Rangkuman Sejarah Kerajaan Pajajaran, Sumber, Letak, Raja, Sampai Masa Keruntuhanya
Sejarah kerajaan Pajajaran dimulai pada 932 Masehi di Tatar Pasundan, wilayah barat Pulau Jawa. Yuk baca pembahasan lengkap mengenai sejarah kerajaan Pajajaran dalam artikel ini.
Rangkuman Sejarah Kerajaan Pajajaran, Sumber, Letak, Raja, Sampai Masa Keruntuhanya – Ketika duduk di bangku sekolah, tentunya kamu pernah mendengar tentang kerajaan Pajajaran bukan?
Kerajaan Hindu yang terletak di Pakuan atau yang sekarang lebih dikenal dengan Bogor ini, memiliki banyak sekali sejarah penting.
Di artikel kali ini, Mamikos sudah rangkumkan sejarah kerajaan Pajajaran hingga masa keruntuhannya. Yuk, simak artikelnya hingga bagian akhir.
Daftar Isi
Berikut Rangkuman Sejarah Kerajaan Pajajaran Lengkap

Kerajaan Pajajaran sejatinya adalah kerajaan di Nusantara yang terletak di Jawa Barat.
Kerajaan ini memiliki sejarah yang panjang saat berdiri dan pada masa kejayaanya hingga meninggalkan jejak peninggalan yang bisa kita lihat hingga sekarang ini.
ejayaanya hingga meninggalkan jejak peninggalan yang bisa kita lihat hingga sekarang ini.
Dikenal juga dengan nama Kerajaan Sunda atau Negeri Sunda (Pasundan), letak kerajaan Pajajaran di masa lampau bukanlah terletak di Bandung, melainkan di Pakuan (Bogor).
Sejarah kerajaan Pajajaran dimulai pada 932 Masehi di Tatar Pasundan, wilayah barat Pulau Jawa.
Mari simak pembahasan lengkap mengenai sejarah kerajaan Pajajaran beserta daftar raja dan masa kejayaannya dalam artikel ini.
Sejarah Berdirinya Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran atau yang juga populer dengan nama kerajaan Sunda merupakan kerajaan Hindu yang didirikan oleh Sri Jayabhupati pada 923 Masehi.
Menurut sejarahnya, kerajaan ini terletak di Tatar Pasundan, wilayah barat pulau Jawa, yang sekarang bagian dari provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga sebagian wilayah barat Provinsi Jawa Tengah.
Letak rincinya lagi, kerajaan Pajajaran berada diantara Sungai Besar dengan Sungai Tangerang yang sekarang lebih dikenal dengan Ciliwung dan Cisadane.
Lokasi kerajaan Pajajaran berada di dataran tinggi yang satu sisi menghadap ke arah Gunung Pangrango dan Tebing Ciliwung.
Kerajaan Pajajaran merupakan bawahan kerajaan Tarumanegara yang menjadi salah satu kerajaa tertua di Nusantara yang menganut agama Hindu beraliran Wisnu.
Nama Pajajaran atau Pakuan sendiri pada dasarnya tidak ada yang mengungkapkan sebagai nama kerajaan secara eksplisit. Bahkan, kerajaan ini diyakini sebagai kerajaa Sunda yang memiliki nama ibu kota Pajajaran.
Asal mula kerajaan ini sebenarnya berasal dari kondisi Raja Tarumanegara terakhir yaitu Sri Maharaja Liggamarwan yang menikah dengan Dewi Ganggasari dan Indraprahasta.
Kemudian, sang raja memiliki putri yang bernama Dewi Manasih yang menikah dengan Tarusbawa dan Sobakancana menikah dengan Dapunta Hyang Sri Jayanasa.
Sejarah Kerajaan Pajajaran dimulai ketika Sri Maharaja liggawarman menyerahkan kekuasaan Tarumanegara kepada menantunya bernama Tarusbawa.
Kondisi tersebut menyebabkan penguasa Galuh, yaitu Wretikandayun marah dan memberontak. Hingga akhirnya Wretikandrayun mendirikan kerajaan Galuh secara mandiri pada tahun 612 masehi.
Kemudian, sebagai penerus kerajaan Tarumanegara, Tarusbawa memindahkan kekuasaannya ke Sunda. Tarusbawa memindahkan kerajaan tersebut ke hulu Sungai Cipakancilan yang berdekatan dengan Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane.
Nah, kondisi sungai yang berjejer dan berdekatan tersebutlah yang menyebabkan Tarusbawa menamai kerajaan tersebut dengan nama Kerajaan Pajajaran.
Penobatan Tarusbawa sebagai raja sekaligus pendiri Kerajaan Pajajaran dilakukan pada tahun 519 saka atau sekitar 18 Mei 669 Masehi. Momen ini juag secara tidak langsung menjadikan kerajaan Pajajaran resmi berpisah dengan Kerajaan Galuh.
Kerajaan Pajajaran menganut sistem pemerintahan feudal, dimana pemimpin kerajaan adalah prabu atau raja. Selama masa berdirinya Pajajaran, kerajaan ini dipimpin oleh 6 raja, di antaranya adalah:
- Sri Baduga Maharaja/Prabu Siliwangi (1482 – 1521)
- Surawisesa (1521–1535)
- Ratu Dewata (1535–1543)
- Ratu Sakti (1543–1551)
- Ratu Nilakendra (1551–1567)
Kelimanya adalah para raja yang menduduki Kerajaan Pajajaran di daerah Pakuan.
Pada masa pemerintah Ratu Nilakendra, kerajaan Pajajaran yang berpusat di Pakuan diserang oleh Sultan Hasanuddin dan anaknya, Maulana Yusuf.
Akhirnya, kerajaan Pajajaran memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Pandeglang. Saatu itu, raja Pajajaran di daerah Pandeglang adalah Raga Mulya (1567–1579) atau Prabu Surya Kencana.
Masa Kejayaan Kerajaan Pajajaran
Masa kejayaan kerajaan Pajajaran dimulai pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja atau dikenal sebagai Prabu Siliwangi yang memerintah pada 1482-1521 Masehi.
Pada masa pemerintahannya, kerajaan Pajajaran dapat mencapai kehidupan yang makmur, tentram dan teratur.
Bahkan, Prabu Siliwangi pernah membebaskan rakyatnya dari kewajiban membayar empat macam pajak.
Prabu Silingawi turut menghadirkan pembangunan fisik dengan baik untuk memudahkan kehidupan rakyat dan negara.
Sang raja membangun jalan menuju ibukota Pakuan dan Wanagiri, telaga besar, tempat hiburan dan kapuntren.
Tak hanya dikenal baik hati, Prabu Silingawi juga disebut menjadi pemimpin yang memegang teguh asas kesetaraan dalam kehidupan sosial.
Oleh karena itu, kehidupan pada masyarakat di sekitar Kerajaan Pajajaran sangat tentram di masa pemerintahannya.
Bahkan, Prabu Silingawi memperkuat masa pemerintahannya dengan membentuk angkatan militer yang tangguh.
Menurut sumber Portugis, Kerajaan Pajajaran diperkirakan memiliki 100.000 prajurit dan 40 ekor pasukan gajah.
Prabu Silingawi juga begitu mencurahkan perhatian pada pembinaan agama.
Terdapat Desa Perdikan yang dapat digunakan untuk pendeta dalam menghadirkan kegiatan keagamaan sebagai penuntun kehidupan rakyat yang lebih baik.
Runtuhnya Kerajaan Pajajaran
Sayangnya, masa kejayaan kerajaan Pajajaran tidak bisa bertahan hingga akhir. Pasca serangan Cirebon, kekuatan Pajajaran mulai melemah dan hanya tersisa 1000 pasukan yang setia pada Surawisesa.
