangan VOC Belanda yang berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku pada pertengahan abad ke-17 membuat sang Sultan murka.
Penetapan harga yang rendah tentu saja membuat rakyat menderita. Sultan Hasanuddin menyeru Belanda agar berdagang secara adil bersama-sama, namun mereka menolaknya.
Inilah yang membuat sang Sultan melakukan perlawanan terhadap VOC Belanda. VOC yang menyerang Makassar pada tahun 1660 belum bisa menundukkan Gowa.
Akan tetapi serangan terus dilancarkan oleh VOC Belanda. Pecahlah perlawanan di mana-mana dan akhirnya membuat Kesultanan Gowa semakin melemah.
Kondisi ini membuat Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya. Sultan Hasanuddin tutup usia pada 12 Juni 1670 akibat menderita penyakit ari-ari.
Halaman:
