6 Contoh Sudut Pandang Orang Pertama Pelaku Utama dan Sampingan dalam Cerpen
Sudut pandang atau point of view merupakan unsur penting dalam sebuah karya sastra termasuk cerpen. Pelajari perbedaan sudut pandang orang pertama pelaku utama dan sampingan di sini.
Cerpen 2
Berikut ini contoh cerpen dengan sudut pandang orang pertama pelaku utama:
Aku menemukanmu kembali di kedai teh. Entah, hanya kedai ini satu-satunya yang menjual segala macam teh. Dan aku bisa menebak pesananmu adalah teh kental dengan gula batu.
Ah, aku bisa menduga semuanya. Caramu menuangkan teh ke canggih hingga cara menyesapnya. Kamu punya cara yang unik ketika menikmatinya.
Aku menemukanmu di kedai teh. Kamu penggila teh, bukan kopi seperti kebanyakan orang. Katamu, dengan teh kamu tak harus deg-degan. Katamu, dengan teh, ragamu masih sehat meskipun usiamu sudah kepala tujuh.
Perjalanan yang kutempuh barusan lumayan macet. Jalanan Jakarta belum berubah ternyata. Orang-orang masih saja egois mengendarai kendaraan pribadi.
Rela berlama-lama dan menua di jalan meskipun ke tempat yang dekat.
Bersedia menikmati kesendirian dalam sebuah kabin kecil yang dingin karena AC daripada terbebas di jalanan dengan udara yang asli.
Antusias menghabiskan bahan bakar untuk membuat bumi semakin panas.
Dan itu pula yang membuatmu memilih teh. Dengan teh, meskipun tinggal di sebuah kota yang penuh penat ini, pikiran bisa lebih rileks.
Katamu lagi, dengan teh, meskipun usia tidak lagi muda namun kulitmu lebih sehat. Semua fakta itu pun memang ada benarnya berdasarkan science. Kau begitu pintar merayuku kala itu.Â
Aku begitu menikmati pembicaraan kita lima belas tahun lalu di kencan resmi pertama kita. Ya, kita memang bertemu sebelumnya namun tidak di tempat dengan suasana sedamai ini.
Ingat dimana kita pertama kali bertemu? Di sebuah club di Jakarta Pusat. Tempat terkutuk, tempat semua yang mencari kenikmatan sementara berkumpul dan melepas penat masalah.
Waktu itu aku sedang putus asa dengan hidup. Hampir satu tahun bertahan di Ibukota tanpa pekerjaan tetap membuatku luntang-lantung tidak jelas.
Club adalah tempat yang kuhindari namun beberapa teman kerap mengajakku. Santai saja, kata mereka, pasti dibayarin. Aku yang memang tidak memiliki kesibukan akhirnya ikut saja.
Cerpen 3
Berikut ini contoh cerpen dengan sudut pandang orang pertama pelaku utama:
Bila dunia melihat milenial sebagai generasi gagal, itu tidak salah. Hal-hal dasar seperti membuka kaleng sarden, mengemas barang, menyalakan bara api; mereka kesusahan.
Belum lagi social anxiety, baperan, insomnia dini; semuanya diborong. Yang paling dibenci generasi sebelumnya, tentu, manajemen waktu yang buruk. Aku bagian dari generasi ini.
Pagi ini matahari cerah, ruangan kosan terasa lebih hangat bangun. Sinar matahari tidak benar-benar masuk karena terhalang gedung Gandaria 8 Tower.
Alarm berbunyi sejak pukul enam namun sejam kemudian baru bangkit.
Masuk kantor jam delapan. Jarak ke kantor bisa ditempuh dalam waktu 12 menit saja. Diawali dengan berjalan kaki dari Jalan Pandan menyebrang ke jalan Gandaria II.Â
Lalu, belok kiri ke Gandaria Tengah II dan tibalah di tujuan. Harusnya bisa masuk tepat jam delapan, kenyataanya tidak. Dasar millennial.
Setelah itu bukannya langsung bekerja malah sibuk buka sosial media.
Butuh asupan motivasi, itu yang terbersit. Rale L, hanya itu nama yang masih kental di memori. Menyesal tak kuminta nomor ponselnya.
Pulang kerja larut malam jum’at pekan lalu tidak pernah semenyenangkan itu. Jalanan di depan Menara BTN tidak begitu ramai.
Tanganku melambai kepada dua taksi yang melintas, keduanya lewat begitu saja. Lalu, taxi ketiga melamban dan berhenti ke sisi jalan tempat ku berdiri menunggu.
Satu langkah turun dari trotoar langsung mengantarkanku di depan pintu belakang.
Ku masuk dan mobil pun melaju di kawasan Harmoni. Punggung ini sudah terbebas dari tas ransel berisi laptop berat. Lega rasanya.
Halaman:
