Biografi Bung Tomo Singkat dan Lengkap tentang Kehidupan dan Perjuangan yang Menginspirasi
Bung Tomo adalah salah satu tokoh pahlawan yang bisa kita teladani. Simak biografi lengkapnya di bawah ini.
4. Reorientasi
Reorientasi merupakan bagian yang berisi kesimpulan terkait rangkaian peristiwa yang telah diceritakan sebelumnya.
Biasanya, bagian reorientasi juga menyertakan komentar valuatif untuk pembacanya. Pada bagian ini bersifat opsional, artinya, bisa saja tidak ditemukan dalam suatu teks biografi.
Biografi Bung Tomo dan Strukturnya
Nah, di bawah ini adalah contoh teks biografi Bung Tomo dan strukturnya yang Mamikos kutip dari laman detik.com.
Judul
Biografi Bung Tomo, Pengobar Semangat Tempur di Surabaya
Orientasi
Bung Tomo lahir pada 3 Oktober 1920 di Kampung Blauran, Surabaya dengan nama asli Sutomo. Bung Tomo merupakan anak sulung dari pasangan suami istri Kartawan Tjiptowidjojo dan Subastita.
Ayahnya adalah seorang priayi golongan menengah yang pernah bekerja sebagai staf perusahaan swasta, asisten kantor pajak, pegawai perusahaan ekspor-impor Belanda, hingga pegawai pemerintah.
Sementara ibunya merupakan seorang perempuan berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Bung Tomo memiliki 5 adik, yakni Sulastri, Suntari, Gatot Suprapto, Subastuti, dan Hartini.
Pada 19 Juni 1947, Bung Tomo menikah dengan seorang mantan perawat Palang Merah Indonesia (PMI) yang bernama Sulistina. Pasangan ini dikaruniai empat anak, yakni Titing Sulistami, Bambang Sulistomo, Sri Sulistami, dan Ratna Sulistami.
Peristiwa atau Masalah
Mengutip dari buku Bung Tomo: Hidup dan Mati Pengobar Semangat Tempur 10 November karya Abdul Waid, pendidikan Bung Tomo dimulai dari Sekolah Rakyat (SR) atau Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Surabaya.
Setelah itu, Bung Tomo melanjutkan pendidikan ke sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).
Di sana, Bung Tomo belajar beragam mata pelajaran seperti matematika, ilmu sosial, sejarah hingga bahasa Jerman, Prancis, dan Inggris. Sikap kritis dan keberanian Bung Tomo juga semakin bertambah.
Namun, Bung Tomo terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO saat berusia 12 tahun.
Kondisi krisis ekonomi dunia membuat semua aspek pembangunan terhambat, termasuk aspek pendidikan. Bung Tomo pun sibuk bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.
Keluarga Bung Tomo sangat mementingkan pendidikan. Karena itu, Bung Tomo kemudian dimasukkan ke Hoogere Burgerschool (HBS).
Halaman:



