Contoh Kearifan Lokal Masyarakat Lampung yang Perlu Kamu Ketahui dan Keterangannya
Kearifan Lokal Lampung sangat menarik untuk diketahui terutama untuk menjaga kelestariannya. Yuk, simak beberapa contoh kearifan lokal yang berkembang di masyarakat Lampung berikut!
2. Kearifan Lokal Lampung: Begawi

Begawi adalah tradisi pernikahan adat Lampung yang bertujuan memberikan gelar adat kepada pasangan pengantin sebagai bentuk penghormatan terhadap adat istiadat dan tradisi suku Lampung.
Tradisi Begawi melibatkan pelaksanaan oleh kelompok masyarakat adat pepadun, yang memiliki peran penting dalam menjalankan upacara ini.
Singgasana, sebuah kursi khusus yang terbuat dari kayu, menjadi simbol status sosial dalam keluarga dan tempat di mana pengantin akan menerima gelar adat mereka.
Begawi dilakukan sebagai sarana untuk meningkatkan status sosial seseorang, dengan gelar-gelar seperti suttan, pangeran, rajo, ratu, dan batin yang akan diberikan kepada pengantin.
Pelaksanaan Begawi bukanlah hal yang singkat, melainkan berlangsung selama 7 hari 7 malam.
Selama periode ini, berbagai tahapan dan ritual dijalani, termasuk lamaran, sidang marga, pemotongan kerbau, tarian khas Lampung, serta pemberian makanan dan uang oleh keluarga dan kerabat.
Tradisi Begawi mencerminkan sistem kekerabatan masyarakat Lampung yang bersifat patrilineal, di mana pengakuan status sosial sangat penting.
Selain itu, Begawi juga menunjukkan komitmen masyarakat Lampung dalam mempertahankan budaya dan tradisi mereka yang beragam.
Dalam konteks pernikahan adat Lampung, Begawi bukan hanya sekadar sebuah upacara, melainkan simbol kebersamaan, syukur, dan penghargaan terhadap warisan kearifan lokal Lampung.
Namun, karena biaya penyelenggaraannya yang mencapai ratusan juta, kearifan lokal ini mulai menghilang dari Lampung.
3. Kearifan Lokal Lampung: Tayuhan

Tayuhan atau nayuh adalah sebuah upacara adat yang biasanya diselenggarakan dalam berbagai acara seperti pernikahan, khitanan, pesta panen, perayaan mendirikan rumah, atau pemberian gelar adat.
Saat pelaksanaan nayuh, acara ini disertai dengan pertunjukan menggunakan piranti adat tradisional, baik yang diletakkan di atas panggung maupun yang diarak-arakan.
Pemilihan piranti adat ini sesuai dengan status atau gelar adat yang dimiliki oleh individu yang bersangkutan.
Tradisi nayuh juga memiliki makna filosofis yang dalam, yaitu semangat gotong royong.
Dalam persiapan nayuh, keluarga besar atau masyarakat setempat akan bergotong royong untuk membantu dalam menyiapkan segala yang diperlukan, seperti peralatan dan bahan-bahan.
Gotong royong ini tidak hanya terbatas pada persiapan tayuhan, melainkan juga meliputi berbagai aktivitas lainnya seperti tandang bulung, nyani buak, nyekhelai siwok begulai dan sebagainya.
Keluarga besar tidak hanya memberikan bantuan dalam bentuk persiapan tayuhan saja, tetapi juga memberikan dukungan dalam bentuk bahan mentah atau makanan yang sudah siap saji.
Hal ini menunjukkan semangat solidaritas dan kebersamaan yang mendalam dalam menjaga dan merayakan tradisi nayuh.
Halaman:

