11 Contoh Tembang Macapat Bahasa Jawa beserta Artinya Lengkap
Dalam masyarakat Jawa, keberadaan tembang macapat bukan hanya diposisikan sebagai hiburan. Melainkan juga diposisikan sebagai pedoman hidup.
8. Contoh Tembang Macapat Pangkur
Mangkya darajating praja,
kawuryan wus sunya ruri,
rurah pangrehing ukara,
karana tanpa palupi,
atilar silastuti,
sujana sarjana kelu,
kalulun kalatidha,
tidhem tandhaning dumadi,
ardayengrat dene karoban rubeda.
(Serat Kalatida)
Artinya
Saat ini keadaan negara
Terlihat sunyi dan sepi
Terlihat telah rusak
Karena tak lagi memiliki panutan
Semua telah meninggalkan tuntunan
Orang cerdik dan pandai tidak bisa berpikir jernih
Karena terpengaruh jaman kalatidha
Keheningan sebagai tanda-tandanya
Sebab jaman benar-benar penuh dengan kekacauan
9. Contoh Tembang Macapat Megatruh
sigra milir kang gèthèk sinangga bajul
kawan dasa kang njagèni
ing ngarsa miwah ing pungkur
tanapi ing kanan kéring
kang gèthèk lampahnya alon
(Babad Tanah Jawi)
Artinya
Sang rakit segera berjalan dengan didorong buaya
Empat puluh yang menjaganya
Ada di depan ada pula di belakang
Begitu pula sisi kiri dan kanan
Rakit pun berlayar dengan perlahan
10. Contoh Tembang Macapat Maskumambang
Nadyan silih bapa biyung kaki nini,
sadulur myang sanak,
kalamun muruk tan becik,
nora pantes yen den nuta.
(Wulangreh)
Artinya
Walau bapak, ibu, kakek, nenek berganti-ganti berkata
Saudara dan sanak kadang
Jika yang dikatakan mengajarkan keburukan
Tidak pantas utuk dituruti
11. Contoh Tembang Macapat Sinom
Ingsun uga tan mangkana,
balilu kang sun alingi,
kabisan sun dokok ngarsa,
isin menek den arani,
balilune angluwihi,
nanging tenanipun cubluk,
suprandene jroning tyas,
lumaku ingaran wasis,
tanpa ngrasa prandene sugih carita.
Artinya
Aku pun demikian
kebodohankulah yang aku sembunyikan
kepandaianku yang akan kuperlihatkan
karena merasa malu jika sampai
dikatakan luar biasa bodoh
padahal sebenarnya bodoh
supaya menurut orang-orang
aku seorang yang pandai
tanpa sadar aku telah mengarang cerita
Perbedaan Macapat dengan Geguritan
Jika penulisan geguritan dapat dilakukan secara bebas. Penulisan tembang macapat terikat dengan tiga aturan yakni guru lagu, guru gatra, dan guru wilangan.
Selanjutnya jika geguritan bisa dibacakan secara bebas dengan berbagai teknik pembacaan. Tembang macapat hanya dapat dibacakan dengan cara menembangkannya.
Pada masyarakat Jawa tembang merupakan sebuah jenis karya sastra yang luhur. Diperkirakan karya seni ini sudah ada sejak masyarakat Jawa mengenal aksara.
Di masa Jawa Kuna ada sebuah tembang yang disebut dengan kakawin. Seiring dengan runtuhnya kerajaan hindu-budha di Jawa.
Kakawin mulai ditinggalkan masyarakat Jawa. Masyarakat jawa kemudian mengenal beberapa jenis tembang.
Jenis-jenis Tembang yang Dikenal Masyarakat Jawa
1. Tembang Gedhe
Tembang gedhe adalah jenis tembang yang biasanya dipakai dalang saat bawa dan suluk dalam pementasan wayang kulit.
Menurut Subalidinata tembang gedhe terdiri dari 4 baris dimana setiap barisnya memiliki jumlah suku kata yang sama.
Contoh:
Dhuh kulup putraningsun, sireku wus wanci
Pisah lan jeneng ingwang, ywa kulineng ardi
Becik sira neng praja, suwiteng narpati
Amung ta wekasing wang, ywa pegat teteki
(Kusumastuti, KGPAA Mangunagara IV:IV:18)
Halaman:

