6 Daftar Nama Pahlawan sebelum Tahun 1908, Siapa Saja?
Untuk ulasan dan penjelasan nama-nama pahlawan sebelum tahun 1908 dapat kamu simak secara saksama pada artikel terbaru Mamikos berikut ini.
Peperangan tersebut terjadi karena adanya perselisihan kaum Padri dengan Adat. Kaum Padri berkehendak menerapkan syariat Islam yang berpedoman pada Al Quran dan hadits.
Mereka mengajak kaum Adat untuk meninggalkan sebagian kebiasaan yang dinilai tidak sesuai syariat Islam. Sebelum pecahnya peperangan, terdapat beberapa perundingan.
Namun, perundingan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan dan terjadilah perang Padri. Fatalnya, kaum Adat bekerja sama dengan Belanda untuk melawan kaum Padri pada 1821.
Akan tetapi keterlibatan Belanda pada perang tersebut pastinya merugikan rakyat baik kaum Adat maupun Padri.
Akhirnya pada 1833, kaum Adat dan Padri bersatu melawan penjajah Belanda. Bersatunya kedua kaum tersebut melahirkan Plakat Puncak Pato.
Pertempuran terus dilakukan, tetapi serangan Belanda pada akhirnya membuat Tuanku Imam Bonjol menyerah pada Oktober 1837.
Tuanku Imam Bonjol diasingkan ke Cianjur kemudian dipindahkan ke Lotta, Minahasa. Di sanalah Tuanku Imam Bonjol wafat tepatnya pada 8 November 1864.
5. Martha Christina Tiahahu (1800 – 1818)
Martha Christina Tiahahu merupakan nama pahlawan sebelum 1908 yang berasal dari tanah Maluku. Martha dilahirkan pada tanggal 4 Januari 1800.
Terlahir dari ayah seorang Kapitan bernama Paulus Tiahahu, martha dikenal sebagai sosok pemberani sejak belia.
Keberaniannya diwariskan dari sang ayah yang juga bertempur bersama Thomas Mattulessy melawan Belanda dalam perang Pattimura pada tahun 1817.
Ketika menginjak usia 17 tahun, Martha juga ikut turun ke medan pertempuran bersama para tentara rakyat.
Sejak remaja, gadis berambut panjang itu selalu mendampingi sang ayah bertempur melawan penjajah baik itu di Pulau Nusalaut (tanah kelahirannya) maupun Pulau Saparua.
Pada 10 Oktober 1817, Martha bersama para raja dan patih bertempur di Pulau Saparua. Karena kehabisan persenjataan, mereka harus mundur ke pegunungan Ulath-Ouw.
Sehari setelahnya, Belanda bergerak ke Ulath untuk menyerang pasukan rakyat. Namun dengan persenjataan terbatas, rakyat berhasil memukul mundur Belanda.
Tanggal 12 Oktober pertempuran kembali pecah. Belanda melakukan serangan umum. Ini membuat pasukan rakyat mundur hingga ke hutan untuk bertahan.
Martha dan tokoh pejuang penting lainnya ditangkap dan ditahan di kapal Eversten. Para tahanan dijatuhi hukuman mati, tetapi Martha dibebaskan karena masih sangat muda.
Namun, ayahnya tetap dijatuhi hukuman mati. Sepeninggal sang ayah, Martha masuk ke hutan dan bertahan hidup di sana.
Namun ia kembali ditangkap di tahun yang sama, kemudian akan diasingkan ke Jawa menggunakan kapal Eversten.
Kesehatannya terus memburuk selama berada di kapal. Sehingga, pada 2 Januari 1818 srikandi pejuang ini meninggal dunia saat usianya hampir menginjak 18 tahun.
Halaman:

