Biografi Ki Hadjar Dewantara Singkat dari Lahir hingga Wafat Lengkap
Selain sebagai Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei juga merupakan hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Siapakah beliau? Simak biografinya di artikel ini.
4. Perguruan Taman Siswa
Ki Hadjar Dewantara kembali dari pengasingan dan pada bulan Juli 1922 mendirikan lembaga pendidikan yang bercorak nasional, yaitu National Onderwijs Instituut Taman Siswa (Perguruan Nasional Taman Siswa).
Perguruan ini didirikan dengan tujuan memberikan kesempatan pendidikan kepada para pribumi kelas bawah.
Sehingga, mereka dapat memperoleh hak pendidikan yang setara dengan para priyayi dan orang Belanda.
National Onderwijs Instituut Taman Siswa merubah metode pengajaran kolonial yang sebelumnya bersifat otoriter dengan pendidikan yang menekankan “perintah dan sanksi”.
Sebaliknya, Taman Siswa memperkenalkan pendekatan pamong yang lebih humanis dan sangat menekankan pada pendidikan tentang rasa kebangsaan.
Ki Hadjar Dewantara berusaha memberikan pemahaman kepada para peserta didik mengenai pentingnya mencintai bangsa dan tanah air, serta menginspirasi mereka untuk berjuang demi mencapai kemerdekaan.
Dalam membangun Taman Siswa, Ki Hadjar Dewantara menghadapi berbagai rintangan.
Pemerintah kolonial Belanda mencoba untuk membatasinya dengan menerbitkan ordonansi sekolah liar pada 1 Oktober 1932.
Meskipun demikian, semangat dan tekad Ki Hadjar Dewantara tidak tergoyahkan dan Taman Siswa tetap berupaya memberikan pendidikan yang merangsang semangat kebangsaan dan patriotisme.
Trilogi Ki Hadjar Dewantara
Dalam usahanya di bidang pendidikan Indonesia, pasti kamu pernah mendengar trilogi dari Ki Hadjar Dewantara.
Di antaranya adalah Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani.
Apa saja yang dimaksud dalam trilogi biografi Ki Hadjar Dewantara yang terkenal itu?
1. Ing Ngarsa Sung Tuladha
Ajaran Ing Ngarsa Sung Tuladha dari Ki Hadjar Dewantara mencerminkan konsep bahwa seorang pendidik tidak hanya bertugas sebagai orang yang memberikan instruksi atau mengajar.
Dalam konteks ini, frasa tersebut menekankan bahwa seorang pendidik harus menjadi contoh yang sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip yang diajarkan kepada peserta didik.
Ing Ngarsa Sung Tuladha menuntut agar pendidik tidak hanya mengajarkan materi pelajaran atau transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidik diharapkan mampu mencerminkan sikap, perilaku, emosi, dan nilai-nilai yang diinginkan, sehingga peserta didik dapat melihat dan merasakannya secara langsung.
Dengan kata lain, seorang pendidik yang mengaplikasikan Ing Ngarsa Sung Tuladha tidak hanya berbicara tentang nilai-nilai positif, tetapi juga menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai tersebut.
Selain itu, Ing Ngarsa Sung Tuladha menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya terletak pada penyampaian materi pelajaran.
Namun, juga pada pembentukan karakter dan moral peserta didik melalui teladan positif yang diberikan oleh pendidik.
Halaman:

