155 Contoh Majas Personifikasi dalam Puisi yang Bisa Jadi Referensi
Artikel ini menyajikan 155 contoh majas personifikasi dalam puisi sebagai referensi belajar, tugas sekolah, dan inspirasi menulis sastra.
43. “Langit memeluk bintang di malam hari.”
44. “Mentari mengucap selamat pagi pada dunia.”
45. “Senja berpamitan sebelum malam datang.”
46. “Malam menghapus jejak langkah yang tertinggal.”
47. “Angin sore mengantar pulang lelah hari.”
48. “Daun hijau tersenyum saat cahaya jatuh.”
49. “Langit membuka pintu bagi datangnya hujan.”
50. “Hujan memeluk bumi yang kehausan.”
51. “Awan menumpahkan rindu di atas kota.”
52. “Mentari menenangkan dingin pagi.”
53. “Angin malam menyimpan rahasia sunyi.”
54. “Bintang memandang bumi dengan sabar.”
55. “Pepohonan melindungi tanah dari panas.”
56. “Senja memeluk kenangan yang pulang.”
57. “Kabut menyembunyikan wajah gunung.”
58. “Langit menurunkan amarah lewat petir.”
59. “Hujan menemani bumi dalam diam.”
60. “Angin berkelana mencari rumah.”
61. “Bulan menjaga janji pada malam.”
62. “Awan bersembunyi dari terik mentari.”
63. “Daun gugur berpamitan pada dahan.”
64. “Bumi menampung segala luka manusia.”
65. “Pagi mengajak dunia kembali bernapas.”
66. “Malam menutup mata kota yang lelah.”
67. “Angin pagi membisikkan harapan baru.”
68. “Langit tersenyum saat awan perlahan pergi.”
69. “Hujan membersihkan luka bumi.”
70. “Mentari membangunkan pagi dengan cahaya.”
71. “Awan mengantar hujan ke tanah kering.”
72. “Bulan setia menemani malam yang sunyi.”
73. “Daun-daun menari mengikuti irama angin.”
74. “Kabut memeluk lembah dengan dingin.”
75. “Langit menyimpan tangis hujan semalaman.”
76. “Angin sore menenangkan panas hari.”
77. “Bintang berjaga hingga fajar tiba.”
78. “Pagi menyapu sisa gelap malam.”
79. “Hujan mengetuk bumi dengan lembut.”
80. “Mentari memeluk bumi tanpa lelah.”
81. “Langit menahan tangis sebelum badai.”
82. “Angin berlari membawa kabar perubahan.”
83. “Bulan tersenyum melihat bumi tenang.”
84. “Awan menutup wajah langit perlahan.”
85. “Senja berpamitan pada hari yang usai.”
86. “Malam merangkul sunyi di sudut kota.”
87. “Angin pagi membawa senyum hari baru.”
88. “Langit memeluk awan dengan sabar.”
89. “Hujan menenangkan bumi yang gelisah.”
90. “Mentari menyapa sawah yang menguning.”
91. “Daun-daun bergoyang mengikuti ajakan angin.”
92. “Bulan menatap laut dengan tenang.”
93. “Kabut merayap mencari celah cahaya.”
94. “Pagi menyalakan harapan di ufuk timur.”
95. “Angin sore menyanyikan lagu perpisahan.”
96. “Langit membuka mata saat fajar tiba.”
97. “Hujan membasuh luka kota.”
98. “Awan berkelana tanpa arah.”
99. “Mentari memeluk hari dengan hangat.”
100. “Malam menyimpan doa-doa yang terucap.”
101. “Bintang memanggil mimpi dari kejauhan.”
102. “Angin berbisik pada jalanan sepi.”
103. “Daun kering berlari meninggalkan jejak.”
104. “Langit menutup cerita hari ini.”
105. “Hujan mengantar sunyi ke pelukan malam.”
106. “Mentari tersenyum menyambut pagi yang cerah.”
107. “Awan menepi memberi ruang cahaya.”
108. “Bulan menjaga janji gelap malam.”
109. “Angin menari bersama debu jalanan.”
110. “Pagi merangkul dingin dengan cahaya.”
111. “Langit menghela napas sebelum hujan.”
112. “Hujan mengetuk kesabaran bumi.”
113. “Mentari memandangi dunia tanpa lelah.”
114. “Kabut menyembunyikan rahasia pagi.”
115. “Angin membawa pesan dari pegunungan.”
116. “Malam memeluk mimpi yang lelah.”
117. “Bintang tersenyum di balik gelap.”
118. “Awan berbisik sebelum hujan jatuh.”
119. “Daun-daun berpamitan pada ranting.”
120. “Langit menenangkan badai yang reda.”
121. “Hujan menemani langkah pulang.”
122. “Mentari membuka pintu hari.”
123. “Angin menyisir kenangan lama.”
124. “Bulan memeluk laut yang tenang.”
125. “Pagi mengantar cahaya ke jendela.”
126. “Langit menahan rindu sebelum senja.”
127. “Hujan menyanyikan lagu kerinduan.”
128. “Awan berlari menjauh dari cahaya.”
129. “Mentari menyimpan hangat di bumi.”
130. “Malam menutup luka hari.”
Halaman:

