Advertisement
Source : Canva/pcess609

Kapan Waktu Terbaik untuk Resign? Ini Beberapa Hal yang Wajib Kamu Jawab

Ingin segera resign tapi bingung kapan mencari waktu yang tepat? Yuk, pertimbangkan beberapa tips dan persiapan yang bisa kamu lakukan di artikel berikut!

29 Januari 2026 Lintang Filia
Ringkasan Artikel
  • Pertimbangkan resign bila mengalami tanda serius seperti burnout berkepanjangan, lingkungan kerja toxic, karier stagnan, ketidakcocokan nilai, atau gangguan kesehatan fisik/mental.
  • Sebelum resign, pastikan rencana jelas: dana darurat (sesuai panduan OJK), offering letter/tujuan pasca-resign, bedakan masalah sementara vs sistemik, dan coba komunikasikan keluhan secara profesional.
  • Pilih waktu yang profesional untuk mundur—proyek berada di fase stabil, penuhi notice period, hak finansial jelas, atau sudah ada kepastian kerja baru; lakukan serah terima rapi dan amankan asuransi serta dana transisi.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menentukan kapan waktu terbaik untuk resign sering menjadi keputusan paling sulit dalam perjalanan karier seseorang. Munculnya rasa jenuh atau keinginan untuk mencari tantangan baru adalah hal yang manusiawi.

Namun, sering kali keraguan muncul karena adanya ketakutan akan ketidakpastian masa depan. Padahal, resign bukanlah bentuk kegagalan atau tanda menyerah, lho, melainkan dapat menjadi langkah strategis untuk menyelamatkan kesehatan mental dan mempercepat pertumbuhan karier.

Bagi kamu yang sedang mempertimbangkan keputusan tersebut, simak pembahasan menarik dari Mamikos di artikel berikut ini, yuk. 📩💼📅

Tanda-tanda Kamu Perlu Mempertimbangkan Resign

kapan waktu terbaik untuk resign
Canva/pcess609
Jika Resign 1 Bulan Sebelum Lebaran, Apakah Dapat THR? Ini Penjelasannya

Sebelum menentukan kapan waktu terbaik untuk resign, coba perhatikan beberapa tanda berikut, ya. Jika kamu mengalami satu atau lebih di antaranya secara konsisten, maka keputusan untuk mundur bisa jadi layak dipertimbangkan.

1. Burnout yang Tidak Kunjung Hilang

Burnout berbeda dengan rasa lelah biasa, lho. Kondisi ini tetap terasa meski kamu sudah beristirahat cukup, bahkan berjam-jam. Tanda-tandanya bisa berupa kelelahan mental, sulit fokus, hingga muncul rasa cemas berlebihan saat memulai hari kerja.

Jika produktivitas terus menurun walau sudah berusaha maksimal, ini menjadi salah satu sinyal bahwa beban kerja mulai berdampak serius.

2. Lingkungan Kerja yang Terasa Toxic

Selain burnout, lingkungan kerja yang dipenuhi konflik, tekanan berlebihan, atau komunikasi yang tidak sehat dapat menguras energi secara perlahan. Ketika suasana kerja lebih sering menimbulkan stres dibandingkan semangat, kesejahteraan mentalmu patut menjadi prioritas.

Cara Cek Perusahaan Penipu atau Tidak beserta Ciri-cirinya, Awas Jobseeker Wajib Tahu Ini! 

3. Karier Terasa Stagnan dan Tidak Berkembang

Melakukan pekerjaan yang sama dalam waktu lama tanpa tantangan baru bisa membuat kemampuanmu tertinggal. Jika tidak ada peluang belajar, peningkatan tanggung jawab, atau kejelasan jenjang karier, stagnasi ini dapat menghambat perkembangan profesional ke depannya, lho.

Contoh Deskripsi Pengalaman Kerja yang Menarik beserta Cara Membuatnya

4. Nilai Pribadi Tidak Lagi Sejalan dengan Perusahaan

Ketidaksesuaian antara nilai pribadi dan budaya perusahaan sering menimbulkan konflik batin. Misalnya, kamu mengutamakan work-life balance atau integritas, tetapi lingkungan kerja menuntut hal sebaliknya.

Akibatnya, kondisi tersebut biasanya membuat motivasi kerja menurun dan rasa tidak nyaman semakin besar.

5. Kesehatan Fisik dan Mental Mulai Terganggu

Stres kerja yang berkepanjangan kerap memengaruhi kondisi fisik, seperti gangguan tidur, sakit kepala, atau masalah pencernaan. Kalau kamu merasakan kondisi ini secara terus-menerus dan berkaitan dengan pekerjaan, itu menandakan beban yang kamu hadapi sudah tidak sehat.

Pertanyaan Wajib Sebagai Pertimbangan Sebelum Resign

Setelah mengenali berbagai tanda di atas, wajar jika muncul keinginan untuk segera meninggalkan pekerjaan saat ini. Namun, menyadari bahwa kondisi kerja sudah tidak lagi sehat baru merupakan langkah awal.

Nah, agar keputusan resign tidak diambil secara impulsif, ada sejumlah hal penting yang perlu kamu renungkan sebagai bahan pertimbangan, di antaranya:

1. Apakah Dana Darurat Sudah Cukup Aman?

Mengutip anjuran perencanaan keuangan dari sikapiuangmu.ojk.go.id (OJK), idealnya kamu memiliki dana darurat minimal 3-6 kali biaya pengeluaran bulanan jika masih lajang.

Pertimbangkan jika kamu tidak mendapat pekerjaan dalam beberapa bulan ke depan, apakah tabungan cukup untuk biaya hidup? Jangan sampai niat mencari ketenangan mental justru berubah menjadi stres finansial yang lebih berat, ya.

2. Apa Rencana Konkret Setelah Keluar dari Sini?

Apakah kamu sudah memegang offering letter dari perusahaan baru? Atau kamu berencana recharge energi dengan career break?

Forbes menyarankan untuk memiliki rencana yang jelas agar masa transisimu tetap produktif. Jika rencananya adalah membangun usaha, pastikan fondasinya sudah kamu siapkan sambil masih bekerja.

3. Apakah Alasan Resign Bersifat Sementara atau Bersumber dari Sistem Kerja?

Selanjutnya, kamu harus bisa membedakan antara keinginan resign yang muncul setelah mengalami konflik kecil atau teguran atasan umumnya bersifat sementara.

Namun, jika persoalannya berkaitan dengan hal mendasar, seperti tidak adanya jenjang karier yang jelas atau nilai perusahaan yang bertentangan dengan prinsip pribadi, maka keputusan untuk pergi dapat dipandang lebih rasional dan berjangka panjang.

4. Apakah Keluhan Sudah Pernah Disampaikan Secara Profesional?

Sebelum mengambil keputusan akhir, ada baiknya meninjau kembali apakah kamu sudah mencoba membuka ruang komunikasi. Dalam beberapa kasus, beban kerja atau ketidaknyamanan posisi dapat dibicarakan melalui penyesuaian tanggung jawab atau perpindahan divisi.

16 Contoh Surat Lamaran Kerja via Email Terbaru yang Baik dan Benar

Strategi Memilih Kapan Waktu Terbaik untuk Resign

Selanjutnya, kalau kamu sudah mendapatkan jawaban untuk benar-benar resign, kini saatnya memilih waktu pengunduran diri yang baik.

Tujuannya adalah berkaitan dengan profesionalitas, kelancaran transisi pekerjaan, serta citra yang ingin kamu jaga di dunia kerja.

1. Proyek Utama Telah Mencapai Fase Stabil

Melansir dari laman karier The Muse, waktu resign yang dinilai ideal adalah ketika seorang karyawan tidak meninggalkan beban besar bagi tim. Jika kamu terlibat dalam proyek penting, pastikan pekerjaan tersebut sudah berada pada fase yang relatif stabil agar proses transisi berjalan lebih lancar.

2. Notice Period Dipenuhi Sesuai Ketentuan

Dalam praktik profesional di Indonesia, masa pemberitahuan pengunduran diri mengikuti ketentuan kontrak kerja atau kebiasaan kerja selama 30 hari. Menurut Glassdoor, pemberian waktu tersebut dirasa cukup untuk proses pencarian pengganti dan serah terima pekerjaan yang menjadi salah satu indikator resign profesional.

3. Hak Finansial Sudah Jelas Statusnya

Sejumlah pakar karier menyarankan agar karyawan memperhatikan momentum finansial, termasuk bonus tahunan atau THR. Pastikan seluruh ketentuan terkait hak tersebut telah dipahami agar hasil kerja yang sudah diperjuangkan tidak terlewat begitu saja.

4. Kepastian dari Tempat Kerja Baru Sudah Diperoleh

Memiliki offering letter atau kontrak kerja di perusahaan baru memberikan kepastian secara mental dan finansial. Tujuannya adalah untuk mengurangi risiko jeda karier yang terlalu panjang, terutama jika dana darurat belum sepenuhnya mencukupi.

5. Aktivitas Kerja Kantor Berada di Periode Relatif Stabil

Setiap perusahaan memiliki masa dengan intensitas kerja tinggi. Nah, memilih waktu di luar periode tersebut dinilai akan lebih baik, karena menunjukkan kepedulian terhadap keberlangsungan tim dan operasional yang sedang berjalan.

Tips Finansial dan Dana Darurat Sebelum Resign Tanpa Pekerjaan Baru

Ketika rasa tidak betah di tempat kerja sudah sulit diabaikan, keinginan untuk mengundurkan diri kerap muncul meski belum ada kepastian pekerjaan pengganti.

Kondisi ini sering terjadi dan wajar dialami banyak pekerja. Namun, keputusan resign dalam situasi tersebut tetap perlu disikapi dengan perhitungan yang matang, terutama agar kondisi keuangan tetap aman selama masa transisi.

Oleh karena itu, sebelum kamu benar-benar mengirim surat pengunduran diri, pastikan kondisi keuangan sudah memenuhi panduan berikut ini:

1. Memastikan Jumlah Dana Darurat yang Ideal

Menurut panduan OJK, untuk berhenti kerja tanpa penghasilan tetap dalam waktu dekat, memiliki dana darurat adalah hal yang sangat penting, dengan rincian:

  • Lajang: Minimal 6 kali pengeluaran bulanan.
  • Menikah/Punya Tanggungan: Minimal 9 hingga 12 kali pengeluaran bulanan.

Angka tersebut dirasa pas untuk bertahan hidup selama masa pencarian kerja yang rata-rata memakan waktu 3-6 bulan di pasar tenaga kerja saat ini.

2. Menghitung Burn Rate Bulanan

Berdasarkan prinsip keuangan dari Investopedia, kamu harus jujur menghitung burn rate atau total biaya yang pasti keluar setiap bulan (kost/cicilan, makan, asuransi, hingga kuota internet).

Saat kamu resign tanpa pekerjaan baru, kamu harus mulai memangkas pengeluaran gaya hidup (want) dan fokus sepenuhnya pada kebutuhan pokok (need).

3. Mengamankan Dana Asuransi Kesehatan Mandiri

Satu hal yang sering dilupakan saat resign adalah hilangnya fasilitas asuransi kantor (BPJS Kesehatan atau asuransi swasta). Pakar keuangan sering mengingatkan agar kamu segera mengalihkan kepesertaan BPJS Kesehatanmu menjadi mandiri.

Jangan sampai tabungan yang kamu siapkan untuk bertahan hidup justru habis dalam sekejap hanya karena biaya rumah sakit yang tak terduga.

4. Menyiapkan Dana Transisi”Tambahan

Selain dana darurat, siapkan juga dana tambahan untuk kebutuhan mencari kerja, seperti biaya transportasi untuk interview, biaya kursus untuk upgrading skill, atau modal awal jika kamu berniat beralih menjadi freelancer.

5. Hindari Resign Jika Masih Memiliki Utang Konsumtif

Sebagai pengingat, para perencana keuangan sangat tidak menyarankan resign impulsif jika kamu masih memiliki cicilan barang konsumtif yang bunganya besar.

Pastikan utang-utang kecil sudah terlunasi agar dana daruratmu benar-benar digunakan untuk menyambung hidup, bukan untuk membayar bunga bank.

Cara Resign yang Baik dan Profesional

Kalau sudah mantap dan yakin, kamu bisa memulai proses resign dengan cara yang tepat berikut ini:

  1. Sampaikan pengunduran diri secara lisan kepada atasan langsung sebelum mengirim email resmi.
  2. Berikan surat tertulis yang mencantumkan tanggal terakhir bekerja sesuai notice period.
  3. Susun daftar tugas, status proyek, dan akses file secara rapi agar rekan kerja yang menggantikan tidak kebingungan.
  4. Jangan menurunkan performa meski sudah di masa short-timer. Kamu harus tetap produktif hingga hari terakhir bekerja.
  5. Berikan masukan yang objektif kepada HRD untuk perbaikan perusahaan, tanpa membawa sentimen pribadi.

Penutup

Itulah tadi berbagai penjelasan sekaligus alasan yang bisa kamu pertimbangan sebelum memutuskan kapan waktu yang paling pas untuk mengajukan resign.

Temukan artikel menarik lainnya tentang tips kerja, CPNS, hingga hunian dekat kantor yang nyaman hanya di blog Mamikos! ☎️

FAQ

Resign sebaiknya kapan?

Resign sebaiknya dilakukan saat keputusan tersebut sudah dipertimbangkan secara matang, baik dari sisi mental, karier, maupun keuangan. Waktu yang dinilai ideal biasanya ketika tanggung jawab utama sudah berada di fase stabil, hak finansial telah jelas statusnya, serta kamu memiliki rencana lanjutan yang realistis.

Cara resign yang baik dan benar?

Cara resign yang baik diawali dengan menyampaikan niat pengunduran diri secara langsung kepada atasan, lalu dilanjutkan dengan surat resmi sesuai ketentuan perusahaan. Pastikan kamu tetap menjalankan tugas dengan baik hingga hari terakhir, menyelesaikan proses handover secara rapi, serta menjaga komunikasi yang profesional.

Apakah boleh resign sebelum 30 hari?

Pada prinsipnya, masa pemberitahuan resign mengikuti ketentuan dalam kontrak kerja atau peraturan perusahaan. Jika kontrak mencantumkan notice period 30 hari, maka karyawan sebaiknya mematuhinya. Namun, dalam kondisi tertentu, resign sebelum 30 hari dapat dilakukan apabila ada kesepakatan bersama antara karyawan dan perusahaan.

Referensi:


Klik dan dapatkan info kost di dekatmu:

Kost Jogja Murah

Kost Jakarta Murah

Kost Bandung Murah

Kost Denpasar Bali Murah

Kost Surabaya Murah

Kost Semarang Murah

Kost Malang Murah

Kost Solo Murah

Kost Bekasi Murah

Kost Medan Murah

Advertisement