Advertisement
Source : Getty Images/tracielouise

Ringkasan Cerita Rakyat Batu Menangis Singkat dari Kalimantan Barat beserta Gambarnya

Jika kamu sedang mencari ringkasan cerita rakyat Batu Menangis. Kamu dapat melihat contohnya pada artikel dari Mamikos ini.

17 November 2025 Zuly Kristanto

Kutukan Ibu Darmi

Menurut cerita rakyat Batu Menangis. Kata-kata Darmi ini seperti belati yang telah melukai hati ibunya. Merasa semua pengorbanan yang dilakukannya selama ini tidak dianggap oleh anak kandungnya sendiri.

Ibunya lalu berkata, “Kau memang bukan siapa-siapaku. Aku tidak pernah memiliki anak sepertimu. Aku lebih baik memiliki anak batu daripada memiliki anak durhaka sepertimu.”

Usai berkata-kata seperti ini tiba-tiba langit menjadi hitam dan kilat bersahut-sahutam. Salah satu kilat mengenai tubuh Darmi. Lalu dengan seketika tubuh Darmi berubah menjadi batu.

Darmi sangat menyesal karena telah durhaka kepada ibunya. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur. Darmi sudah tidak bisa kembali ke wujud asalnya.

Ia hanya bisa menangis sebagai bentuk penyesalan atas semua perilaku yang telah dia lakukan pada ibunya.

Sekarang patung perwujudan Darmi ini masih terus menangis. Sehingga orang-orang menamainya batu menangis.

Hikmah dari Cerita Batu Menangis

Dari kisah Batu Menangis, kita dapat memetik banyak pelajaran berharga tentang pentingnya menghormati orang tua dan mensyukuri segala pengorbanan mereka. Darmi tumbuh menjadi anak yang manja karena seluruh keinginannya selalu dituruti.

Cerita ini mengajarkan bahwa pola asuh yang terlalu memanjakan tanpa batasan dapat menumbuhkan sifat egois, tidak peka, dan tidak tahu berterima kasih pada diri seorang anak. Karena itulah, batasan dan nasihat orang tua sangat penting agar anak tidak terjerumus pada perilaku buruk seperti Darmi.

Hikmah lainnya adalah pentingnya sikap rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Darmi yang cantik justru terjebak oleh kesombongannya sendiri. Ia ingin tampil seolah berasal dari keluarga kaya, padahal semua itu membuatnya semakin jauh dari rasa syukur dan semakin dekat dengan kehancuran.

Cerita ini menegaskan bahwa kecantikan atau harta bukanlah segalanya. Tanpa budi pekerti yang baik, semua itu tidak memiliki arti.

Selain itu, kisah ini juga menekankan bahwa durhaka kepada orang tua adalah perbuatan yang tidak hanya menyakiti hati, tetapi juga membawa akibat buruk bagi diri sendiri. Ibu Darmi sudah bekerja keras demi anaknya, namun ia tetap dilukai dengan kata-kata dan perlakuan kasar.

Perubahan Darmi menjadi batu merupakan simbol bahwa hati yang keras dan tak mau berubah bisa “membatu” selamanya dan menimbulkan penyesalan yang tiada akhir.

Terakhir, cerita ini mengingatkan kita bahwa penyesalan selalu datang terlambat. Darmi baru menyadari kesalahannya ketika semuanya sudah berakhir. Itu sebabnya, kita diajak untuk bersikap lembut, menghargai, dan menyayangi orang tua selagi masih ada kesempatan.

Demikianlah ringkasan cerita rakyat Batu menangis. Semoga dari kisah ini kita dapat belajar agar tidak menjadi anak yang durhaka kepada orang tua.


Halaman:

Advertisement