Kehadiran kerajaan baru di wilayah Sunda yang berbasis Islam, yaitu Kesultanan Banten membuat Pajajaran terpontang-panting.
Kerajaan Pajajaran runtuh pada 1579 akibat serangan dari kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten.
Runtuhnya kerajaan Pajajaran ditandai dengan dibawanya singgasana raja, yakni Palangka Sriman Sriwacana dari Pakuan ke Surasowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.
Batu berukuran 200 x 160 x 20 cm itu diboyong karena tradisi politik agar di Pakuan tidak lagi menobatkan raja baru.
Hal ini juga menandai bahwa Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Pajajaran yang sah karena buyut perempuannya adalah putri Sri Baduga Maharaja.
Setelah kerajaan Pajajaran runtuh, diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan keraton lalu menetap di daerah Lebak.
Mereka menetapkan tata cara kehidupan lama yang ketat dan sekarang dikenal sebagai orang Baduy.
Fakta Keruntuhan Kerajaan Pajajaran dan Penyebabnya
Runtuhnya kerajaan Pajajaran terjadi karena beberapa hal. Berikut ini adalah beberapa fakta mengenai keruntuhan kerajaan Pajajaran
1. Penyebab Utama
Penyebab utama dari keruntuhan Kerajaan Pajajaran adalah mundurnya Prabu Siliwangi dari posisi raja. Mundurnya Prabu Siliwangi membuat kekuatan kerajaan menjadi goyah.
Di samping itu, raja penggantinya yaitu Surawisesa menghadapi tantangan besar dengan hadirnya dua kerajaan Islam dari Cirebon dan Demak untuk memperebutkan kekuasaan.
2. Kekalahan Perang Melawan Kerajaan Islam
Akibat dari perebutan kekuasaan dengan Kesultanan Cirebon dan Demam, terjadilah perang yang mengakibatkan Raja Surawisesa memberikan sebagian kekuasaannya di Pantai Jawa bagian utara.
3. Terambilnya Wilayah Kekuasaan Pajajaran
Pada akhirnya, mulai tahun 1528 M kerajaan Cirebon yang dibantu Demak mampu memperoleh satu per satu dari kekuasaan Pajajaran. Mulai dari Citarum, Sumedang, hingga Galuh.
Meskipun Kerajaan Cirebon cenderung lemah, kekuatan yang diberikan oleh Demak membantu kerajaan tersebut bangkit secara perlahan-lahan.
4. Terjadinya Pelantikan Pangeran Santri
Wilayah Sumedang resmi dikuasai oleh Cirebon dengan dilantiknya Pangeran Santri, buyut dari kakak ipar raja Cirebon, yaitu Syarif Hidayatullah. Pangeran Santri menjadi Bupati Sumedang pada tahun 1530.
5. Perdamaian antara Kerajaan Pajajaran dan Kerajaan Cirebon
Kerajaan Pajajaran dan kerajaan Cirebon yang saling memperebutkan kekuasaan tersebut memutuskan untuk berdamai pada tahun 1531 Masehi dan saling mengakui keberadaan masing-masing.
Perjanjian ini ditandatangani oleh kedua belah pihak dan Surawisesa mengambil kesempatan untuk memperbaiki kerajaannya.
6. Kekayaan Maritim Pajajaran Menurun
Pasca terambil alihnya wilayah utara Pantai Jawa, kekayaan Pajajaran di bidang maritim mulai menurun.
Mengingat, wilayah utara Pantai Jawa tersebut merupakan pusat industri maritim kerajaan.
7. Keruntuhan di Tahun 1579
Keruntuhan kerajaan Pajajaran benar-benar terjadi pada tahun 1579. Setelah mendapat serangan Cirebon sebelumnya, kekuatan Pajajaran mulai melemah dan hanya tersisa 1000 pasukan yang setia pada Surawisesa.
Kehadiran kerajaan baru berbasis Islam di wilayah Sunda, yaitu Kesultanan Banten membuat Pajajaran terpontang-panting.
Dipimpin oleh Maulana Yusuf, Kesultanan Banten memang sengaja mengincar Pajajaran karena bercorak Hindu-Budha dan lokasi keduanya yang saling berbatasan.
Peperangan yang terjadi antara Pajajaran dan Kesultanan Banten menyebabkan keberadaan Pajajaran hilang tanpa sisa pada tahun 1579 Masehi.
Para bangsawan yang sebelumnya memegang kepercayaan kepada kerajaan Pajajaran pun akhirnya perlahan-lahan mulai menganut agama Islam.
Peninggalan Kerajaan Pajajaran
Nah, berikut adalah beberapa peninggalan dari kerajaan Pajajaran yang perlu kamu ketahui.
1. Prasasti Perjanjian Sunda Portugal

Merupakan prasasti berbentuk tugu batu, Prasasti Perjanjian Sunda Portugis ditemukan pada tahun 1918 di Batavia, yang kini menjadi DKI Jakarta.
Prasasti ini merupakan prasasti yang menjadi tanda perjanjian antara Kerajaan Sunda dengan Kerajaan Portugis yang dibuat oleh utusan dagang Kerajaan Portugis dari Malaka.
2. Prasasti Cikapundung

Prasasti Cikapundung juga merupakan salah satu peninggalan dari kerajaan Pajajaran.
Prasasti ini ditemukan di Sungai Cikapundung, Kota Bandung, pada tanggal 8 Oktober 2010.
Berdasarkan aksara Sunda kuno yang tertera, prasasti dengn panjang 178 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 55 cm ini berasal dari abad ke-14.
3. Prasasti Pasir Datar
Salah satu peninggalan Kerajaan Pajajaran ini ditemukan pada tahun 1872 di perkebunan kopi daerah Pasir Datar, Desa Cisande, Kabupaten Sukabumi.
Karena ditemukan di daerah Pasir Datar, maka prasasti yang terbuat dari material batu alam ini diberi nama Prasasti Pasir Datar.
Prasasti ini disimpan di Museum Nasional. Namun, prasasti ini masih belum dikaji isinya, sehingga belum dapat ditemukan di internet.
4. Prasasti Huludayeuh

Prasasti Huludayeuh juga menjadi salah satu peninggalan kerajaan Pajajaran yang terletak di Kampung Huludayeuh, Desa Cikalahang, Kabupaten Cirebon.
Ditemukan pada tahun 1991, isi Prasasti Huludayeuh terdiri dari 11 baris tulisan dengan aksara Sunda kuno yang mengisahkan Sri Maharaja Ratu Haji di Pakwan Sya Sang Ratu Dewata dan berkaitan usaha untuk membuat makmur negerinya.
Nah, itulah rangkuman sejarah kerajaan Pajajaran yang bisa Mamikos share kepada kalian mulai dari awal terbentuk hingga masa keruntuhannya.
Keberadaan kerajaan Pajajaran dan sejarah pendiriannya rupanya tercantum dalam berbagai sumber kuno.
Menurut sejarah kerajaan Pajajaran, kerajaan Pajajaran menjadi kerajaan Hindu yang masyhur sebab kemunduran Kerajaan Majapahit di Jawa Timur.
Buat kamu yang ingin mengulik lebih banyak informasi seputar sejarah lainnya, kamu bisa kunjungi situs blog Mamikos dan temukan informasinya di sana.
Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:
Kost Dekat UGM Jogja
Kost Dekat UNPAD Jatinangor
Kost Dekat UNDIP Semarang
Kost Dekat UI Depok
Kost Dekat UB Malang
Kost Dekat Unnes Semarang
Kost Dekat UMY Jogja
Kost Dekat UNY Jogja
Kost Dekat UNS Solo
Kost Dekat ITB Bandung
Kost Dekat UMS Solo
Kost Dekat ITS Surabaya




