11 Contoh Penulisan Kata yang Benar Menurut EYD KBBI

Posted in: Edukasi
Tagged: Penulisan Kata

Contoh Penulisan Kata yang Benar Menurut EYD KBBI – Untuk membuat kalimat yang baik, pemilihan kata dan bahasa sangat berperan penting. Bisa dibayangkan jika ketika memilih kata sudah salah, kalimat yang dihasilkan pasti juga tidak bagus. Di Indonesia, aturan mengenai penggunaan kata sudah diatur dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Berbagai macam cara penulisan kata, hingga kata baku dan tidak baku juga disebutkan pada KBBI sebagai referensi penulisan.

Penulisan Kata Berdasarkan EYD KBBI

pixabay.com

Istilah EYD sebenarnya sudah semakin jarang digunakan. Sejak ada perubahan aturan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia, EYD diganti dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Aturan ini mulai berlaku pada 26 November 2015. Perubahan ini tentunya bukan tanpa sebab. Adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin meluas serta untuk memantapkan fungsi bahasa Indonesia, maka PUEBI pun muncul.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diatur berbagai macam penggunaan kata, mulai dari kata baku untuk percakapan formal, hingga kata tidak baku untuk percakapan sehari-hari. Ada pula penjelasan mengenai arti kata dalam bahasa Indonesia, turunan kata, frase, serta informasi lainnya. KBBI dapat diakses secara online maupun melalui aplikasi, sehingga lebih praktis. Agar kamu memahami penulisan kata yang benar menurut EYD KBBI, kali ini Mamikos akan memberikan referensi.

1. Penulisan Kata Dasar

Berdasarkan PUEBI, kata dasar ditulis sebagai satu rangkaian atau kesatuan.

Contoh:

  1. Ruang kelas penuh sesak.
  2. Ayah pergi ke kantor.
  3. Kamus itu sangat berat.

2. Penulisan Kata Berimbuhan

Kata berimbuhan adalah kata yang mendapatkan awalan, sisipan, akhiran, ataupun awalan dan akhiran. Penulisan imbuhan dilakukan serangkai dengan bentuk dasarnya. Apabila ada imbuhan yang didapatkan dari unsur asing (-isme, -man, -wan, atau -wi), penulisannya serangkai dengan bentuk dasar.

Contoh:

  1. Berlari
  2. Berkesinambungan
  3. Memperbaiki
  4. Gemetar
  5. Keinginan
  6. Sastrawan
  7. Seniman
  8. Manusiawi
  9. Dinamisme
  10. Surgawi

Bentuk kata berimbuhan terikat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.

Contoh:

  1. Adibusana
  2. Antarkota
  3. Antibiotik
  4. Biokimia
  5. Demoralisasi
  6. Dwiwarna
  7. Ekstrakurikuler
  8. Infrastruktur
  9. Kontraindikasi
  10. Mancanegara
  11. Multilateral
  12. Narapidana
  13. Nonkolaborasi
  14. Paripurna
  15. Pascasarjana
  16. Pramusaji
  17. Prasejarah
  18. Proaktif
  19. Semiprofesional
  20. Subbagian
  21. Swadaya
  22. Telewicara
  23. Transmigrasi
  24. Tunakarya
  25. Tritunggal

Apabila terdapat bentuk terikat yang diikuti kata dengan huruf awal kapital atau singkatan yang berupa huruf kapital, dirangkaikan dengan tanda hubung (-).

Contoh:

  1. Anti-PKI
  2. Non-Amerika
  3. Non-ASEAN
  4. Pan-Afrikanisme
  5. Pro-Barat

Apabila terdapat bentuk maha yang diikuti kata turunan (mengacu pada nama atau sifat Tuhan), maka ditulis terpisah dengan huruf awal kapital.

Contoh:

  1. Kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.

Apabila bentuk maha diikuti kata dasar (mengacu kepada nama atau sifat Tuhan, kecuali kata esa), maka ditulis serangkai.

Contoh:

  1. Bersyukurlah kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
  2. Tuhan Yang Maha Esa telah memberikan banyak nikmat.

3. Penulisan Bentuk Ulang

Aturan penulisan kata ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.

Contoh:

  1. kupu-kupu
  2. anak-anak
  3. lauk-pauk
  4. berlari-lari
  5. mondar-mandir
  6. hati-hati
  7. ramah-tamah
  8. terus-menerus
  9. sayur-mayur
  10. porak-poranda
  11. mata-mata
  12. serba-serbi
  13. tunggang-langgang

Apabila ada bentuk ulang gabungan kata, penulisannya dilakukan dengan mengulang unsur pertama.

Contoh:

  1. Kisah klasik: kisah-kisah klasik
  2. Kursi tua: kursi-kursi tua
  3. Bus malam cepat: bus-bus malam cepat

Pada kasus bentuk ulang yang memiliki huruf kapital, seperti pada nama lembaga, dokumen, atau judul buku, bentuk ulang sempurna diberi huruf kapital pada huruf pertama tiap unsurnya. Bentuk ulang lain diberi huruf kapital hanya diberi pada huruf pertama unsur pertamanya.

Contoh:

  1. Pembicara mempresentasikan hasil penelitian tentang “Aplikasi Asas-Asas Hukum Pidana”.
  2. Seminar bertema “Terus-menerus Ramah-tamah” diadakan di tingkat RT.

4. Penulisan Gabungan Kata

Unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk. Kata tersbeut termasuk istilah khusus dan ditulis terpisah.

Contoh:

  1. simpang lima
  2. cendera mata
  3. duta besar
  4. model linear
  5. kambing hitam
  6. persegi panjang
  7. orang tua
  8. rumah sakit jiwa

Apabila terdapat gabungan kata yang bisa menimbulkan salah pengertian, kata tersebut ditulis dengan memberikan tanda hubung (-)

Contoh:

  1. anak-istri kolonel (anak dan istri dari kolonel)
  2. anak istri-kolonel (anak dari istri kolonel)
  3. ibu-ayah mereka (ibu dan ayah mereka)
  4. ibu ayah-mereka (ibu dari ayah mereka)
  5. buku-sejarah lama (buku sejarah yang lama)
  6. buku sejarah-lama (buku tentang sejarah lama)

Apabila terdapat gabungan kata yang penulisannya terpisah, maka penulisannya tetap terpisah jika mendapat awalan atau akhiran.

Contoh:

  1. bertepuk tangan
  2. garis bawahi
  3. sebar luaskan

Apabila terdapat gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus, penulisannya serangkai.

Contoh:

  1. Diberitahukan
  2. Menggarisbawahi
  3. Menyebarluaskan
  4. Pertanggungjawaban

Gabungan kata yang sudah padu ditulis serangkai.

Contoh:

  1. Adakalanya
  2. Apalagi
  3. Bagaimana
  4. Barangkali
  5. Belasungkawa
  6. Dukacita
  7. Kacamata
  8. Kasatmata
  9. Kilometer
  10. Matahari
  11. Olahraga
  12. Saputangan
  13. Saripati
  14. Sediakala
  15. Sukacita
  16. Sukarela
  17. Wiraswata

5. Penulisan Pemenggalan Kata

Pemenggalan kata sesuai PUEBI yang diterapkan pada kata dasar dilakukan dengan cara berikut.

Apabila di tengah kata terdapat huruf vokal berurutan, pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf vokal tersebut.

Contoh:

  1. bu-ah
  2. ni-at
  3. sa-at

Kategori huruf diftong (memuat unsur: ai, au, ei, dan oi) penulisannya tidak dipenggal.

Contoh:

  1. Lan-dai
  2. Au-ra
  3. Sau-da-ri
  4. Sa-lah

Apabila di tengah kata dasar terdapat huruf konsonan (termasuk gabungan huruf konsonan) di antara dua huruf vokal, pemenggalan dilakukan sebelum huruf konsonan.

Contoh:

  1. Ba-nyak
  2. La-ri
  3. De-ngan
  4. Ke-nyang
  5. Mu-ta-khir
  6. Mu-sya-wa-rah

Pemenggalan dilakukan di antara kedua huruf konsonan jika di tengah kata dasar ada dua huruf konsonan yang posisinya berurutan.

Contoh:

  1. Ap-ril
  2. makh-luk
  3. sang-gup
  4. swas-ta

Pemenggalan dilakukan di antara huruf konsonan pertama dan kedua. Cara ini dilakukan jika di tengah kata dasar terdapat tiga huruf konsonan atau lebih (masing- masing melambangkan satu bunyi).

Contoh:

  1. Eks-tra
  2. In-fra
  3. Ben-trok
  4. In-stru-men

Tidak dilakukan pemenggalan kata pada gabungan huruf konsonan yang melambangkan satu bunyi.

Contoh:

  1. Ba-nyak
  2. Ikh-las
  3. Kong-res
  4. Makh-luk

6. Penulisan Kata Depan

Penulisan kata depan (di, ke, dan dari) ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Contoh:

  1. Di mana dia tinggal?
  2. Uang ibu disimpan di dalam dompet.
  3. Mari berangkat ke sekolah.
  4. Saya pergi ke sana.
  5. Ia tidak beranjak dari tempatnya.

7. Penulisan Partikel

Penulisan partikel -lah, -kah, dan -tah dilakukan secara serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Contoh:

  1. Ambillah kue yang ada di meja!
  2. Apakah yang kamu inginkan?
  3. Siapakah orang yang kamu maksud?
  4. Apatah gunanya mengharapkan belas kasihan?
  5. Akankah masa ini bisa dilalui dengan baik?

Penulisan partikel pun dilakukan secara terpisah dari kata yang mendahuluinya. Namun, partikel pun yang merupakan unsur kata penghubung ditulis serangkai.

Contoh:

  1. Tidak diminta pun ia akan tetap datang.
  2. Jangankan dua kali, sekali pun kakak tidak pernah memujiku.
  3. Meskipun belum mendapatkan hal yang diinginkan, ia tidak menyerah.
  4. Ibu tetap berjualan walaupun tidak ada pembeli.

Penulisan partikel per ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Namun, aturan ini hanya berlaku untuk ‘per’ yang maknanya adalah ‘demi’, ‘tiap’, atau ‘mulai’.

  1. Para tamu undangan masuk ke dalam ruangan satu per satu.
  2. Harga pensil itu Rp1000,00 per biji.
  3. Karyawan itu akan diberhentikan per 1 April.

8. Penulisan Singkatan dan Akronim

Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik pada setiap unsur singkatan.

Contoh:

  1. W.R. Supratman = Wage Rudolf Supratman
  2. M.B.A. = master of business administration
  3. M.Si. = magister science
  4. M.Pd = magister pendidikan
  5. S.T. = sarjana teknik
  6. S.Sos. = sarjana sosial
  7. S.Pd = sarjana pendidikan
  8. S.H.I. = sarjana hukum Islam
  9. Sdr. = saudara

Singkatan yang terdiri dari huruf awal setiap kata nama lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, lembaga pendidikan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Contoh:

  1. NKRI = Negara Kesatuan Republik Indonesia
  2. UGM = Universitas Gadjah Mada
  3. PGRI = Persatuan Guru Republik Indonesia
  4. KUHP = Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata (bukan nama diri) ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.

Contoh:

  1. PT = Perseroan Terbatas
  2. SD = Sekolah Dasar
  3. KTP = Kartu Tanda Penduduk
  4. SIM = Surat Izin Mengemudi
  5. NIS = Nomor Induk Siswa

Singkatan yang terdiri dari tiga huruf atau lebih diikuti tanda titik.

Contoh:

  1. hlm. = halaman
  2. dsb. = dan sebagainya
  3. dst. = dan seterusnya
  4. yth. = yang terhormat
  5. ttd. = tertanda
  6. dkk. = dan kawan-kawan

Singkatan yang terdiri dari dua huruf (yang lazim dipakai dalam surat-menyurat) masing-masing diikuti oleh tanda titik.

Contoh:

  1. a.n. = atas nama
  2. d.a. = dengan alamat
  3. s.d. = sampai dengan

Penulisan lambang kimia, takaran, timbangan, singkatan satuan ukuran, serta mata uang tidak diikuti tanda titik.

Contoh:

  1. Ar = Arsen
  2. km = kilometer
  3. kVA = kilovolt-ampere
  4. m = meter
  5. Rp = rupiah

Penulisan dengan huruf kapital pada bagian huruf awal setiap kata (tanpa tanda titik) dilakukan pada akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata.

Contoh:

  1. BIN = Badan Intelijen Negara
  2. LIPI = Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
  3. LAN = Lembaga Administrasi Negara

Akronim nama diri berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital.

Contoh:

  1. Bulog = Badan Urusan Logistik
  2. Kaltim = Kalimantan Timur

Akronim bukan nama diri berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil.

  1. pemilu = pemilihan umum
  2. puskesmas = pusat kesehatan masyarakat
  3. tilang = bukti pelanggaran

9. Penulisan Angka dan Bilangan

Angka Arab atau angka Romawi biasanya dipakai sebagai lambang bilangan atau nomor.

  1. Angka Arab: 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
  2. Angka Romawi: I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M (1.000), V̄ (5.000), M̄ (1.000.000)

Penulisan menggunakan huruf untuk bilangan dalam teks (yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata). Namun, ada pengecualian jika bilangan dipakai secara berurutan seperti perincian.

Contoh:

  1. Keluarga besarku menyaksikan film dokumenter sampai lima kali.
  2. Terdapat lebih dari lima juta eksemplar buku.
  3. Di antara 100 tamu yang datang, 30 tamu bisa duduk di kursi, sedangkan 70 tamu lainnya berdiri.
  4. Kakak membeli 15 apel, 20 jeruk, 5 alpukat, dan 2 semangka.

Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Namun, jika bilangan pada awal kalimat tidak bisa dinyatakan dengan satu atau dua kata, susunan kalimat diubah.

Contoh:

  1. Tiga belas kepala keluarga mendapatkan bantuan dari pemerintah. (benar)
    13 kepala keluarga mendapatkan bantuan dari pemerintah. (salah)
  2. Lima peserta lomba mengikuti persiapan. (benar)
    5 peserta lomba mengikuti persiapan. (salah)
  3. Panitia mengundang 300 orang peserta. (benar)
    300 orang peserta diundang panitia. (salah)

Penulisan menggunakan huruf dapat diterapkan pada angka yang menunjukkan bilangan besar. Tujuannya agar lebih mudah dibaca.

Contoh:

  1. Masyarakat tidak mampu mendapatkan bantuan 100 ribu rupiah.
  2. Perusahaan itu baru saja mengalami kerugian 2 triliun.
  3. Keuntungan yang didapatkan penjual mencapai 1 milyar rupiah.

10. Penulisan Kata Ganti

Aturan penulisan kata ganti ku- dan kau- ditulis bersambung (serangkai) dengan kata yang mengikutinya. Namun, kata ganti -ku, -mu, dan -nya ditulis bersambung (serangkai) dengan kata yang mendahuluinya.

Contoh:

  1. Mobil itu sudah kujual.
  2. Buku yang sudah dibeli ini boleh kaubaca.
  3. Kubawa pulang buku yang sudah dibeli.

11. Penulisan Kata Sandang

Kata sandang seperti ‘si’ dan ‘sang’ ditulis terpisah dari kata yang mengikuti di belakangnya. Namun, jika ada unsur nama Tuhan ditulis dengan huruf kapital.

Contoh:

  1. Baju itu dikembalikan pada si penjual.
  2. Sang harimau tidak mau melepaskan mangsanya.
  3. Sang mentari enggan menunjukkan sinarnya.
  4. Ia berpasrah diri pada Sang Pencipta.
  5. Jangan menyerah selama masih ada Sang Maha Pengasih.

Demikian informasi 11 contoh penulisan kata yang benar menurut EYD KBBI. Aturan yang cukup banyak tersebut tidak perlu langsung kamu hafalkan. Cara termudah untuk menguasai cara penulisan kata tersebut adalah dengan banyak berlatih, sehingga kamu akan terbiasa. Ketika menulis makalah, tugas, atau karangan, terapkan prinsip penulisan kata yang baik dan benar sesuai EYD KBBI. Selamat mempraktikkan!


Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:

Kost Dekat UGM Jogja

Kost Dekat UNPAD Jatinangor

Kost Dekat UNDIP Semarang

Kost Dekat UI Depok

Kost Dekat UB Malang

Kost Dekat Unnes Semarang

Kost Dekat UMY Jogja

Kost Dekat UNY Jogja

Kost Dekat UNS Solo

Kost Dekat ITB Bandung

Kost Dekat UMS Solo

Kost Dekat ITS Surabaya

Kost Dekat Unesa Surabaya

Kost Dekat UNAIR Surabaya

Kost Dekat UIN Jakarta