Advertisement
Source : Canva/@Putra Roja

Biografi Ki Hadjar Dewantara Singkat dari Lahir hingga Wafat Lengkap

Selain sebagai Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei juga merupakan hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Siapakah beliau? Simak biografinya di artikel ini.

15 Januari 2024 Lintang Filia

Melalui tulisannya, Ki Hadjar Dewantara secara berani melontarkan kritik sosial-politik terhadap penjajah Belanda, memperjuangkan hak-hak kaum bumiputera, dan menggalang semangat perlawanan anti kolonial.

Gaya penulisannya yang komunikatif, tajam, dan tegas membuatnya diakui sebagai salah satu penulis terkemuka pada masa itu.

Karyanya mampu membangkitkan semangat anti kolonial di kalangan pembaca dan membantu membentuk pandangan masyarakat terhadap perjuangan kemerdekaan.

Selain menjadi wartawan, biografi Ki Hadjar Dewantara juga mencatat beliau aktif di berbagai organisasi sosial dan politik.

Pada tahun 1908, beliau terlibat secara aktif di seksi propaganda organisasi Boedi Oetomo.

Perannya dalam organisasi ini adalah menyosialisasikan dan membangkitkan kesadaran masyarakat Indonesia tentang pentingnya kesatuan dan persatuan dalam membangun bangsa dan negara.

Biografi Kapitan Pattimura Lengkap, Sejarah Perjuangan, Pendidikan, Hingga Wafatnya

Pergerakan Ki Hadjar Dewantara untuk Indonesia

Biografi Ki Hadjar Dewantara selanjutnya akan membahas tentang pergerakan beliau untuk mendukung kemerdekaan Indonesia, di antaranya:

1. Indische Partij

Bersama dengan Danudirdja Setyabudhi alias Douwes Dekker dan Cipto Mangoenkoesoemo, Ki Hadjar Dewantara terlibat dalam pendirian Indische Partij pada tanggal 25 Desember 1912.

Partai politik ini menjadi yang pertama dengan aliran nasionalisme di Indonesia dan memiliki tujuan utama untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Namun, usaha mereka ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda yang khawatir bahwa partai ini dapat memicu tumbuhnya rasa nasionalisme di kalangan rakyat.

2. Komite Boemipoetra

Setelah penolakan terhadap status badan hukum Indische Partij, Ki Hadjar Dewantara turut serta dalam pembentukan Komite Boemipoetra pada November 1913.

Komite ini bertindak sebagai komite alternatif untuk merespons Komite Perayaan Seratus Tahun Kemerdekaan Bangsa yang diinisiasi oleh pemerintah kolonial.

Komite Boemipoetra mengkritik keras rencana perayaan pemerintah kolonial yang akan merayakan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari penjajahan Prancis.

Pemerintah hendak menggelar perayaan tersebut dengan menarik dana dari rakyat jajahannya, termasuk Indonesia, untuk membiayai pesta tersebut.

3. Kritik Melalui Tulisan

Dalam biografi Ki Hadjar Dewantara, beliau secara tegas melontarkan kritiknya melalui tulisan-tulisannya.

Termasuk yang berjudul “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” (Satu untuk semua, tetapi semua untuk satu juga) dan “Als Ik Eens Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda).

Akibat yang ditimbulkan oleh “Seandainya Aku Seorang Belanda” sangat besar. Pemerintah kolonial Belanda merespons dengan menjatuhkan hukuman tanpa proses pengadilan kepada Ki Hadjar Dewantara.

Beliau dihukum buang (hukum interning), yang berarti ditentukan untuk tinggal di tempat tertentu. Akhirnya, Ki Hadjar Dewantara dihukum buang ke Pulau Bangka.

Halaman:

Advertisement