Ringkasan Cerita Rakyat Roro Jonggrang Singkat dan Pesan Moralnya

Ringkasan Cerita Rakyat Roro Jonggrang Singkat dan Pesan Moralnya – Cerita rakyat Roro Jonggrang sering disangkut pautkan dengan asal-mula candi sewu atau candi prambanan.

Meskipun sebenarnya kisah ini tidak ada sangkut pautnya dengan berdirinya Candi Prambanan tetapi hingga sekarang masih banyak yang meyakini bahwa kisah ini benar-benar pernah terjadi.

Terlepas bahwa kisah ini sungguh pernah terjadi atau hanya sekedar rekaan. Namun, dari kisah ini banyak pelajaran yang dapat kita ambil.

Jika kamu ingin mengetahui pesan apa yang dapat diambil dari kisah ini. Simaklah ringkasan ceritanya dengan baik-baik.

Ringkasan Cerita Rakyat Roro Jonggrang

https://harivalzayuka.com/

Berdasarkan cerita rakyat Roro Jonggrang. Roro Jonggrang sedih bukan kepalang melihat kerajaan yang dipimpin ayahnya hancur karena serangan seorang pangeran sakti dari Kerajaan Pengging yang bernama Bandung Bondowoso.

Kini ayahnya yang bernama Prabu Boko telah menjadi tawanan perang. Belum pula reda kesedihan yang dirasakan Roro Jonggrang.

Sebuah ujian berat kembali menimpa Roro Jonggrang. Dua hari yang lalu Bandung Bondowoso menemuinya dengan bermaksud untuk memperistrinya.

Ketika itu Roro Jonggrang belum memberikan jawaban kesediannya. Ia meminta diberi waktu selama dua hari untuk memikirkan tawaran dari Bandung Bondowoso.

Hari ini merupakan hari dimana Roro Jonggrang harus memberikan jawaban atas permintaan dari Bandung Bondowoso.

Sebenarnya Roro Jonggrang tahu. Bahwa permintaan dari Bandung Bondowoso hanyalah sebuah formalitas belaka.

Tekad Bandung Bondowoso

Menurut cerita rakyat Roro Jonggrang, Roro Jonggrang tahu betul siapa Bandung Bondowoso.

Meskipun Roro Jonggrang menolak permintaan Bandung Bondowoso, tetapi pasti pangeran dari Pengging itu akan melakukan segala cara keinginannya terpenuhi.

“Biyung, apa yang harus aku lakukan?” tanya Roro Jonggrang kepada salah seorang embannya.

“Kalau Gusti Putri memang tidak mencintai pangeran dari Pengging  itu. Gusti Ratu bisa mengatakannya terus terang.”

“Lantas bagaimana kalau dia memaksakan kehendaknya, biyung. Dia dikenal sangat sakti. Bahkan dia mampu mengalahkan ayahanda,” kata Roro Jonggrang.

“Ampun Gusti Putri. Kalau masalah itu hamba tidak tahu.”

Roro Jonggrang kemudian termenung. Ia memikirkan cara yang tepat supaya dirinya bisa terlepas dari Bandung Bondowoso.”

Selang beberapa saat kemudian datanglah seorang emban yang membawa kabar bahwa Bandung Bondowoso telah datang dan ingin bertemu dengan Roro Jonggrang.

“Gusti Putri, hamba membawa pesan bahwa Pangeran Bandung Bondowoso telah datang. Ia ingin bertemu dengan Gusti Putri sekarang juga.”

“Baiklah emban, katakan kepadanya untuk menunggu sebentar. Aku akan bersiap dulu. Setelah itu aku akan menemuinya.”

Segeralah emban itu menyampaikan pesan tersebut kepada Bandung Bondowoso. Saat itu bagi Bandung Bondowoso waktu seolah berjalan dengan sangat lambat.

Ia sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban Roro Jonggrang. Saat itu juga ia berpikir bahwa bagaimanapun caranya Roro Jonggrang harus mau menjadi istrinya.

Setelah menunggu keluarlah Roro Jonggrang dengan memakai pakaian kebesarannya. Betapa kagum Bandung Bondowoso melihat kecantikan Roro Jonggrang.

Kekagumannya terhadap kecantikan Roro Jonggrang membuat keinginannya untuk memiliki Roro Jonggrang semakin besar.

