Rangkuman Sejarah Kerajaan Pajajaran, Sumber, Letak, Raja, Sampai Masa Keruntuhanya

Rangkuman Sejarah Kerajaan Pajajaran, Sumber, Letak, Raja, Sampai Masa Keruntuhanya – Ketika duduk di bangku sekolah, tentunya kamu pernah mendengar tentang kerajaan Pajajaran bukan?

Kerajaan
Hindu yang terletak di Pakuan atau yang sekarang lebih dikenal dengan Bogor
ini, memiliki banyak sekali sejarah penting.

Di
artikel kali ini, Mamikos sudah rangkumkan sejarah kerajaan Pajajaran hingga
masa keruntuhannya. Yuk, simak artikelnya hingga bagian akhir.

Berikut Rangkuman Sejarah Kerajaan Pajajaran Lengkap

goodnewsfromindonesia.id

Kerajaan Pajajaran sejatinya adalah kerajaan di Nusantara yang terletak di Jawa Barat.

Kerajaan ini memiliki sejarah yang panjang saat berdiri dan pada masa kejayaanya hingga meninggalkan jejak peninggalan yang bisa kita lihat hingga sekarang ini.

ejayaanya hingga meninggalkan jejak peninggalan yang bisa kita lihat hingga sekarang ini.

Dikenal
juga dengan nama Kerajaan Sunda atau Negeri Sunda (Pasundan), letak kerajaan
Pajajaran di masa lampau bukanlah terletak di Bandung, melainkan di Pakuan (Bogor).

Sejarah kerajaan Pajajaran dimulai pada 932 Masehi di Tatar Pasundan, wilayah barat Pulau Jawa.

Mari simak pembahasan lengkap mengenai sejarah kerajaan Pajajaran beserta daftar raja dan masa kejayaannya dalam artikel ini.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Pajajaran

Kerajaan Pajajaran atau yang juga populer dengan nama kerajaan Sunda merupakan kerajaan Hindu yang didirikan oleh Sri Jayabhupati pada 923 Masehi.

Menurut
sejarahnya, kerajaan ini terletak di Tatar Pasundan, wilayah barat pulau Jawa,
yang sekarang bagian dari provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga
sebagian wilayah barat Provinsi Jawa Tengah.

Letak rincinya lagi, kerajaan Pajajaran berada diantara Sungai Besar dengan Sungai Tangerang yang sekarang lebih dikenal dengan Ciliwung dan Cisadane.

Lokasi kerajaan Pajajaran berada di dataran tinggi yang satu sisi menghadap ke arah Gunung Pangrango dan Tebing Ciliwung.

Kerajaan
Pajajaran merupakan bawahan kerajaan Tarumanegara yang menjadi salah satu kerajaa
tertua di Nusantara yang menganut agama Hindu beraliran Wisnu.

Nama
Pajajaran atau Pakuan sendiri pada dasarnya tidak ada yang mengungkapkan
sebagai nama kerajaan secara eksplisit. Bahkan, kerajaan ini diyakini sebagai
kerajaa Sunda yang memiliki nama ibu kota Pajajaran.

Asal
mula kerajaan ini sebenarnya berasal dari kondisi Raja Tarumanegara terakhir
yaitu Sri Maharaja Liggamarwan yang menikah dengan Dewi Ganggasari dan
Indraprahasta.

Kemudian,
sang raja memiliki putri yang bernama Dewi Manasih yang menikah dengan
Tarusbawa dan Sobakancana menikah dengan Dapunta Hyang Sri Jayanasa.

Sejarah
Kerajaan Pajajaran dimulai ketika Sri Maharaja liggawarman menyerahkan
kekuasaan Tarumanegara kepada menantunya bernama Tarusbawa.

Kondisi
tersebut menyebabkan penguasa Galuh, yaitu Wretikandayun marah dan memberontak.
Hingga akhirnya Wretikandrayun mendirikan kerajaan Galuh secara mandiri pada
tahun 612 masehi.

Kemudian,
sebagai penerus kerajaan Tarumanegara, Tarusbawa memindahkan kekuasaannya ke
Sunda. Tarusbawa memindahkan kerajaan tersebut ke hulu Sungai Cipakancilan yang
berdekatan dengan Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane.

Nah,
kondisi sungai yang berjejer dan berdekatan tersebutlah yang menyebabkan
Tarusbawa menamai kerajaan tersebut dengan nama Kerajaan Pajajaran.

Penobatan
Tarusbawa sebagai raja sekaligus pendiri Kerajaan Pajajaran dilakukan pada
tahun 519 saka atau sekitar 18 Mei 669 Masehi. Momen ini juag secara tidak
langsung menjadikan kerajaan Pajajaran resmi berpisah dengan Kerajaan Galuh.

Kerajaan
Pajajaran menganut sistem pemerintahan feudal, dimana pemimpin kerajaan adalah
prabu atau raja. Selama masa berdirinya Pajajaran, kerajaan ini dipimpin oleh 6
raja, di antaranya adalah:

  • Sri Baduga Maharaja/Prabu
    Siliwangi (1482 – 1521)
  • Surawisesa (1521–1535)
  • Ratu Dewata (1535–1543)
  • Ratu Sakti (1543–1551)
  • Ratu Nilakendra
    (1551–1567)

Kelimanya adalah para raja yang menduduki Kerajaan Pajajaran di daerah Pakuan.

Pada masa pemerintah Ratu Nilakendra, kerajaan Pajajaran yang berpusat di Pakuan diserang oleh Sultan Hasanuddin dan anaknya, Maulana Yusuf.

Akhirnya, kerajaan Pajajaran memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Pandeglang. Saatu itu, raja Pajajaran di daerah Pandeglang adalah Raga Mulya (1567–1579) atau Prabu Surya Kencana.

Masa Kejayaan Kerajaan Pajajaran

Masa
kejayaan kerajaan Pajajaran dimulai pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja
atau dikenal sebagai Prabu Siliwangi yang memerintah pada 1482-1521 Masehi.

Pada masa pemerintahannya, kerajaan Pajajaran dapat mencapai kehidupan yang makmur, tentram dan teratur.

Bahkan, Prabu Siliwangi pernah membebaskan rakyatnya dari kewajiban membayar empat macam pajak.

Prabu Silingawi turut menghadirkan pembangunan fisik dengan baik untuk memudahkan kehidupan rakyat dan negara.

Sang raja membangun jalan menuju ibukota Pakuan dan Wanagiri, telaga besar, tempat hiburan dan kapuntren.

Tak hanya dikenal baik hati, Prabu Silingawi juga disebut menjadi pemimpin yang memegang teguh asas kesetaraan dalam kehidupan sosial.

Oleh karena itu, kehidupan pada masyarakat di sekitar Kerajaan Pajajaran sangat tentram di masa pemerintahannya.

Bahkan, Prabu Silingawi memperkuat masa pemerintahannya dengan membentuk angkatan militer yang tangguh.

Menurut sumber Portugis, Kerajaan Pajajaran diperkirakan memiliki 100.000 prajurit dan 40 ekor pasukan gajah.

Prabu Silingawi juga begitu mencurahkan perhatian pada pembinaan agama.

Terdapat Desa Perdikan yang dapat digunakan untuk pendeta dalam menghadirkan kegiatan keagamaan sebagai penuntun kehidupan rakyat yang lebih baik.

Runtuhnya Kerajaan Pajajaran

Sayangnya,
masa kejayaan kerajaan Pajajaran tidak bisa bertahan hingga akhir. Pasca
serangan Cirebon, kekuatan Pajajaran mulai melemah dan hanya tersisa 1000
pasukan yang setia pada Surawisesa.

Kehadiran
kerajaan baru di wilayah Sunda yang berbasis Islam, yaitu Kesultanan Banten
membuat Pajajaran terpontang-panting.

Kerajaan
Pajajaran runtuh pada 1579 akibat serangan dari kerajaan Sunda lainnya, yaitu
Kesultanan Banten.

Runtuhnya
kerajaan Pajajaran ditandai dengan dibawanya singgasana raja, yakni Palangka
Sriman Sriwacana dari Pakuan ke Surasowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.

Batu
berukuran 200 x 160 x 20 cm itu diboyong karena tradisi politik agar di Pakuan tidak
lagi menobatkan raja baru.

Hal
ini juga menandai bahwa Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Pajajaran yang
sah karena buyut perempuannya adalah putri Sri Baduga Maharaja.

Setelah kerajaan Pajajaran runtuh, diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan keraton lalu menetap di daerah Lebak.

Mereka menetapkan tata cara kehidupan lama yang ketat dan sekarang dikenal sebagai orang Baduy.

Fakta Keruntuhan Kerajaan Pajajaran dan Penyebabnya

Runtuhnya
kerajaan Pajajaran terjadi karena beberapa hal. Berikut ini adalah beberapa
fakta mengenai keruntuhan kerajaan Pajajaran

1.
Penyebab Utama

Penyebab
utama dari keruntuhan Kerajaan Pajajaran adalah mundurnya Prabu Siliwangi dari
posisi raja. Mundurnya Prabu Siliwangi membuat kekuatan kerajaan menjadi goyah.

Di
samping itu, raja penggantinya yaitu Surawisesa menghadapi tantangan besar
dengan hadirnya dua kerajaan Islam dari Cirebon dan Demak untuk memperebutkan
kekuasaan.

2.
Kekalahan Perang Melawan Kerajaan Islam

Akibat
dari perebutan kekuasaan dengan Kesultanan Cirebon dan Demam, terjadilah perang
yang mengakibatkan Raja Surawisesa memberikan sebagian kekuasaannya di Pantai
Jawa bagian utara.

3.
Terambilnya Wilayah Kekuasaan Pajajaran

Pada
akhirnya, mulai tahun 1528 M kerajaan Cirebon yang dibantu Demak mampu memperoleh
satu per satu dari kekuasaan Pajajaran. Mulai dari Citarum, Sumedang, hingga
Galuh.

Meskipun
Kerajaan Cirebon cenderung lemah, kekuatan yang diberikan oleh Demak membantu
kerajaan tersebut bangkit secara perlahan-lahan.

4.
Terjadinya Pelantikan Pangeran Santri

Wilayah
Sumedang resmi dikuasai oleh Cirebon dengan dilantiknya Pangeran Santri, buyut
dari kakak ipar raja Cirebon, yaitu Syarif Hidayatullah. Pangeran Santri menjadi
Bupati Sumedang pada tahun 1530.

5.
Perdamaian antara Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Cirebon

Kerajaan
Pajajaran dan kerajaan Cirebon yang saling memperebutkan kekuasaan tersebut
memutuskan untuk berdamai pada tahun 1531 Masehi dan saling mengakui keberadaan
masing-masing.

Perjanjian
ini ditandatangani oleh kedua belah pihak dan Surawisesa mengambil kesempatan
untuk memperbaiki kerajaannya.

6.
Kekayaan Maritim Pajajaran Menurun

Pasca terambil alihnya wilayah utara Pantai Jawa, kekayaan Pajajaran di bidang maritim mulai menurun.

Mengingat, wilayah utara Pantai Jawa tersebut merupakan pusat industri maritim kerajaan.

7.
Keruntuhan di Tahun 1579

Keruntuhan kerajaan Pajajaran benar-benar terjadi pada tahun 1579. Setelah mendapat serangan Cirebon sebelumnya, kekuatan Pajajaran mulai melemah dan hanya tersisa 1000 pasukan yang setia pada Surawisesa.

Kehadiran
kerajaan baru berbasis Islam di wilayah Sunda, yaitu Kesultanan Banten membuat
Pajajaran terpontang-panting.

Dipimpin
oleh Maulana Yusuf, Kesultanan Banten memang sengaja mengincar Pajajaran karena
bercorak Hindu-Budha dan lokasi keduanya yang saling berbatasan.

Peperangan
yang terjadi antara Pajajaran dan Kesultanan Banten menyebabkan keberadaan
Pajajaran hilang tanpa sisa pada tahun 1579 Masehi.

Para bangsawan yang sebelumnya memegang kepercayaan kepada kerajaan Pajajaran pun akhirnya perlahan-lahan mulai menganut agama Islam.

Peninggalan
Kerajaan Pajajaran

Nah,
berikut adalah beberapa peninggalan dari kerajaan Pajajaran yang perlu kamu
ketahui.

1. Prasasti Perjanjian Sunda Portugal

https://wikimedia.org/

Merupakan
prasasti berbentuk tugu batu, Prasasti Perjanjian Sunda Portugis ditemukan pada
tahun 1918 di Batavia, yang kini menjadi DKI Jakarta.

Prasasti
ini merupakan prasasti yang menjadi tanda perjanjian antara Kerajaan Sunda
dengan Kerajaan Portugis yang dibuat oleh utusan dagang Kerajaan Portugis dari
Malaka.

2.
Prasasti Cikapundung

https://www.kompasiana.com/karenabersepedaitubaik9690

Prasasti Cikapundung juga merupakan salah satu peninggalan dari kerajaan Pajajaran.

Prasasti ini ditemukan di Sungai Cikapundung, Kota Bandung, pada tanggal 8 Oktober 2010.

Berdasarkan
aksara Sunda kuno yang tertera, prasasti dengn panjang 178 cm, lebar 80 cm, dan
tinggi 55 cm ini berasal dari abad ke-14.

3.
Prasasti Pasir Datar

Salah
satu peninggalan Kerajaan Pajajaran ini ditemukan pada tahun 1872 di perkebunan
kopi daerah Pasir Datar, Desa Cisande, Kabupaten Sukabumi.

Karena ditemukan di daerah Pasir Datar, maka prasasti yang terbuat dari material batu alam ini diberi nama Prasasti Pasir Datar.

Prasasti ini disimpan di Museum Nasional. Namun, prasasti ini masih belum dikaji isinya, sehingga belum dapat ditemukan di internet.

4.
Prasasti Huludayeuh

https://kompas.com/

Prasasti
Huludayeuh juga menjadi salah satu peninggalan kerajaan Pajajaran yang terletak
di Kampung Huludayeuh, Desa Cikalahang, Kabupaten Cirebon.

Ditemukan
pada tahun 1991, isi Prasasti Huludayeuh terdiri dari 11 baris tulisan dengan
aksara Sunda kuno yang mengisahkan Sri Maharaja Ratu Haji di Pakwan Sya Sang
Ratu Dewata dan berkaitan usaha untuk membuat makmur negerinya.

Nah,
itulah rangkuman sejarah kerajaan Pajajaran yang bisa Mamikos share
kepada kalian mulai dari awal terbentuk hingga masa keruntuhannya.

Keberadaan kerajaan Pajajaran dan sejarah pendiriannya rupanya tercantum dalam berbagai sumber kuno.

Menurut sejarah kerajaan Pajajaran, kerajaan Pajajaran menjadi kerajaan Hindu yang masyhur sebab kemunduran Kerajaan Majapahit di Jawa Timur.

Buat kamu yang ingin mengulik lebih banyak informasi seputar sejarah lainnya, kamu bisa kunjungi situs blog Mamikos dan temukan informasinya di sana.


Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:

Kost Dekat UGM Jogja

Kost Dekat UNPAD Jatinangor

Kost Dekat UNDIP Semarang

Kost Dekat UI Depok

Kost Dekat UB Malang

Kost Dekat Unnes Semarang

Kost Dekat UMY Jogja

Kost Dekat UNY Jogja

Kost Dekat UNS Solo

Kost Dekat ITB Bandung

Kost Dekat UMS Solo

Kost Dekat ITS Surabaya

Kost Dekat Unesa Surabaya

Kost Dekat UNAIR Surabaya

Kost Dekat UIN Jakarta