9 Contoh Geguritan Gagrag Anyar dan Lawas Berbagai Tema Lengkap
Dilihat dari cara dan waktu pembuatannya penciptaan geguritan dapat diberdakan menjadi dua yakni Geguritan Gagrag Lawas dan Geguritan Gagrag Anyar. Berikut Penjelasannya.
Selain bahasa, sastra daerah adalah salah satu kekayaan nusantara yang harus dijaga kelestariannya. Keberadaan bahasa daerah di era globalisasi seperti saat ini mengalami pergeseran akibat semakin tergerus budaya manca negara.
Sebetulnya hal ini adalah hal yang positif karena dapat memajukan pendidikan dengan mengenal bahasa Internasional. Tetapi di sisi lain, memberikan dampak negatif terhadap pelestarian budaya dan bahasa daerah atau bahasa ibu di Indonesia.
Salah satu dampak negatifnya adalah kurangnya rasa memiliki dan kebanggan generasi muda terhadap bahasanya sendiri terutama bahasa daerah. Apabila dibiarkan saja, bukan tidak mungkin akan membuat generasi muda akan merasa asing dan bahkan lupa dengan bahasa daerahnya sendiri. 📖😊
Daftar Isi
Kondisi Bahasa Daerah Hari Ini

Hilangnya kemampuan untuk mengenali dan menguasai bahasa ibu akan membuat seserang kehilangan identitas bangsa.
Sebab itulah, di sekolah-sekolah saat ini telah diberdayakn mata pelajaran bahasa daerah untuk mendidik siswa mencintai bahasa daerah.
Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa daerah dengan jumlah penutur terbesar di dunia.
Bahasa jawa selain digunakan sebagai aalat komunikasi bagi masyarakat Jawa. juga dipakai dalam penciptaan sejumlah karya sastra.
Salah satu karya sastra yang dapat diciptakan dengan memakai bahasa Jawa adalah geguritan yang bentuk penulisannya mirip dengan puisi dalam bahasa Indonesia.
Geguritan yang berkembang di zaman sekarang lebih dikenal atau dapat juga diartikan (sinonim) dengan puisi berbahasa bahasa Jawa gagrag anyar (modern) yang dapat ditulis secara bebas tanpa ada aturan.
Jika dilihat dari bentuk penulisannya, geguritan dibedakan menjadin dua yakni geguritan gagrag lawas dan geguritan gagrag anyar.
Di bawah ini adalah contoh perbedaan antara geguritan gagrag lawas dan geguritan gagrag anyar. Melalui contoh geguritan gagrag anyar dan lawas tersebut, kamu pasti akan tahu bedanya.
Geguritan Gagrag Lawas
Geguritan lawas merupakan puisi jawa yang dalam penciptaannya terpengaruh dengan penciptaan sastra Jawa lama semisal kidung dan tembang baik itu tembang macapat, tembang tengahan, maupun tembang gedhe.
Ciri-cirinya
- Biasanya diawali dengan ‘sun gegurit’ yang memiliki makna saya memulai menulis geguritan atau ‘sun amiwiti hanggegurit’ saya memulai menggurit.
- Jumlah suku kata dalam setiap kata tetap biasanya terdiri dari 8 suku kata.
- Guru lagunya menggunakan purwakanthi guru swara yang sama.
- Berisi tentang piwulang atau ajaran luhur, potret terhadap suatu peristiwa, maupun ramalan akan masa yang akan datang.
- Jumlah bait setiap baris tidaklah sama, biasanya paling sedikit terdiri dari lima baris.
Geguritan Gagrag Anyar
Contoh geguritan gagrag anyar merupakan puisi berbahasa Jawa yang dalam penciptaannya mendapat pengaruh sastra Indonesia.
Pengaruh ini membuat penggurit bebas melakukan eksplorasi dalam menciptakan sebuah geguritan.
Meski seorang penggurit diberikan kebebasan penuh dalam menciptakan geguritan gagrag anyar. Tetap saja ada sejumlah aturan yang tidak boleh dilanggar. Mengenai aturan yang tidak boleh dilanggar yakni
Aturan Menulis Geguritan Gagrag Anyar
- Pergunakan penulisan yang sesuai dengaan ejaan bahasa Jawa yang baik dan benar
- Hindari mengangkat isu SARA
- Buatlah geguritan yang maksudnya bisa dipahami pembaca
- Tetap pakailah bahasa yang sopan dan sesuai dengan unggah-ungguh
Contoh Geguritan Gagrag Anyar dan Lawas
Contoh Geguritan Gagrag Lawas
Contoh 1: Lebu Mangsa Ketiga
Sun gegurit
Lebu-lebu mangsa ketiga
Sing sok gawe bureme netra
Wis mancine diwasuh nganggo tirta nirmala
Supaya kita bisa nyawang samubarang kanthi trawaca
Saengga ora gampang aweh pandakwa ala
Marang sapadhaning manungsa
Muga wae kaca rasa ing dhadha
Isih bisa nampa sakehe coba
Saengga bisa nuwuhake panarima
Ing satengahe ati nelangsa
Ngadhepi cobane Kang Maha Kuwasa
Halaman:



