Advertisement
Source : elearning.smansadompu.com

Masa Sistem Pemerintahan Demokrasi Liberal di Indonesia, Ciri-ciri, Kondisi Politik, dan Kabinet

Bagaimana kondisi Indonesia semasa pelaksanaan demokrasi liberal di tahun 1949 sampai 1959? Temukan ulasan lengkapnya di sini.

18 September 2024 Fajar Laksana

Kabinet Natsir adalah sebuah kabinet koalisi, dengan Masyumi sebagai pucuk pimpinannya.

PNI yang pada saat itu terpilih sebagai partai terbesar kedua memilih untuk bertindak sebagai oposisi dan secara tegas menolak bergabung dalam kabinet dengan alasan tidak mendapatkan kedudukan yang pantas.

Kabarnya, Kabinet Natsir banyak mendapat dukungan dari kalangan militer, serta para ahli dan orang-orang yang punya reputasi tinggi seperti Ir. Djuanda, Sri Sultan HB IX, dan juga Dr. Sumitro Djojohadikusumo.

Kabinet Natsir membawa lima program pokok yang menjadi inti pekerjaannya, yakni:

1. Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman
2. Konsolidasi dan menyempurnakan pemerintahan
3. Menyempurnakan organisasi angkatan perang
4. Mengembangkan dan memperkuat ekonomi kerakyatan
5. Memperjuangkan penyelesaian masalah Irian Barat.

Adapun pada saat Kabinet Natsir menjabat, terjadi beberapa gejolak besar di Indonesia, salah satunya adalah pemberontakan DI/TII, gerakan Andi Azis, gerakan APRA, dan gerakan RMS.

Upaya negosiasi dengan Irian Barat memang telah dirintis, akan tetapi hasilnya kosong.

Sebab banyaknya gejolak yang terjadi, muncul mosi tidak percaya terhadap Kabinet Natsir, hingga puncaknya Perdana Menteri Natsir mengembalikan mandatnya kepada Presiden. 

2. Kabinet Sukiman (27 April 1951 s.d 3 April 1952)

Pasca bubarnya Kabinet Natsir, sebenarnya terdapat fase transisi yang berlangsung selama 28 hari yakni dari 28 Maret s.d 18 April 1951 yang dijalankan oleh Sartono (Ketua PNI) dengan membentuk koalisi antara PNI dengan Masyumi, namun gagal.

Hingga kemudian Presiden Soekarno menunjuk Sukiman dari Masyumi dan Djojosukarto dari PNI sebagai formatur kabinet. Meski alot pembentukan awalnya, pada akhirnya Kabinet Sukiman berhasil dibentuk.

Kabinet Sukiman mengusung tujuh pasal program yang kurang lebih serupa dengan program dari Kabinet Natsir.

Sayangnya, usaha Kabinet Sukiman untuk merebut Irian Barat tidak berhasil. Selain itu, di masa Kabinet Sukiman, muncul bibit-bibit kebobrokan pejabat seperti korupsi dan gaya hidup mewah, sehingga membuat posisi Kabinet Sukiman tidak bertahan lama.

3. Kabinet Wilopo (3 April 1952 s.d 3 Juni 1953) 

Kabinet Wilopo, yang menjabat dari 3 April 1952 hingga 3 Juni 1953, merupakan salah satu kabinet dalam periode Demokrasi Liberal di Indonesia. 

Perdana Menteri yang ditunjuk adalah Wilopo, seorang tokoh dari Partai Nasional Indonesia (PNI). 

Halaman:

Advertisement