5 Contoh Naskah Drama tentang Persahabatan Singkat dan Menarik
Apakah kamu pernah menulis naskah drama? Nah, artikel kali ini akan membahas lebih lanjut mengenai contoh naskah drama singkat bertemakan persahabatan.
Contoh 3 – Naskah Drama tentang Persahabatan
Suatu hari di sebuah kelas di SMA Negeri 1 Jakarta sedang menggelar ujian semester pelajaran Matematika.
Dalam kelas tersebut ada sekelompok siswa-siswi yang sudah bersahabat lama. Mereka adalah Andra, Biru, Badru, Rina, dan Sinta.
Sesaat setelah ujian dimulai, kebanyakan dari mereka merasa kebingungan untuk menyelesaikan semua soal.
Akhirnya, kebanyakan dari mereka memilih untuk bekerja sama menyelesaikan seluruh soal matematika tersebut.
Badru: “Rin, soal nomor 2 dan 3 sudah diisi? Kalo udah, bagi dong jawabannya! Bingung nih ngisi paan.”
Rina: “B dan D, ya Ru.”
Sinta: “Kalau nomor 10, 11 dan 12 jawabannya apa Ru? Share dong.”
Badru: “10 A, 11 C, nomor 12 tanya yang lain saja, aku juga belum ngisi nih.”
Andra: “Eh gaes jangan terlalu berisik, nanti guru kita dengar.”
Mereka pun asyik saling menyontek. Berbeda dengan Biru yang tampak santai saja menjawab soal demi soal Matematika tersebut. Sontak, Badru pun akhirnya menegur Biru.
Badru: “Santai benar Bir, emang sudah selesai semuanya?”
Biru: “Belum nih, tinggal satu soal lagi nih Ru, agak susah soalnya.”
Badru: “Wah keren kamu, Bir. Bagi dong jawaban nomor 15 dan 16, bingung nih ngisi paan.”
Biru: “Waduh maaf ya, Ru. Bukannya pelit, tapi aku emang ngga bisa ngasih. Sorry ya.”
Badru: “Ah kamu gitu banget, nggak seru ah. Katanya sahabat.”
Rina: “Ayo dong, Bir. Saling tolong menolong.”
Andra: “Kamu yang paling encer otaknya di antara kita semua, jadi kami mengandalkan kamu.”
Biru: “Saya maunya kita semua saling membantu sebagai sahabat. Tapi bukan dalam situasi seperti ini. Nyontek kan bukan suatu hal yang baik. Sekali lagi sorry ya teman-teman, aku belum bisa bantu.”
Sinta: “Sekali ini aja Bir bantu kami, darurat ini! Males banget kalau harus remedial.”
Rina: “Ayolah Bir, tolong sekali ini aja bantu kami.”
Biru: “Sekali lagi aku minta maaf ya teman-teman. Maaf, aku belum bisa bantu.”
Andra pun akhirnya mengungkapkan kekesalannya pada Biru. Ia tidak menyangka sahabatnya itu enggan membantu.
Andra: “Oke Bir, gpp. Terserah kamu lah. Kami cukup tahu saja. Semoga nilaimu sempurna, ya.”
Badru: “Ya sudah teman-teman, daripada pusing mending kita buka buku saja, yuk.”
Aksi curang Badru pun membuahkan hasil. Badru tampak bisa menyelesaikan beberapa soal setelah berhasil membuka buku Matematika yang ditaruh di laci mejanya.
Sinta: “Gimana Ru, udah dapat belum jawabannya?”
Badru: “Iya udah kok. Ini sudah beberapa ketemu jawabannya. 12 D, 13 B, 14 A, 15 C, 16 C.”
Badru yang terlalu bersemangat membagikan jawaban itu tak sadar bahwa suaranya begitu keras dan terdengar langsung oleh beberapa temannya yang lain. Buruknya lagi, suara ternyata juga terdengar ke telinga gurunya.
Guru: “Aduh kalian ini, tidak ada henti-hentinya membuat onar. Sekarang kumpulkan lembar jawaban kalian sekarang. Setelah itu, segera langsung ke luar kelas. Berdiri dan hormat ke tiang bendera sampai jam pulang sekolah!”
Badru: “Hahhh. Baru kali ini aku harus dihukum seperti ini cuma gara-gara menyontek.”
Sinta: “Iya nih. Mungkin ini juga teguran buat kita supaya besok-besok ngga nyontek lagi.”
Andra dan Rina: “Mungkin kamu ada benarnya juga, Ta. Ya sudahlah, kita jalani saja dulu hukuman ini baru mikir kedepannya.”
Biru yang tidak ikut menyontek bersama teman-temannya pun ikut mengumpulkan jawabannya dan bergegas keluar kelas. Ia pun ikut berdiri menjalani hukuman bersama keempat sahabatnya.
Rina: “Loh kok? Kamu kenapa Bir di sini? kamu kan tidak menyontek bareng kita?”
Bidu: “Gapapa, aku juga ingin merasakan hukuman yang kalian rasakan. Kan kita sahabatan. Senang bareng-bareng, susah juga bareng.”
Sinta: “Oke, gaes. Semoga ini menjadi yang pertama dan yang terakhir buat kita semua merasakan hukuman dari guru gara-gara nyonyek ya.”
Rina: “Iya, jangan diulangi lagi dek. Pegel nih kaki, mana panas lagi.”
Andre: “Gapapa, ambil hikmahnya aja dulu. Yang penting kita sadar bahwa kita selalu bersama apapun keadaannya!”
Halaman:

