Membongkar Konteks ‘Nikmatnya’ Kehidupan Anak Rantau
Anak rantau adalah seseorang yang berani menghadapi tantangan dan rintangan secara fisik, mental, dan emosional.
Kekurangan inilah yang tidak pernah diperhatikan oleh sebagian masyarakat karena terdapat stigma yang mencela, yaitu “rantau = ‘kehidupan baru’”. ‘Kehidupan baru’ terkadang menjadi definisi yang cukup problematis serta argumentasi yang cukup membangkang nilai moralitas.
Doktrinasi ‘kehidupan baru’ inilah yang akan membuat sosok individu lupa dengan perjuangan dan pengorbanan diri ketika memutuskan untuk merantau yang akibatnya dalih tersebut dianggap sebagai kenikmatan manusia yang tidak ada duanya.
Perubahan ‘kehidupan baru’ inilah yang harus diperbaiki agar pendengaran masyarakat tidak lagi menjadikan rantau sebagai pelarian secara naluriah.
Rantau tidak serta merta berjalan mulus namun tak juga buruk. Adanya kesempatan dalam merantau harus selalu digunakan sewajarnya karena menginjak lingkungan dan menjadi diri yang baru tentu perlu proses yang cukup panjang.
Walaupun kini berpijak di tempat yang berbeda, banyak sekali cara agar kita dapat mengaplikasikan kunci dasar hidup untuk menjadi anak rantau yang sesungguhnya, yakni dengan meyakinkan diri bahwa diberikan kepercayaan sebagai anak rantau adalah kesempatan besar, memperelok kualitas diri secara perlahan, mengikuti kegiatan organisasi dan kepanitiaan lingkungan luar/dalam kampus sekaligus mencari koneksi, dan paling penting jika keadaan mental kita sedang surut, jangan lupa untuk istirahat yang cukup dan melakukan kegiatan yang bisa membuat diri kamu bangkit kemudian.
Seberapa besar keyakinan diri kamu untuk menghuni dan mengafirmasi diri kamu ketika ingin merantau, ada sebaiknya risiko yang harus kamu pikirkan serta tindakan preventif jika kamu terlepas kendali yang mana realita alur perantauan menyiksa kamu secara berjenjang.
Oleh karena itu, mari kita bijaksana dalam mengimplementasikannya agar pondasi kamu tidak roboh karena hiruk pikuknya kehidupan anak rantau sangatlah didominasi oleh pergerakan dinamis.
Kontributor: Englandiva Akyla Maulita Hartono
Halaman:

