50 Contoh Makna Kata Lengkap: Denotatif, Konotatif, Leksikal, Gramatikal, dan Asosiatif
Pahami ragam makna kata dalam bahasa Indonesia secara mendalam. Dilengkapi contoh makna kata denotatif, konotatif, leksikal, hingga gramatikal.
- Satu kata bisa punya banyak makna; ilmu semantik membagi makna kata menjadi lima jenis utama: denotatif, konotatif, leksikal, gramatikal, dan asosiatif.
- Ciri singkat tiap jenis: denotatif = arti faktual/lugas; konotatif = makna kiasan bernilai rasa (positif/negatif); leksikal = arti kamus tanpa konteks; gramatikal = makna baru akibat imbuhan/ulang/komposisi; asosiatif = simbolisme budaya.
- Untuk memahami makna pilihlah konteks, pengetahuan budaya, dan bentuk tata bahasa—karena makna bisa bergeser seiring waktu; kebiasaan membaca membantu membedakan makna asli dan kiasan.
Suatu kata dalam bahasa Indonesia ternyata bisa memiliki lebih dari satu makna. Sebagai contoh makna kata ‘bintang’ dalam sains adalah benda langit yang memancarkan cahaya, tetapi dalam dunia hiburan artinya jadi aktor utama.
Jika kamu tertarik mempelajari makna kata untuk membedakan mana yang asli dan kiasan, simak artikel berikut ini.
Daftar Isi
Contoh Makna Kata Bahasa Indonesia

Jangan langsung terkecoh saat membaca suatu kata pada kalimat yang belum pernah kamu temui. Bisa jadi kata tersebut memiliki makna kiasan, tidak hanya makna tersurat. Tanpa sering membaca jenis-jenis ungkapan, kamu mungkin akan kebingungan membedakan mana yang termasuk makna kata sebenarnya dan makna lainnya.
Sebelum membahas makna kata dan contohnya, pahami terlebih dulu istilah-istilah yang dipelajari ilmu semantik, yaitu cabang ilmu linguistik yang mempelajari makna atau arti.
Makna kata adalah arti atau maksud yang dikandung suatu kata, baik yang tercatat dalam kamus ataupun arti yang muncul karena konteks, budaya penutur, atau karena diberi imbuhan.
Dalam ilmu semantik, makna kata dikelompokkan menjadi lima jenis yang sering dibahas dalam pelajaran bahasa Indonesia:
- Makna denotatif: arti sebenarnya, lugas, tanpa kiasan
- Makna konotatif: arti kiasan yang mengandung nilai rasa
- Makna leksikal: arti dasar sebuah kata sesuai kamus
- Makna gramatikal: arti baru yang muncul setelah kata diberi imbuhan, diulang, atau digabung
- Makna asosiatif: arti simbolis yang disepakati suatu masyarakat
Agar kamu tidak bingung, berikut ini penjabaran masing-masing makna kata beserta karakteristik dan contoh-contohnya.
1. Makna Denotatif
Makna denotatif merupakan makna kata yang sebenarnya, objektif, lugas, dan merujuk langsung pada fakta fisik atau fenomena nyata. Pada makna denotatif, kamu tidak akan menemukan arti yang terselubung atau sindiran karena semua disampaikan secara lugas.
Ciri-Ciri Makna Denotatif
- Bersifat eksplisit, tidak mengandung makna kiasan
- Diartikan sama oleh semua orang
- Sering digunakan untuk penulisan ilmiah, instruksi resmi, dan berita jurnalistik
Contoh Makna Denotatif
- Pohon mangga: Arman memanjat pohon mangga di kebun ayahnya sampai ke dahan tertinggi untuk mendapatkan buah yang ranum.
- Ular hitam: Ibu terperanjat saat melihat ular hitam keluar dari semak-semak.
- Buah segar: Penjual buah di pasar menyarankan ibu untuk meletakkan buah segar di tempat yang teduh agar terjaga kesegarannya.
- Lampu minyak: Nenek bercerita bahwa sebelum ada listrik masuk desa, penerangan di rumah hanya menggunakan lampu minyak seadanya.
- Sampah plastik: Acara demo semalam membuat sampah plastik di sekitar lokasi menumpuk.
- Asap tebal: Gunung yang aktif di Jawa Timur mengeluarkan asap tebal pagi ini pertanda erupsi.
- Padi kuning: Para petani memanen padi kuning yang terhampar luas di sawah mereka.
- Tali tambang: Pak Budi mengikat kayu yang sudah ditebang menggunakan tali tambang agar tidak mudah lepas.
- Kursi kayu: Tempat favorit nenek saat bersantai di rumah adalah kursi kayu yang diletakkan di teras.
