Advertisement
Source : Pexels/Mahmoud Yahyaoui

25 Contoh Cerita Hikayat Pendek beserta Nilai yang Terkandung di Dalamnya

Cerita hikayat biasanya penuh dengan nilai moral yang mendidik. Berikut beberapa contoh cerita hikayat pendek yang dilengkapi nilainya.

30 September 2025 Fajar Laksana

Nilai yang terkandung dalam Hikayat Enam Ekor Lembu yang Pintar Bicara:

Kisah tentang Abu Nawas memang tidak pernah habis untuk dibaca karena selalu menimbulkan rasa tertarik dan penasaran. Begitu juga dengan hikayat Enam Ekor Lembu yang Pintar Bicara.

Pesan moral yang terkandung dalam cerita hikayat tersebut adalah jangan suka menguji kecerdasan maupun kesabaran orang lain sekalipun kamu memiliki kedudukan yang tinggi.

Orang yang cerdas akan mengucapkan kata-kata yang baik karena segala ucapan adalah doa. 

Sebaliknya, orang yang bodoh akan mengucapkan hal yang tidak baik, sia-sia, dan tidak memiliki manfaat.

Selain itu, nilai moral lain yang terkandung di dalam hikayat ini adalah setiap perbuatan pasti ada balasannya.

Raja mengatakan bahwa ia akan memberikan hadiah berupa harta yang besar jika Abu Nawas berhasil menjawab teka-tekinya.

Sebaliknya, Raja akan membunuhnya jika Abu Nawas tidak mampu memberikan jawaban yang benar dan cerdas.

Ringkasan Singkat Cerita Hikayat Indera Bangsawan dan Pesan Moralnya

4. Contoh Cerita Hikayat Pendek tentang Pengembara

Dalam contoh cerita hikayat pendek ini, ada tiga pemuda yang senantiasa berkeliaran, yakni Ifan, Aldi, dan Sigit. 

Selama di perjalanan, tiga orang tersebut membawa makanan seperti susu, daging, nasi, serta buah-buahan. 

Saat semuanya sudah lelah, ketiga pemuda tersebut beristirahat dan menyantap makanan yang telah dibawanya.

Hingga suatu hari, mereka akhirnya tiba di hutan yang sangat lebat. Mereka merasakan lapar yang teramat sangat, namun tidak mampu makan karena konsumsinya telah habis.

Apalagi, di tempat tersebut mereka tidak bisa menemukan satupun manusia untuk dimintai pertolongan.

Saat semuanya tengah memikirkan pemecahan masalah, mereka akhirnya berhenti sejenak di pohon yang sangat rindang.

Lalu, Ifan pun berkata: “Apabila ada nasi, maka aku akan segera menyantapnya sendiri.” Sigit berujar, “Saat aku teramat lapar, maka aku mampu menyantap lebih dari sepuluh ayam goreng.”

Aldi berbeda dengan teman-temannya. Ia hanya mengharapkan semangkuk nasi dan lauk untuk memuaskan rasa laparnya.

Tiba-tiba, harapan mereka didengar oleh pohon magis. Pohon tersebut menjatuhkan tiga daunnya yang secara ajaib berubah menjadi makanan.

Sigit dan Ifan merasa sangat senang karena telah menemukan makanan. Tidak perlu menunggu lama, mereka akhirnya bergegas untuk memakan makanan tersebut.

Aldi sangat bersyukur bisa mengisi perutnya, walaupun tidak seperti teman-temannya yang penting cukup untuk mengobati laparnya.

Usai makan siang, Aldi memperhatikan kedua sahabatnya yang masih sibuk makan. Walaupun dia banyak makan, rupanya Ifan tidak dapat menghabiskan makanannya.

Nasi yang disantapnya tersebut bisa berbicara dan memintanya untuk segera dihabiskan.

Dikarenakan sudah tidak merasa mampu lagi makan, Ifan sudah tidak ingin menghabiskan makanannya. Akhirnya, nasi tersebut menjadi marah dan menggigit badan Ifan.

