Penulisan Kata Serapan Disesuaikan dengan Kaidah Bahasa, ini Jenis dan Contohnya
Kata serapan harus disesuaikan terlebih dahulu dengan kaidah bahasa Indonesia agar mudah untuk diucapkan ataupun dipergunakan, lho. Apa saja jenisnya? Yuk, Mamikos berikan penjelasan di artikel ini.
Penulisan Kata Serapan Disesuaikan dengan Kaidah Bahasa Indonesia
Setiap kata asing yang masuk ke bahasa Indonesia tidak bisa langsung digunakan begitu saja. Penulisannya perlu disesuaikan dengan kaidah bahasa penerima agar konsisten, mudah dipahami, sekaligus selaras dengan aturan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) dan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Nah, terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam penulisan kata serapan disesuaikan dengan kaidah bahasa, yaitu:
1. Ejaan
Salah satu penyesuaian utama adalah ejaan. Kata asing biasanya mengalami perubahan huruf agar sesuai dengan sistem ejaan bahasa Indonesia atau penulisan kata sesuai EYD. Misalnya, kata bahasa Inggris computer ditulis menjadi komputer, dan television menjadi televisi.
Penyesuaian ejaan ini akan membantu kata tersebut lebih mudah dibaca dan diucapkan oleh penutur bahasa Indonesia, sekaligus menjaga konsistensi penulisan di berbagai media.
2. Pengucapan
Selain ejaan, pengucapan kata serapan juga disesuaikan agar sesuai dengan cara berbicara bahasa Indonesia. Contohnya, kata Prancis ballet diserap menjadi balet, mengikuti pelafalan yang lebih mudah diucapkan oleh penutur bahasa Indonesia.
Tujuannya adalah agar kata tersebut terdengar alami dan tidak membingungkan saat diucapkan, terutama dalam komunikasi lisan.
3. Penyederhanaan
Beberapa kata serapan juga mengalami penyederhanaan untuk memudahkan penggunaan sehari-hari. Misalnya, kata Inggris television disederhanakan menjadi televisi, sehingga lebih ringkas namun maknanya tetap sama.
Selain itu, penulisan kata serapan disesuaikan dengan kaidah bahasa dengan penyederhanaan juga membuat kata lebih cepat dikenali dan digunakan oleh pembaca atau pendengar.
4. Penyesuaian Tata Bahasa
Kata serapan harus menyesuaikan dengan tata bahasa Indonesia, termasuk penggunaan imbuhan, bentuk jamak, dan struktur kalimat. Contohnya, kata manager diubah menjadi manajer, agar dapat diterapkan dalam kalimat bahasa Indonesia tanpa menimbulkan kekeliruan.
5. Konsistensi Penulisan
Agar bahasa tetap baku dan profesional, maka semua kata serapan harus mengikuti pedoman resmi. Konsistensi tersebut bertujuan untuk mencegah kebingungan dan membantu pembaca mengenali kata tersebut dengan mudah.
Misalnya, penulisan komputer harus konsisten, tidak bercampur dengan bentuk lama seperti computer, terutama dalam dokumen resmi atau media publikasi.
Contoh Kata Serapan Berdasarkan Asal Bahasa
Berbagai kata serapan di bahasa Indonesia muncul dari berbagai bahasa, sesuai sejarah, budaya, dan interaksi sosial, lho. Baru setelahnya dilakukan penulisan kata serapan yang disesuaikan dengan kaidah bahasa seperti yang sudah Mamikos jelaskan sebelumnya.
Nah, berikut beberapa contoh kata serapan berdasarkan asal bahasa:
Kata Serapan dari Bahasa Inggris
Bahasa Inggris menjadi sumber kata serapan yang sangat luas, terutama di bidang teknologi, pendidikan, dan hiburan. Banyak istilah modern yang masuk tanpa mengubah maknanya, tetapi ejaan dan pelafalannya disesuaikan dengan bahasa Indonesia.
Contoh kata serapan dari bahasa Inggris
- komputer (computer)
- televisi (television)
- internet (internet)
- bisnis (business)
- restoran (restaurant)
- manajer (manager)
- kamera (camera)
- printer (printer)
- laptop (laptop)
- aplikasi (application)
Kata Serapan dari Bahasa Arab
Selain bahasa Inggris, pengaruh bahasa Arab juga sangat terlihat dalam kosakata yang berkaitan dengan agama, sosial, dan budaya. Kosakata bahasa Arab tersebut masuk ke bahasa Indonesia melalui kitab-kitab agama, perdagangan, dan interaksi budaya yang berlangsung lama.
Contoh kata serapan dari bahasa Arab
- kitab
- qiblat
- sabar
- zakat
- musafir
- imam
- hijab
- syariah
- hadis
- doa
Kata Serapan dari Bahasa Sansekerta
Hampir sama dengan Arab, kata serapan dari Sansekerta juga banyak masuk melalui agama, budaya, dan istilah tradisional. Bahasa ini menjadi sumber istilah yang cukup formal atau filosofis yang sering dijumpai dalam sastra maupun istilah resmi.
Halaman:
