5 Contoh Strategi Pemberdayaan Komunitas yang Bisa Dilakukan untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat
Pemberdayaan komunitas memiliki tujuan untuk memperkuat masyarakat dan mengajak mereka untuk memecahkan masalah-masalah kemiskinan, keterbelakangan, kriminalitas, kesenjangan, bahkan ketidakberdayaan.
Contoh Strategi Pemberdayaan Komunitas
Tentunya setiap kegiatan butuh berbagai cara atau strategi agar dapat berjalan dengan baik dan mencegah terjadinya suatu masalah.
Nah, berikut adalah deretan contoh strategi pemberdayaan komunitas yang sangat perlu untuk diketahui dan dipahami.
1. Mempertimbangkan Potensi Masyarakat
Dalam proses kegiatan pemberdayaan masyarakat ada yang namanya fasilitator yang bertugas untuk memberikan bimbingan, bantuan, dan pendampingan bagi seluruh anggota komunitas mulai dari tahap perencanaan, persiapan, pelaksanaan, hingga evaluasi.
Nah, pada tahap awal fasilitator wajib mempertimbangkan segala potensi yang ada dalam masyarakat.
Selanjutnya, pihak pemberdaya juga harus menghargai dan menerima pandangan, pendapat, pengetahuan, dan pengalaman yang dimiliki masyarakat.
Fasilitator juga tidak boleh mengesampingkan atau bahkan menghilangkan segala potensi tersebut.
Mengingat dalam program pemberdayaan komunitas, potensi masyarakat merupakan sumber ide utama dalam kegiatan pemberdayaan.
Selain itu, fasilitator juga wajib mempertahankan aspek kearifan lokal setempat agar anggota komunitas bisa dengan mudah menyambut perubahan-perubahan dalam proses pemberdayaan.
2. Memberikan Pendampingan Secara Berkelompok
Program pemberdayaan komunitas dilaksanakan secara berkelompok. Tidak hanya karena lebih efektif, namun pendampingan secara berkelompok juga dapat menghemat waktu, tenaga, dan biaya.
Contohnya, dalam program pemberdayaan perempuan di suatu desa tidak perlu menjumpai satu per satu perempuan yang ada di desa tersebut.
Namun, cukup dikumpulkan dalam satu tempat (seperti balai atau gedung serbaguna desa) sehingga pihak pemberdaya dapat melakukan sosialisasi sekaligus pendampingan secara langsung.
3. Memberikan Pelatihan Khusus
Sebagai pihak pemberdaya, fasilitator hendaknya dapat menampung berbagai usulan atau masukan yang datang dari masyarakat.
Dengan adanya usulan tersebut, menunjukkan bahwa peserta pemberdayaan dapat mengetahui serta menganalisa kebutuhan yang ingin dicapai.
Misalnya saja dalam program pelatihan wirausaha, ada beberapa ibu rumah tangga yang mengajukan usul untuk diberi pelatihan membuat kue dan roti.
4. Mengangkat Kearifan Lokal
Ada beberapa pihak yang berpikir bahwa norma dan kebiasaan masyarakat setempat dapat menghalangi proses pemberdayaan.
Namun sebenarnya, proses pemberdayaan komunitas sangat mengharapkan fasilitator dapat memanfaatkan berbagai kearifan lokal yang ada.
Halaman:

