Advertisement
Source : Pexels/Mahmoud Yahyaoui

25 Contoh Cerita Hikayat Pendek beserta Nilai yang Terkandung di Dalamnya

Cerita hikayat biasanya penuh dengan nilai moral yang mendidik. Berikut beberapa contoh cerita hikayat pendek yang dilengkapi nilainya.

30 September 2025 Fajar Laksana

Contoh Cerita Hikayat Pendek beserta Nilai yang Terkandung di Dalamnya – Hikayat adalah salah satu jenis karangan berbentuk prosa yang mempunyai variasi frasa yang cukup unik. Contoh cerita hikayat pendek perlu diketahui untuk menambah wawasan.

Hikayat juga termasuk karangan sastra yang umumnya menggunakan bahasa Melayu dan dikemas dalam bentuk dongeng.

Cerita hikayat berkembang di wilayah semenanjung Melayu, sehingga tersebar di Malaysia, Singapura, dan Indonesia. 📖😊

Cerita Hikayat dan Nilai Moralnya

Contoh Cerita Hikayat Pendek beserta Nilai yang Terkandung di Dalamnya
Pexels/Mahmoud Yahyaoui

Selain dijadikan sebagai hiburan, teks cerita hikayat juga mengandung bahan pembelajaran bagi siapapun yang membacanya karena mengandung nilai moral.

Nilai moral yang ada di dalam cerita hikayat tentu tidak selamanya bersifat eksplisit, namun bersifat implisit, atau tidak disampaikan secara jelas.

Meski demikian, tetap ada juga nilai-nilai moral yang bersifat eksplisit dengan ajaran-ajaran yang disesuaikan dengan ajaran Islam.

Nilai moral yang diajarkan di dalam cerita hikayat sangat efektif digunakan untuk menjadi media pengajaran bagi siswa-siswi SD sampai dengan SMA.

Pada dasarnya, ada banyak contoh teks cerita hikayat singkat yang ada di kalangan masyarakat. Beberapa contohnya akan disampaikan di bawah ini:

Contoh Cerita Hikayat Si Miskin beserta Strukturnya dalam Bahasa Indonesia

Berbagai Contoh Cerita Hikayat Pendek

1. Hikayat Si Bayan yang Budiman

Alkisah, terdapat saudagar kaya bernama Khojan Mubarok yang tinggal di negara Ajam. Kekayaannya sangat melimpah, namun belum juga dikaruniai anak.

Tidak berselang lama usai ia memohon kepada Tuhan, istrinya hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Khojan Maimun.

Setelah Khojkan Maimun berumur lima tahun, ia diserahkan oleh bapaknya untuk mengaji kepada banyak guru hingga umur lima belas tahun.

Ia kemudian dikawinkan dengan anak seorang saudagar kaya nan cantik bernama Bibi Zainab.

Setelah Khojan Maimun mempersuntingnya, ia membeli burung tiung betina dan burung bayan jantan, lalu dibawanya ke rumah.

Suatu hari, Khojan Maimun hendak pergi untuk urusan perniagaan di laut, lalu dia meminta izin kepada istrinya.

Sebelum pergi, berpesanlah Khojan Maimun pada istrinya. Jika kamu merasa kesepian, bercakaplah dengaan dua ekor burung pintar tersebut.

Usai ditinggal oleh suaminya untuk urusan pekerjaan, datanglah seorang anak Raja Ajam yang berkuda. Ia melihat paras istri Khojan Maimun yang sangat cantik rupawan.

Lalu, anak raja tersebut berupaya mendekati bibi Zainab dengan perantara seorang perempuan tua.

Suatu hari, Bibi Zainab meminta izin kepada burung-burungnya untuk menemui anak raja, tetapi salah satu burung memberitahunya agar tidak berbuat sesuatu yang melanggar perintah Allah SWT.

Mendengar nasihat tersebut, istri Khojan Maimun justru marah dan melempar burungnya ke lantai hingga mati.

Bibi Zainab kemudian mendatangi burung yang satunya. Ia sedang pura-pura tidur dan terbangun untuk mendengar isi hati Bibi Zainab yang hendak pergi bersama anak raja.

Burung tersebut pun berpikir dan mulai menjawab, “Bibi Zainab, bergegaslah pergi, nampaknya anak raja sedang menunggu kau. Namun sebelum pergi, aku memiliki kisah menarik tentang wanita yang terkena balasan karena mengkhianati suaminya”.

Mendengar kisah burung, Bibi Zainab merasa tertarik untuk mendengarkan kisah tersebut. Akhirnya, burung pun bercerita kepadanya dengan harapan agar ia tidak jadi melangkah menemui anak raja.

Setelah mendengar cerita burung tersebut, Bibi Zainab akhirnya insaf terhadap perbuatannya yang ingin pergi berkencan dengan anak raja dan memilih menunggu suaminya pulang dari rantauannya.

Nilai yang terkandung di dalam Hikayat Bayan Budiman:

Nilai moral yang terkandung di dalam hikayat Bayan Budiman erat kaitannya dengan nilai-nilai Islami.

Hikayat ini mengandung pesan bahwa kesabaran dan usaha akan membuahkan hasil yang manis. 

Hal ini terlihat dari upaya Khojan Mubarok yang tidak kenal menyerah untuk mempunyai anak. Hingga akhirnya ia berhasil memiliki anak yang sholeh dan taat agama.

Hikayat Bayan Budiman juga mengandung pesan bahwa perselingkuhan adalah perbuatan yang tercela, baik dalam segi agama maupun sosial. Dengan begitu, perbuatan ini harus dihindari.

Ringkasan Singkat Hikayat Sa Ijaan dan Ikan Todak beserta Pesan Moralnya

2. Contoh Cerita Hikayat Pendek Hang Tuah

Contoh cerita hikayat Hang Tuah singkat diawali dengan kehidupan sepasang suami istri bernama Hang Mahmud dan Dang Merdu.

Keduanya memiliki seorang putra yang diberi nama Hang Tuah. Keluarga kecil ini tinggal di sebuah daerah bernama Desa Sungai Duyung.

Desa ini dipimpin oleh seorang raja di Bintan yang terkenal berwibawa, bijak, dan karismatik. Suatu hari, Hang Mahmud berkeluh kesah pada sang istri ingin mengubah nasib dengan pergi ke Bintan.

Saat semua terlelap di malam hari, Hang Mahmud bermimpi bahwa ia menatap bulan yang sedang turun dari langit. Bulan tersebut menyinari wilayah di sekitarnya, tepatnya di atas kepala Hang Tuah, anaknya.

Hang Mahmud akhirnya terbangun dan langsung mendatangi anaknya yang secara misterius memiliki aroma wangi.

Keesokan paginya, ia mengadakan hajat selamatan dalam rangka berdoa untuk mimpinya semalam.

Hang Mahmud berharap agar mimpi tersebut menjadi pertanda bahwa anaknya akan menjadi orang tersohor dan terpandang di negerinya.

Suatu ketika, Hang Tuah dan ayahnya pergi untuk membelah kayu yang akan digunakan sebagai bahan bakar. Namun, secara misterius datanglah sekawanan pemberontak.

Seluruh masyarakat yang melihatnya langsung kabur, kecuali Hang Tuah. Para pemberontak berupaya untuk membunuhnya, namun justru mereka yang tewas karena dipukul kapak oleh Hang Tuah.

Semenjak saat itu, Raja Bintan memberikan kepercayaan kepada Hang Tuah. Namun, nasibnya tidak berjalan mulus begitu saja karena ada beberapa rintangan yang menghalangi jalannya.

Salah satu halangan tersebut berasal dari para Tumenggung yang merasa iri dan dengki kepada Hang Tuah.

Berbagai fitnah dilayangkan kepada Hang Tuah. Para Tumenggung mengatakan bahwa Hang Tuah bagian dari pemberontak yang sesungguhnya.

Mereka berupaya untuk menghasut raja Bintan agar segera melenyapkan Hang Tuah.

Namun, Hang Tuah senantiasa memperoleh perlindungan dari Tuhan sehingga percobaan pembunuhan itu selalu gagal. Hang Tuah akhirnya lebih memilih untuk mengasingkan diri.

Nilai yang terkandung di dalam Hikayat Hang Tuah:

Hikayat Hang Tuah memiliki pesan moral yang begitu dalam jika dicermati dengan saksama.

Sama seperti Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Hang Tuah juga penuh pesan-pesan agama yang bermanfaat bagi religiusitas pembacanya.

Cerita ini mengajarkan bahwa anak adalah karunia Tuhan yang sangat besar dan sudah selayaknya dijaga dan dicukupkan segala kebutuhannya.

Setelah Hang Tuah dewasa, ia menjelma menjadi sosok yang gagah dan berani, persis seperti harapan ayahnya pada saat ia kecil dulu.

Berkat didikan orang tua yang baik dan terpuji, Hang Tuah tumbuh menjadi sosok yang bertanggung jawab dan rela menolong orang lain dengan penuh keberanian.

3. Hikayat Enam Ekor Lembu yang Pintar Bicara

Kisah ini menceritakan tentang contoh cerita hikayat singkat Abu Nawas. Di suatu pagi hari yang cerah, Sultan Harun al-Rasyid memanggil Abu Nawas untuk datang ke Istana.

Sultan Harun ingin menguji kecerdasan Abu Nawas. Setelah sampai di hadapan Sultan, Abu Nawas memberikan penghormatan.

Sultan berucap, “Wahai, Abu Nawas, aku menghendaki enam lembu dengan jenggot yang pandai berbicara. Bisakah kau mendatangkannya dalam kurun waktu seminggu?”

Jika gagal, maka aku akan memenggal lehermu.

“Baik, tuanku Syah Alam. Hamba akan menjunjung tinggi titah tuanku.” Seluruh punggawa istana pun berkata dalam hati, “Mampus kau Abu Nawas!”

Abu Nawas memohon untuk undur diri dan pulang ke rumah. Begitu sampai di kediamannya, Abu Nawas duduk terdiam diri dan merenungkan kehendak sang Sultan.

Satu hari ia tidak ke luar rumah hingga membuat para tetangga bertanya-tanya. Ia baru saja ke luar rumah usai seminggu kemudian.

Tepatnya sesuai dengan batas waktu yang diberikan oleh Sultan Harun yang sudah tiba di depan mata. Abu Nawas segera pergi ke istana, lalu berkata, “Wahai orang-orang muda, hari apakah hari ini?”

Orang yang berhasil menjawab benar akan dilepaskan, tapi orang yang menjawab salah akan ditahannya. Rupanya, tidak ada seseorang yang berhasil menjawab dengan benar.

Tidak heran jika Abu Nawas menjadi marah-marah kepadanya. 

“Menjawab begitu saja kalian tidak bisa. Jikalau begitu, marilah kita menghadap ke Sultan Harun Al-Rasyid untuk mencari jawaban yang sesungguhnya.”

Esok hari kemudian, balairung istana Baghdad dipenuhi dengan warga yang ingin mengetahui kesanggupan Abu Nawas yang membawa enam ekor lembu yang berjenggot.

Ketika tiba di hadapan Sultan Harun, ia pun melakukan sembah dan duduk dengan penuh khidmat.

Lalu, Sultan berkata, “Hai Abu Nawas, di mana lembu yang memiliki jenggot dan lihai berbicara itu?”. 

Tanpa banyak berucap, Abu Nawas menunjuk keenam orang yang datang
bersamanya itu, “Inilah mereka, wahai tuanku Syah Alam.”

“Gerangan apakah yang hendak engkau tampakkan kepadaku, Wahai Abu Nawas?”

“Tuanku, silakan untuk menanyakan kepada lembu-lembu ini tentang hari saat ini,” tutur Abu Nawas.

Saat Sultan Harun bertanya, rupanya orang-orang yang hadir di balairung memberikan jawaban yang berbeda-beda.

Maka Abu Nawas berujar, “Jikalau mereka manusia, tentu tahu bila hari ini hari apa. Apalagi jika tuanku bertanya tentang hari lain, maka mereka akan tambah pusing.”

“Apakah mereka manusia atau binatang?” “Wahai Tuanku, Inilah lembu jenggot yang pintar bercakap itu.”

Sultan Harun sempat heran mengetahui Abu Nawas yang pandai dalam melepaskan diri dari hukuman yang mengancam. Maka, Sultan pun memberikannya hadiah sebanyak 5.000 dinar untuk Abu Nawas.

Halaman:

Advertisement