Advertisement
Source : Canva/Eugen Tamas's

15 Contoh Cara Menghitung Rasio Keuangan dan Pembahasannya Lengkap

Masih bingung bagaimana cara menghitung rasio keuangan? Yuk, simak penjelasan mudah di artikel berikut ini!

13 Januari 2026 Lintang Filia

11. Sebuah perusahaan grosir mencatat informasi keuangan berikut selama satu periode:
• Harga pokok penjualan (HPP): Rp1.845.000.000.000
• Rata-rata persediaan: Rp315.000.000.000

Berdasarkan data tersebut, hitung rasio perputaran persediaan perusahaan.

Pembahasan:
Rasio perputaran persediaan digunakan untuk mengetahui seberapa efektif perusahaan dalam mengelola stok barang hingga akhirnya terjual kepada konsumen.

Rumus Perputaran Persediaan:
Perputaran Persediaan = Harga Pokok Penjualan / Rata-Rata Persediaan

Perhitungan:
Perputaran Persediaan = 1.845.000.000.000 / 315.000.000.000
Perputaran Persediaan = 5,86

Kesimpulan:
Nilai perputaran persediaan perusahaan sebesar 5,86 kali. Artinya, sepanjang satu tahun, persediaan berhasil berputar hampir enam kali. Hal ini menunjukkan bahwa proses penjualan dan pengelolaan stok berjalan cukup efisien, sehingga risiko penumpukan barang di gudang dapat ditekan.

12. Sebuah perusahaan jasa melaporkan kinerja keuangan sebagai berikut:
• Penjualan bersih selama satu tahun: Rp4.080.000.000.000
• Total aset perusahaan: Rp3.200.000.000.000

Berdasarkan data tersebut, hitung Total Asset Turnover (TATO) perusahaan.

Pembahasan:
Total Asset Turnover digunakan untuk melihat seberapa optimal seluruh aset perusahaan dimanfaatkan dalam menghasilkan pendapatan dari aktivitas operasional.

Rumus Total Asset Turnover:
Total Asset Turnover = Penjualan Bersih / Total Aset

Perhitungan:
TATO = 4.080.000.000.000 / 3.200.000.000.000
TATO = 1,28

Kesimpulan:
Nilai Total Asset Turnover perusahaan sebesar 1,28 kali. Artinya, setiap Rp1 aset yang dimiliki mampu menghasilkan penjualan sebesar Rp1,28. Rasio ini mencerminkan bahwa penggunaan aset perusahaan sudah berjalan cukup efektif dalam mendukung kinerja operasional.

13. Sebuah perusahaan pembiayaan mencatat kinerja keuangan sebagai berikut:

  • Laba sebelum bunga dan pajak (EBIT): Rp560.000.000.000
  • Beban bunga selama satu tahun: Rp140.000.000.000

Berdasarkan data tersebut, tentukan Times Interest Earned (TIE) perusahaan.

Pembahasan:
Rasio Times Interest Earned digunakan untuk menilai seberapa kuat kemampuan perusahaan dalam membayar beban bunga dari laba operasionalnya.

Perhitungan:
TIE = Laba Sebelum Bunga dan Pajak / Beban Bunga
TIE = 560.000.000.000 / 140.000.000.000
TIE = 4

Kesimpulan:
Nilai TIE sebesar 4 kali menunjukkan bahwa laba operasional perusahaan mampu menutup beban bunga sebanyak empat kali. Kondisi ini menandakan struktur pendanaan perusahaan relatif aman dari risiko gagal bayar bunga.

14. Sebuah perusahaan distribusi memiliki data berikut:

  • Penjualan kredit selama satu tahun: Rp2.160.000.000.000
  • Rata-rata piutang usaha: Rp180.000.000.000

Hitunglah rata-rata periode penagihan piutang (Average Collection Period) perusahaan.

Pembahasan:
Langkah pertama adalah menghitung perputaran piutang.
Perputaran Piutang = Penjualan Kredit / Rata-Rata Piutang
Perputaran Piutang = 2.160.000.000.000 / 180.000.000.000
Perputaran Piutang = 12 kali

Selanjutnya, hitung periode penagihan.

Average Collection Period = 360 / Perputaran Piutang
Average Collection Period = 360 / 12
Average Collection Period = 30 hari

Kesimpulan:
Rata-rata periode penagihan piutang perusahaan adalah 30 hari.
Artinya, perusahaan membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk mengubah piutang menjadi kas. Semakin singkat periode ini, semakin sehat arus kas perusahaan.

15. Sebuah perusahaan perdagangan memiliki informasi keuangan berikut:

  • Days Inventory Outstanding (DIO): 55 hari
  • Days Sales Outstanding (DSO): 32 hari
  • Days Payable Outstanding (DPO): 40 hari

Berdasarkan data tersebut, tentukan Cash Conversion Cycle (CCC) perusahaan.

Pembahasan:
Cash Conversion Cycle menunjukkan lamanya waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk mengubah pengeluaran kas menjadi penerimaan kas kembali.

Perhitungan:
CCC = DIO + DSO − DPO
CCC = 55 + 32 − 40
CCC = 47 hari

Kesimpulan:
Nilai Cash Conversion Cycle sebesar 47 hari berarti perusahaan membutuhkan waktu 47 hari sejak kas dikeluarkan untuk operasional hingga kas kembali diterima dari pelanggan. Semakin pendek siklus ini, semakin efisien pengelolaan modal kerja perusahaan.

Penutup

Itulah tadi 15 contoh cara menghitung rasio keuangan dan pembahasannya yang bisa dipelajari di rumah. Selanjutnya, kalau kamu masih mencari materi terkait rasio keuangan, jangan lupa mampir ke blog Mamikos! 🌻

Referensi:


Halaman:

Advertisement