Source : unsplash.com/id/@svsokolov

50 Contoh Makna Kata Lengkap: Denotatif, Konotatif, Leksikal, Gramatikal, dan Asosiatif

Pahami ragam makna kata dalam bahasa Indonesia secara mendalam. Dilengkapi contoh makna kata denotatif, konotatif, leksikal, hingga gramatikal.

22 Oktober 2026 Lailla

Contoh Makna Leksikal

  1. Air: Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa yang diperlukan manusia.
  2. Batu: Benda keras dan padat yang berasal dari bumi atau planet lain (bukan logam).
  3. Jalan: Tempat untuk lalu lintas orang, kendaraan, dan sebagainya.
  4. Kepala: Bagian tubuh manusia atau hewan yang di atas leher.
  5. Lari: Bergerak cepat dengan langkah kaki sehingga adakalanya kedua kaki tidak menyentuh tanah.
  6. Makan: Memasukkan makanan pokok ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya.
  7. Mata: Organ penglihatan.
  8. Mobil: Kendaraan darat bermotor beroda empat.
  9. Panas: Mempunyai suhu yang relatif tinggi.
  10. Pantai: Tepi laut
  11. Rumah: Bangunan untuk tempat tinggal.
  12. Tangan: Anggota badan dari siku sampai ke ujung jari atau dari pergelangan sampai ujung jari

Makna leksikal dan makna denotatif seringkali dianggap sama karena sama-sama merujuk pada arti sebenarnya. Namun, sebenarnya keduanya berbeda jika melihat pasangannya: denotatif dipasangkan dengan konotatif (arti sebenarnya dengan arti kiasan), sedangkan leksikal dipasangkan dengan gramatikal (arti kamus dengan arti setelah kata berubah bentuk).

8 Contoh Kalimat Denotasi dan Konotasi dari Kata Jalan, Mata, Terlambat, dan Maknanya

4. Makna Gramatikal

Berbeda dari makna leksikal yang sifatnya murni, makna gramatikal merupakan makna baru yang muncul pada suatu kata setelah kata dasarnya mengalami proses perubahan, seperti penambahan imbuhan (afiksasi), penggabungan kata (komposisi), atau pengulangan (reduplikasi). Contohnya:

  • Pengimbuhan: jalan + ber → berjalan (berubah makna menjadi melakukan aktivitas melangkah).
  • Pengulangan: anak (tunggal) → anak-anak (jamak)
  • Penggabungan kata: sate + ayam → sate ayam (sate yang terbuat dari ayam)

Dapat dikatakan bahwa makna gramatikal bisa terbentuk dari struktur tata bahasa yang membangun kalimat.

Ciri-Ciri Makna Gramatikal

  • Makna gramatikal dapat berubah dipengaruhi susunan kata atau struktur kalimat.
  • Terbentuk lewat proses tata bahasa: pengimbuhan, pengulangan, atau penggabungan kata.
  • Maknanya bergantung pada jenis imbuhan atau prosesnya, misalnya me- (melakukan) dan ter- (tidak sengaja).
  • Dapat dimengerti apabila melihat konteks kalimat secara keseluruhan.

Contoh Makna Gramatikal

  1. Memotong: Ayah memotong ranting yang tumbuh di pohon. (Prefiks me- membentuk makna tindakan aktif).
  2. Foto-foto: Kakek tertawa ketika menyaksikan foto-foto kenangan masa kecilnya yang lucu. (Reduplikasi membentuk makna jamak).
  3. Tertinggal: Ponsel penumpang taksi itu tertinggal saat buru-buru turun. (Prefiks ter- membentuk makna ketidaksengajaan).
  4. Sate ayam: Ayah memesan sate ayam untuk makan malam. (Komposisi ‘sate’ + ‘ayam’ membentuk makna sate berbahan dasar ayam).
  5. Kebesaran: Baju yang dibelikan ayah ternyata kebesaran ketika dipakai adik. (Konfiks ke-an membentuk makna terlalu).
  6. Mempermainkan: Jangan mempermainkan aturan yang sudah disepakati bersama. (Konfiks memper-kan membentuk makna menjadikan bahan permainan).
  7. Berpakaian: Rombongan jemaah umrah yang berangkat tahun ini berpakaian ihram. (Prefiks ber- membentuk makna mengenakan).
  8. Muda-mudi: Kafe itu dipenuhi oleh muda-mudi yang ingin berfoto sambil mencoba menu makanan yang populer. (Reduplikasi pada kata ‘muda-mudi’ membentuk makna suatu kelompok sosial).
  9. Melumpuhkan: Bencana gempa bumi itu melumpuhkan aktivitas warga yang semula sangat hidup. (Konfiks me-kan membentuk makna membuat jadi lumpuh).
  10. Pikir-pikir: Aku pikir-pikir dulu sebelum membeli tiket liburan ke Paris. (Reduplikasi kata kerja membentuk makna mempertimbangkan berulang kali).

5. Makna Asosiatif

Makna asosiatif adalah makna yang muncul karena sebuah kata dikaitkan dengan sesuatu di luar bahasa, seperti benda, warna, atau hewan yang dijadikan lambang oleh suatu masyarakat. Makna asosiatif seringkali disamakan dengan konotatif, padahal keduanya berbeda.

Pada makna konotatif, fokus pembahasan adalah nilai rasa emosional (baik atau buruk), sedangkan makna asosiatif fokus pada simbolisme kolektif yang sudah disepakati suatu kelompok masyarakat.

Ciri-Ciri Makna Asosiatif

  • Terbentuk dari persepsi dan kesepakatan budaya atau sosial, bukan dari definisi yang ada di dalam kamus.
  • Terikat erat pada budaya tempat bahasa digunakan, sehingga bersifat kultural dan lokal, bisa berbeda antarbudaya, misalnya warna putih yang bisa melambangkan kesucian, tetapi juga bisa melambangkan duka.
  • Bersifat dinamis dan fleksibel, dapat mengalami pergeseran seiring dengan perkembangan zaman.
  • Merujuk pada simbol yang dilekatkan masyarakat, bukan pada wujud fisik bendanya.

Contoh Makna Asosiatif

  1. Musang: Kita harus berhati-hati pada orang asing itu karena ia licik seperti musang. (Musang diasosiasikan dengan kelicikan).
  2. Kancil: Anak laki-laki itu selalu menemukan jalan keluar karena cerdik seperti kancil. (Kancil diasosiasikan dengan kecerdikan).
  3. Beringin: Pohon beringin besar di alun-alun itu dianggap sebagai lambang pengayoman. (Beringin diasosiasikan dengan perlindungan).
  4. Melati: Rangkaian melati pada sanggul pengantin merupakan lambang kesucian. (Melati diasosiasikan dengan ketulusan/kesucian).
  5. Merah & Putih: Warna merah melambangkan keberanian dan putih melambangkan kesucian. (Asosiasi warna dengan nilai kebangsaan).
  6. Merpati: Beberapa ekor merpati dilepaskan sebagai lambang perdamaian. (Merpati diasosiasikan dengan perdamaian).
  7. Padi: Gambar padi dan kapas pada logo itu merupakan lambang kemakmuran. (Padi diasosiasikan dengan kemakmuran).
  8. Hitam: Seluruh pelayat mengenakan pakaian hitam saat menghadiri pemakaman. (Warna hitam diasosiasikan dengan kedukaan).
  9. Mawar merah: Pria itu memberikan setangkai mawar merah di hari ulang tahun pernikahan mereka. (Mawar merah diasosiasikan dengan ungkapan cinta)
40+ Contoh Kalimat Konotasi Positif dan Negatif beserta Pengertiannya

Penutup

Artikel contoh makna kata dalam bahasa Indonesia bisa menambah pengetahuanmu bahwa ternyata satu kata mampu menghasilkan banyak arti.

Terus membiasakan diri dengan paparan berbagai macam kata bahasa Indonesia akan membuatmu peka pada perubahan makna kata tersebut.

Dapatkan informasi lain terkait materi bahasa Indonesia dan mata pelajaran lainnya di blog Mamikos. Selamat belajar!

FAQ

Apa perbedaan makna leksikal dan denotatif?

Leksikal adalah arti murni kata di kamus saat berdiri sendiri (tanpa kalimat), sedangkan denotatif merupakan arti murni/faktual dari kata tersebut setelah masuk ke dalam kalimat.

Apakah makna konotatif selalu negatif?

Tidak. Makna konotatif terbagi menjadi dua, yaitu konotasi positif (amelioratif) yang memberikan kesan sopan atau menghargai (seperti kata istri atau anak emas), dan konotasi negatif (peyoratif) yang memberikan kesan kasar atau tidak menyenangkan (seperti kata bini atau uang panas).

Apa perbedaan antara makna konotatif dan makna asosiatif?

Makna konotatif berfokus pada nilai rasa emosional. Sementara itu, makna asosiatif berfokus pada simbolisme sosial-budaya yang disepakati oleh masyarakat.

Mengapa proses tata bahasa dapat mengubah makna kata menjadi gramatikal?

Proses tata bahasa (seperti pengimbuhan, pengulangan, atau penggabungan kata) memberikan fungsi sintaktis baru pada kata dasar. Hal ini dapat mengubah kelas kata (misalnya kata benda menjadi kata kerja) maupun makna gramatisnya (seperti makna tunggal menjadi jamak).

Apakah makna suatu kata dapat mengalami perubahan seiring berjalannya waktu?

Ya, makna kata dapat bergeser seiring perkembangan zaman dan dinamika sosial masyarakat. Sebagai contoh, kata oknum yang dahulu bermakna netral (perorangan atau pribadi), kini telah bergeser memiliki konotasi negatif (pelaku pelanggaran).

Referensi:


Halaman: