Advertisement
Source : Canva/Eugen Tamas's

15 Contoh Cara Menghitung Rasio Keuangan dan Pembahasannya Lengkap

Masih bingung bagaimana cara menghitung rasio keuangan? Yuk, simak penjelasan mudah di artikel berikut ini!

13 Januari 2026 Lintang Filia

5. Sebuah perusahaan memiliki data keuangan sebagai berikut:

  • Total aset lancar: Rp1.420.600.000.000
  • Persediaan: Rp395.800.000.000
  • Total utang lancar: Rp520.450.000.000

Berdasarkan data tersebut, tentukan rasio persediaan modal kerja bersih.

Pembahasan:
Rasio ini digunakan untuk melihat seberapa besar porsi persediaan dalam modal kerja bersih perusahaan.

Rumus Rasio Persediaan Modal Kerja Bersih:
Rasio = Persediaan / (Total Aset Lancar − Total Utang Lancar)

Perhitungan:
Modal Kerja Bersih = 1.420.600.000.000 − 520.450.000.000
Modal Kerja Bersih = 900.150.000.000
Rasio Persediaan Modal Kerja Bersih = 395.800.000.000 / 900.150.000.000
Rasio = 0,44

Kesimpulan:
Nilai rasio persediaan modal kerja bersih sebesar 0,44 atau 44%. Maka 44% dari modal kerja bersih perusahaan tertanam dalam bentuk persediaan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar dana operasional perusahaan masih berbentuk stok barang, sehingga pengelolaan persediaan perlu diperhatikan agar tidak mengganggu likuiditas.

Contoh Laporan Perhitungan Laba Rugi dan Cara Membuatnya yang Benar

6. Sebuah perusahaan distribusi mencatat data keuangan berikut:
• Total aset lancar: Rp965.420.000.000
• Total utang lancar: Rp372.150.000.000

Berdasarkan informasi tersebut, hitung rasio lancar perusahaan.

Pembahasan:
Rasio lancar digunakan untuk melihat sejauh mana aset lancar yang dimiliki perusahaan mampu menutup kewajiban jangka pendek yang harus segera dipenuhi.

Rumus Rasio Lancar:
Rasio Lancar = Total Aset Lancar / Total Utang Lancar

Perhitungan:
Rasio Lancar = 965.420.000.000 / 372.150.000.000
Rasio Lancar = 2,59

Kesimpulan:
Rasio lancar perusahaan sebesar 2,59 kali. Hal ini menunjukkan bahwa setiap Rp1 utang lancar didukung oleh Rp2,59 aset lancar. Dengan nilai tersebut, perusahaan berada pada kondisi likuid yang relatif aman dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

7. Berdasarkan laporan keuangan tahunan sebuah perusahaan, diperoleh data sebagai berikut:
• Kas awal periode: Rp64.350.000.000
• Kas akhir periode: Rp102.870.000.000
• Penjualan bersih selama satu tahun: Rp3.245.680.000.000

Hitung rasio perputaran kas perusahaan tersebut.

Pembahasan:
Langkah pertama adalah menentukan rata-rata kas yang digunakan perusahaan selama satu periode.

Rumus Rata-Rata Kas:
Rata-Rata Kas = (Kas Awal Periode + Kas Akhir Periode) / 2

Perhitungan:
Rata-Rata Kas = (64.350.000.000 + 102.870.000.000) / 2
Rata-Rata Kas = 167.220.000.000 / 2
Rata-Rata Kas = 83.610.000.000

Selanjutnya, rasio perputaran kas dihitung dengan membandingkan penjualan bersih terhadap rata-rata kas.

Rumus Rasio Perputaran Kas:
Rasio Perputaran Kas = Penjualan Bersih / Rata-Rata Kas

Perhitungan:
Rasio Perputaran Kas = 3.245.680.000.000 / 83.610.000.000
Rasio Perputaran Kas = 38,82

Kesimpulan:
Rasio perputaran kas sebesar 38,82 kali menunjukkan bahwa kas perusahaan mengalami perputaran yang relatif cepat sepanjang tahun. Hal ini mencerminkan efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan kas untuk mendukung aktivitas penjualan dan operasional.

8. Suatu perusahaan mencatat posisi keuangan dengan rincian berikut:
• Total aset lancar: Rp1.365.920.000.000
• Persediaan: Rp318.450.000.000
• Total kewajiban jangka pendek: Rp487.300.000.000

Berdasarkan data tersebut, hitung rasio persediaan terhadap modal kerja bersih perusahaan.

Pembahasan:
Rasio persediaan terhadap modal kerja bersih digunakan untuk mengetahui seberapa besar dana operasional perusahaan yang tertahan dalam bentuk persediaan dibandingkan dengan modal kerja bersih yang tersedia.

Rumus Rasio Persediaan Modal Kerja Bersih:
Rasio = Persediaan / (Total Aset Lancar − Total Utang Lancar)

Perhitungan:
Modal Kerja Bersih = 1.365.920.000.000 − 487.300.000.000
Modal Kerja Bersih = 878.620.000.000

Rasio Persediaan Modal Kerja Bersih = 318.450.000.000 / 878.620.000.000
Rasio = 0,36

Kesimpulan:
Nilai rasio persediaan modal kerja bersih sebesar 0,36 atau 36%. Artinya, sekitar 36% dari modal kerja bersih perusahaan digunakan untuk membiayai persediaan.

Kondisi ini menunjukkan struktur modal kerja yang relatif sehat, karena porsi dana yang tertanam dalam stok masih berada pada tingkat yang wajar dan tidak terlalu membebani likuiditas.

9. Sebuah perusahaan ritel memiliki data keuangan sebagai berikut:

  • Harga pokok penjualan (HPP): Rp1.560.000.000.000
  • Rata-rata persediaan: Rp260.000.000.000

Berdasarkan data tersebut, hitunglah rasio perputaran persediaan perusahaan.

Pembahasan:
Rasio perputaran persediaan digunakan untuk mengukur seberapa cepat persediaan berputar atau terjual dalam satu periode.

Rumus Perputaran Persediaan:
Perputaran Persediaan = Harga Pokok Penjualan / Rata-Rata Persediaan

Perhitungan:
Perputaran Persediaan = 1.560.000.000.000 / 260.000.000.000
Perputaran Persediaan = 6

Kesimpulan:

Nilai perputaran persediaan perusahaan adalah 6 kali. Nilai tersebut memperlihatkan selama satu tahun persediaan perusahaan berputar sebanyak 6 kali. Semakin tinggi rasio ini, semakin efisien perusahaan dalam mengelola stok barang agar tidak terlalu lama tersimpan di gudang.

10. Suatu perusahaan memiliki laporan keuangan dengan data sebagai berikut:

  • Penjualan bersih: Rp3.250.000.000.000
  • Total aset: Rp2.600.000.000.000

Hitunglah Total Asset Turnover (TATO) perusahaan tersebut.

Pembahasan:
Total Asset Turnover digunakan untuk menilai efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan seluruh aset untuk menghasilkan penjualan.

Rumus TATO:
Total Asset Turnover = Penjualan Bersih / Total Aset

Perhitungan:
TATO = 3.250.000.000.000 / 2.600.000.000.000
TATO = 1,25

Kesimpulan:
Nilai Total Asset Turnover perusahaan sebesar 1,25 kali. Sehingga, setiap Rp1 aset mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp1,25. Rasio ini menunjukkan bahwa pemanfaatan aset perusahaan tergolong cukup efisien dalam mendukung aktivitas operasional.

Halaman:

Advertisement