2. Makna Konotatif
Makna konotatif merupakan makna kiasan, makna figuratif, atau makna yang mengandung nilai rasa tertentu menurut perasaan dan penilaian pengguna bahasa. Makna tersebut bisa positif, negatif, atau netral. Dua macam makna konotatif yang sering dibahas adalah:
- Konotasi positif (amelioratif): memberikan kesan sopan, menyenangkan, dan terhormat.
- Konotasi negatif (peyoratif): memberikan kesan kasar, tidak menyenangkan, dan merendahkan.
Makna konotatif bisa memperindah dan memperhalus sebuah tuturan. Namun, bisa juga digunakan untuk menunjukkan rasa tidak suka bahkan kemarahan, karena membuat intensitas maknanya jadi meningkat.
Ciri-Ciri Makna Konotatif
- Memiliki nilai rasa (positif atau negatif) atau tidak memiliki rasa (netral)
- Maknanya bisa berbeda dipengaruhi pandangan hidup atau norma yang ada pada masyarakat tersebut.
- Dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Contoh Makna Konotatif
- Uang haram: Laki-laki yang memberi makan keluarganya dari uang haram itu akhirnya menuai akibat perbuatannya. (Arti: uang hasil tindakan melanggar hukum/agama).
- Uang panas: Kepala bagian yang melakukan korupsi ditangkap pihak berwajib karena terbukti menerima uang panas. (Arti: uang hasil suap/korupsi).
- Tinggi hati: Naomi dididik untuk senantiasa rendah hati walaupun kawannya sebagian besar bersikap tinggi hati. (Arti: sombong).
- Otak pembunuhan: Kepolisian berhasil melumpuhkan otak pembunuhan yang selama ini menyamar sebagai warga biasa. (Arti: dalang/perencana utama).
- Berat sebelah: Banyak penonton protes karena wasit dianggap berat sebelah dalam pertandingan kemarin. (Arti: tidak adil).
- Anak emas: Mayang menjadi anak emas di kelas karena selalu memperhatikan guru dan nilainya bagus. (Arti: anak kesayangan).
- Gulung tikar: Setelah berwirausaha belasan tahun, usaha ayah gulung tikar akibat kondisi ekonomi yang tidak menentu. (Arti: bangkrut).
- Bintang lapangan: Atlet pendatang baru itu berhasil menjadi bintang lapangan dalam kejuaraan tingkat kota. (Arti: pemain yang paling menonjol).
- Memperkeruh suasana: Konflik yang semula kecil itu membesar karena ada pihak yang sengaja memperkeruh suasana. (Arti: membuat keadaan semakin buruk).
- Kambing hitam: Anak yang diam saja itu dijadikan kambing hitam atas hilangnya uang kas kelas. (Arti: pihak yang disalahkan).
3. Makna Leksikal
Makna leksikal dikenal juga dengan istilah semantic meaning atau makna eksternal (external meaning). Definisi makna leksikal adalah makna yang dimiliki suatu kata walaupun tanpa konteks.
Bisa dikatakan bahwa pada makna leksikal terdapat makna mentah sebelum kata tersebut digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kamu akan melihat makna kata yang bersifat murni sesuai yang ada pada kamus tanpa dipengaruhi konteks kalimat atau perubahan bentuk tata bahasa.
Ciri-Ciri Makna Leksikal
- Merupakan makna dasar kata yang bersifat konstan tanpa perlu tambahan informasi lainnya.
- Tidak dipengaruhi konteks kalimat maupun imbuhan.
- Tidak mengalami perubahan makna walaupun struktur kalimatnya diubah atau berbeda.
- Bersifat relatif stabil namun bisa bergeser seiring pemakaiannya (contoh: ‘saudara’ yang bisa juga dipakai sebagai kata sapaan).
- Merujuk langsung pada benda, peristiwa, atau konsep yang ditunjuk kata leksikal tersebut.
Contoh Makna Leksikal
- Air: Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa yang diperlukan manusia.
- Batu: Benda keras dan padat yang berasal dari bumi atau planet lain (bukan logam).
- Jalan: Tempat untuk lalu lintas orang, kendaraan, dan sebagainya.
- Kepala: Bagian tubuh manusia atau hewan yang di atas leher.
- Lari: Bergerak cepat dengan langkah kaki sehingga adakalanya kedua kaki tidak menyentuh tanah.
- Makan: Memasukkan makanan pokok ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya.
- Mata: Organ penglihatan.
- Mobil: Kendaraan darat bermotor beroda empat.
- Panas: Mempunyai suhu yang relatif tinggi.
- Pantai: Tepi laut
- Rumah: Bangunan untuk tempat tinggal.
- Tangan: Anggota badan dari siku sampai ke ujung jari atau dari pergelangan sampai ujung jari
Makna leksikal dan makna denotatif seringkali dianggap sama karena sama-sama merujuk pada arti sebenarnya. Namun, sebenarnya keduanya berbeda jika melihat pasangannya: denotatif dipasangkan dengan konotatif (arti sebenarnya dengan arti kiasan), sedangkan leksikal dipasangkan dengan gramatikal (arti kamus dengan arti setelah kata berubah bentuk).
4. Makna Gramatikal
Berbeda dari makna leksikal yang sifatnya murni, makna gramatikal merupakan makna baru yang muncul pada suatu kata setelah kata dasarnya mengalami proses perubahan, seperti penambahan imbuhan (afiksasi), penggabungan kata (komposisi), atau pengulangan (reduplikasi). Contohnya:
- Pengimbuhan: jalan + ber → berjalan (berubah makna menjadi melakukan aktivitas melangkah).
- Pengulangan: anak (tunggal) → anak-anak (jamak)
- Penggabungan kata: sate + ayam → sate ayam (sate yang terbuat dari ayam)
Dapat dikatakan bahwa makna gramatikal bisa terbentuk dari struktur tata bahasa yang membangun kalimat.
Ciri-Ciri Makna Gramatikal
- Makna gramatikal dapat berubah dipengaruhi susunan kata atau struktur kalimat.
- Terbentuk lewat proses tata bahasa: pengimbuhan, pengulangan, atau penggabungan kata.
- Maknanya bergantung pada jenis imbuhan atau prosesnya, misalnya me- (melakukan) dan ter- (tidak sengaja).
- Dapat dimengerti apabila melihat konteks kalimat secara keseluruhan.
Contoh Makna Gramatikal
- Memotong: Ayah memotong ranting yang tumbuh di pohon. (Prefiks me- membentuk makna tindakan aktif).
- Foto-foto: Kakek tertawa ketika menyaksikan foto-foto kenangan masa kecilnya yang lucu. (Reduplikasi membentuk makna jamak).
- Tertinggal: Ponsel penumpang taksi itu tertinggal saat buru-buru turun. (Prefiks ter- membentuk makna ketidaksengajaan).
- Sate ayam: Ayah memesan sate ayam untuk makan malam. (Komposisi ‘sate’ + ‘ayam’ membentuk makna sate berbahan dasar ayam).
- Kebesaran: Baju yang dibelikan ayah ternyata kebesaran ketika dipakai adik. (Konfiks ke-an membentuk makna terlalu).
- Mempermainkan: Jangan mempermainkan aturan yang sudah disepakati bersama. (Konfiks memper-kan membentuk makna menjadikan bahan permainan).
- Berpakaian: Rombongan jemaah umrah yang berangkat tahun ini berpakaian ihram. (Prefiks ber- membentuk makna mengenakan).
- Muda-mudi: Kafe itu dipenuhi oleh muda-mudi yang ingin berfoto sambil mencoba menu makanan yang populer. (Reduplikasi pada kata ‘muda-mudi’ membentuk makna suatu kelompok sosial).
- Melumpuhkan: Bencana gempa bumi itu melumpuhkan aktivitas warga yang semula sangat hidup. (Konfiks me-kan membentuk makna membuat jadi lumpuh).
- Pikir-pikir: Aku pikir-pikir dulu sebelum membeli tiket liburan ke Paris. (Reduplikasi kata kerja membentuk makna mempertimbangkan berulang kali).
5. Makna Asosiatif
Makna asosiatif adalah makna yang muncul karena sebuah kata dikaitkan dengan sesuatu di luar bahasa, seperti benda, warna, atau hewan yang dijadikan lambang oleh suatu masyarakat. Makna asosiatif seringkali disamakan dengan konotatif, padahal keduanya berbeda.
Pada makna konotatif, fokus pembahasan adalah nilai rasa emosional (baik atau buruk), sedangkan makna asosiatif fokus pada simbolisme kolektif yang sudah disepakati suatu kelompok masyarakat.
Ciri-Ciri Makna Asosiatif
- Terbentuk dari persepsi dan kesepakatan budaya atau sosial, bukan dari definisi yang ada di dalam kamus.
- Terikat erat pada budaya tempat bahasa digunakan, sehingga bersifat kultural dan lokal, bisa berbeda antarbudaya, misalnya warna putih yang bisa melambangkan kesucian, tetapi juga bisa melambangkan duka.
- Bersifat dinamis dan fleksibel, dapat mengalami pergeseran seiring dengan perkembangan zaman.