Hal serupa juga terjadi dengan Sigit karena ia juga tidak mampu menghabiskan makanan yang telah dimintanya.

Nyatanya, Sigit hanya mampu menyantap satu ayam goreng dan membuang sembilan ayam goreng lain ke semak-semak.

Sembilan ayam goreng yang sudah dibuang tersebut akhirnya menjadi ayam sungguhan dan berlari mengejar Sigit.

Saat Aldi melihat hal-hal yang menimpa sahabat-sahabatnya, ia merasa bahwa itu hanyalah sebuah mimpi.

Saat dia tersadar, rupanya kejadian itu bukan mimpi dan Aldi menemukan kedua sahabatnya mati. Aldi pun akhirnya melanjutkan perjalanan sendirian.

Nilai yang terkandung di dalam Hikayat Tentang Pengembara:

Nilai yang terkandung di dalam hikayat Pengembara adalah jangan bersikap tamak terhadap segala sesuatu, termasuk dalam menyantap makanan.

Ada banyak orang di luar sana yang masih merasa kesulitan dalam mencari makanan yang layak konsumsi dan bergizi.

Oleh karena itu, sudah selayaknya kita hidup sederhana dan bersikap apa adanya meskipun bisa berfoya-foya.

Selain itu, makanan yang terbuang sia-sia sejatinya juga ikut sedih ketika mereka tidak dapat dinikmati dengan benar. 

Karena itu, makanan yang dibuang di dalam hikayat ini digambarkan sebagai sesuatu yang mengerikan.

Ringkasan Cerita Hikayat Panji Semirang Singkat beserta Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik

5. Contoh Cerita Hikayat Pendek Amir

Contoh cerita hikayat pendek ini mengisahkan tentang kehidupan seorang saudagar kaya bernama Syah Alam. Ia memiliki seorang putra bernama Amir. 

Anak tersebut mempunyai banyak uang yang berasal dari pemberian ayahnya. Setiap harinya, dia menghabiskan uang tersebut. 

Dikarenakan sayang terhadap Amir, Syah Alam tidak memarahinya. Namun, Syah Alam hanya dapat mengelus dada. Semakin lama, Syah Alam menderita sakit. 

Hari terus berganti hingga penyakitnya semakin bertambah parah. Sudah banyak uang yang dihabiskan untuk berobat, namun penyakitnya tidak kunjung sembuh.

Hartanya sudah habis untuk berobat hingga mereka jatuh miskin. Penyakit yang diderita oleh Syah Alam semakin parah.

Sebelum akhir ajalnya, Syah Alam berpesan, ”Amir, Ayah tidak mampu lagi memberikan apa-apa kepadamu. Kau harus mampu membangun usaha seperti Ayah”.

“Jangan gunakan waktumu untuk hal-hal yang sia-sia. Bekerjalah dengan rajin dan pergilah dari rumah. Usahakan agar engkau terlihat oleh bulan dan jangan sampai terlihat oleh matahari.”

”Baik, Ayah. Aku akan menuruti nasihatmu itu.”

Beberapa menit sebelum Syah Amir meninggal, istrinya juga mengalami sakit parah yang membuatnya menghembuskan napas terakhir. Semenjak tragedi itu, Amir bertekad menemukan pekerjaan.

Ia selalu teringat dengan nasihat ayahnya supaya tidak terlihat matahari, namun terlihat oleh bulan. Oleh karena itu, ia senantiasa menggunakan payung saat pergi ke mana saja.

Suatu hari, Amir berjumpa dengan Nasrudin. Ia adalah seorang menteri yang cerdas. Nasarudin heran dengan pemuda yang senantiasa menggunakan payung tersebut. 

Nasarudin pun bertanya kenapa ia melakukan hal yang demikian. Amir mengisahkan tentang alasannya berbuat begitu. Namun, cerita tersebut justru ditertawakan oleh Nasarudin. 

Nasarudin berkata, “Begini, Amir. Maksud pesan ayahmu yang dulu bukan seperti itu. Namun, pergilah sebelum terbitnya matahari dan pulanglah sebelum malam hari.” 

“Dengan kata lain, maka tidak masalah jika engkau terkena sinar matahari”. Usai memberikan nasihat, Nasarudin pun memberikan uang pinjaman kepada Amir. 

Amir diminta untuk berdagang seperti halnya yang dilakukan ayahnya dulu. Amir kemudian berjualan aneka jenis makanan dan minuman mulai dari siang hingga malam. 

Pada siang harinya, Amir menjual makanan seperti nasi goreng dan nasi uduk. Saat malam hari, ia berjualan mie ayam dan martabak. Semakin hari, usaha Amir semakin sukses hingga menjadi saudagar kaya.

Nilai yang terkandung di dalam Hikayat Amir:

Nilai moral di dalam hikayat Amir adalah jangan membiasakan anak untuk hidup manja dan berfoya-foya. Hal ini akan sangat berdampak bagi mental si anak saat ia beranjak dewasa.

Meskipun memiliki harta yang melimpah, penting sekali memberikan edukasi agar anak bisa hidup lebih hemat dan tidak menyia-nyiakan uangnya.

Oleh karena itu, ketika sudah dewasa, sudah selayaknya seorang anak hidup mandiri dan bekerja dengan tulang punggungnya sendiri.

6. Contoh Cerita Hikayat Pendek Dua Abu

Contoh cerita rakyat hikayat singkat yang berikutnya adalah hikayat Dua Abu. 

Kerajaan Gandalika adalah negeri yang sangat menawan karena memiliki lahan yang subur dan masyarakat yang hidup makmur.

Kerajaan Gandalika memiliki seorang pemimpin bernama Raja Baharuddin. Beliau memiliki istri yang sangat rupawan bernama Permaisuri Salikah.

Raja Baharuddin merupakan raja yang gagah perkasa. Ia sangat disegani karena karismanya yang di atas rata-rata.

Raja Baharuddin juga memiliki tatapan tajam layaknya elang. Sedangkan kakinya sangat, cepat, kuat, lincah dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

Salah satu kekurangan yang dimilikinya ialah belum dikaruniai keturunan. Permaisuri Salikah sudah lama menikah dengan Raja Baharuddin, namun permaisurinya tidak kunjung mengandung.

Hal ini sering membuat permaisuri merasa tidak berguna sebagai istri raja. Suatu ketika, Raja Baharuddin bangun dari tidur malamnya dan memutuskan untuk sholat malam.

Ia memohon ampunan jika memiliki dosa besar kepada Tuhan. Baharuddin mencoba mengingat-ingat dosa apa yang sudah diperbuatnya hingga ia diberikan hukuman yang begitu berat.

Dalam pengaduan tersebut, Baharuddin senantiasa memohon keturunan. Tiba-tiba, terdengar suara menggelegar yang berasal dari arah tempatnya berdoa

“Aku akan memberikanmu keturunan. Namun, pergilah ke sebuah desa di pinggiran hutan dan bagikanlah warganya sedekah.”

“Beberapa dari mereka pasti akan mendoakanmu dan Aku akan mengabulkan keinginannya..”

Ringkasan Cerita Hikayat Jaya Lengkara beserta Nilai-nilai yang Terkandung

Nilai yang Terkandung di dalam Hikayat Dua Abu:

Kesabaran adalah kunci utama dalam meraih apa yang kita cita-citakan. Raja Baharuddin adalah sosok yang ramah, baik, dan berwibawa sehingga sangat dihormati oleh rakyatnya.

Impian Raja Baharuddin adalah memiliki seorang anak untuk meneruskan tahtanya. 

Setelah lama menunggu dengan penuh kesabaran, akhirnya beliau dikaruniai seorang anak yang taat kepada agamanya.

Halaman:

Advertisement