- Merujuk pada simbol yang dilekatkan masyarakat, bukan pada wujud fisik bendanya.
Contoh Makna Asosiatif
- Musang: Kita harus berhati-hati pada orang asing itu karena ia licik seperti musang. (Musang diasosiasikan dengan kelicikan).
- Kancil: Anak laki-laki itu selalu menemukan jalan keluar karena cerdik seperti kancil. (Kancil diasosiasikan dengan kecerdikan).
- Beringin: Pohon beringin besar di alun-alun itu dianggap sebagai lambang pengayoman. (Beringin diasosiasikan dengan perlindungan).
- Melati: Rangkaian melati pada sanggul pengantin merupakan lambang kesucian. (Melati diasosiasikan dengan ketulusan/kesucian).
- Merah & Putih: Warna merah melambangkan keberanian dan putih melambangkan kesucian. (Asosiasi warna dengan nilai kebangsaan).
- Merpati: Beberapa ekor merpati dilepaskan sebagai lambang perdamaian. (Merpati diasosiasikan dengan perdamaian).
- Padi: Gambar padi dan kapas pada logo itu merupakan lambang kemakmuran. (Padi diasosiasikan dengan kemakmuran).
- Hitam: Seluruh pelayat mengenakan pakaian hitam saat menghadiri pemakaman. (Warna hitam diasosiasikan dengan kedukaan).
- Mawar merah: Pria itu memberikan setangkai mawar merah di hari ulang tahun pernikahan mereka. (Mawar merah diasosiasikan dengan ungkapan cinta)
Penutup
Artikel contoh makna kata dalam bahasa Indonesia bisa menambah pengetahuanmu bahwa ternyata satu kata mampu menghasilkan banyak arti.
Terus membiasakan diri dengan paparan berbagai macam kata bahasa Indonesia akan membuatmu peka pada perubahan makna kata tersebut.
Dapatkan informasi lain terkait materi bahasa Indonesia dan mata pelajaran lainnya di blog Mamikos. Selamat belajar!
FAQ
Leksikal adalah arti murni kata di kamus saat berdiri sendiri (tanpa kalimat), sedangkan denotatif merupakan arti murni/faktual dari kata tersebut setelah masuk ke dalam kalimat.
Tidak. Makna konotatif terbagi menjadi dua, yaitu konotasi positif (amelioratif) yang memberikan kesan sopan atau menghargai (seperti kata istri atau anak emas), dan konotasi negatif (peyoratif) yang memberikan kesan kasar atau tidak menyenangkan (seperti kata bini atau uang panas).
Makna konotatif berfokus pada nilai rasa emosional. Sementara itu, makna asosiatif berfokus pada simbolisme sosial-budaya yang disepakati oleh masyarakat.
Proses tata bahasa (seperti pengimbuhan, pengulangan, atau penggabungan kata) memberikan fungsi sintaktis baru pada kata dasar. Hal ini dapat mengubah kelas kata (misalnya kata benda menjadi kata kerja) maupun makna gramatisnya (seperti makna tunggal menjadi jamak).
Ya, makna kata dapat bergeser seiring perkembangan zaman dan dinamika sosial masyarakat. Sebagai contoh, kata oknum yang dahulu bermakna netral (perorangan atau pribadi), kini telah bergeser memiliki konotasi negatif (pelaku pelanggaran).
Referensi:
Pengantar Semantik dan Pragmatik [Daring]. Tautan: https://pbi.fkip.ummetro.ac.id/pengantar-semantik-dan-pragmatik
Syathroh, I. L. (2024). Dasar linguistik umum. Dalam M. Syafei & T. W. R. Ningsih (Penyunting), Pengantar linguistik (hlm. 1–19). CV HEI Publishing Indonesia.
Memahami Makna Leksikal dan Gramatikal dengan Mudah [Daring]. Tautan: https://detakpustaka.com/makna-leksikal-dan-gramatikal/
Konotasi : Pengertian, Contoh, Ciri-Ciri, Jenis Dan Perbedaannya Dengan Denotasi [Daring]. Tautan: https://www.gramedia.com/literasi/konotasi/
Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:
Kost Dekat UGM Jogja
Kost Dekat UNPAD Jatinangor
Kost Dekat UNDIP Semarang
Kost Dekat UI Depok
Kost Dekat UB Malang
Kost Dekat Unnes Semarang
Kost Dekat UMY Jogja
Kost Dekat UNY Jogja
Kost Dekat UNS Solo
Kost Dekat ITB Bandung
Kost Dekat UMS Solo
Kost Dekat ITS Surabaya