Syarat dari Roro Jonggrang

“Bagaimana putri. Maukah kamu menjadi pendamping hidupku?”

“Aku mau menjadi pendamping hidupmu, Pangeran. Asalkan kamu mampu memenuhi syarat yang diajukan.”

“Apakah syaratmu, putri?”

“Jika kamu mampu membuatkanku seribu candi dalam waktu satu malam. Aku bersedia menjadi istrimu. Namun, jika kamu gagal melakukannya. Kau tidak memaksaku menjadi istrimu. Selain itu kamu juga harus membebaskan ayahku. Bagaimana pangeran?”

“Baiklah. Jika itu memang keinginanmu. Aku akan mencoba mewujudkannya.”

Setelah itu Bandung Bondowoso undur diri. Dan roro Jonggrang kembali lagi ke kaputren.

Di dalam kaputren Roro Jonggrang berdoa supaya Bandung Bondowoso gagal dalam usahanya membangunkannya seribu candi dalam waktu semalam.

Sepanjang perjalanan pulang. Bandung Bondowoso memeras otaknya supaya dapat memenuhi keinginan Roro Jonggrang.

Untuk beberapa saat wajahnya terlihat kusut karena tidak tahu harus dengan cara apa dapat membuat seribu candi dalam waktu semalam.

Sementara dirinya tahu sendiri untuk membuat satu candi saja butuh waktu bertahun-tahun lamanya.

Ajian Sakti Bandung Bondowoso

Menurut cerita rakyat Roro Jonggrang. Ketika sedang bingung-bingungnya Bandung Bondowoso teringat dengan sebuah ajian sakti pemberian dari gurunya.

Daya kekuatan dari ajian itu adalah dapat memerintah semua makhluk termasuk makhluk halus untuk memenuhi segala keinginannya.

Begitu teringat dengan ajian saktinya. Wajah Bandung Bondowoso kembali sumringah. Sebab, ia sudah tahu dengan cara apa dirinya bisa mewujudkan keinginan wanita yang tengah diperjuangkan untuk menjadi istrinya.

Ketika matahari sudah condong ke arah barat. Bandung Bondowoso terlihat sedang bersemedi di sebuah tempat yang luas.

Di hadapannya terlihat sejumlah sesajen. Asap kemenyan yang dibakar mengepul ke angkasa raya.

Begitu matahari tenggelam. Bandung Bondowoso segera merapal mantra dan mengeluarkan ajiannya.

Sesaat kemudian datanglah puluhan atau bahkan ratusan makhluk gaib dengan beraneka rupa dan wujud.

Lantas makhluk-makhluk diperintah untuk membantunya membangun sebuah candi. Berkak kekuatan dan kesaktian makhluk-makhluk itu pekerjaan membuat candi dapat dilakukan dengan sangat cepat.

Hanya dalam waktu yang sangat singkat Bandung Bondowoso dan pasukannya telah berhasil membangun seratusan candi.

Muslihat Roro Jonggrang

Menurut cerita rakyat Roro Jonggrang. Kehebatan Bandung Bondowoso yang mampu membangun seratusan candi dalam waktu yang sekejap itu disaksikan oleh orang suruhan Roro Jonggrang.

Ia kemudian melaporkan apa yang dilihatnya kepada junjungannya. Roro Jonggrang yang mendapat laporan dari bawahannya ini seketika merasa gusar.

Ia takut Bandung Bondowoso benar-benar mampu menyelesaikan pembangunan seribu candi dalam waktu semalam.

“Mustahil dia mampu membangun seratus candi dalam waktu singkat. Memangnya dia membuat candinya pakai apa?”

“Betul, Gusti. Hamba melihatnya dengan mata kepala sendiri. Bandung membangun candi dengan batuan andesit.”

“Lantas mengapa dia bisa membangunnya dengan begitu cepat. Memangnya ada berapa orang yang membantunya?”

“Bukan orang yang membantu Bandung Bondowoso, gusti. Tetapi bangsa lelembut;lah yang memberikan bantuan kepada Bandung Bondowoso.

“Pantaslah kalau begitu,” kata Roro Jonggrang singkat.

Setelah tahu bahwa yang membantu Bandung Bondowoso adalah makhluk halus. Roro Jonggrang mendapat ide untuk membubarkan bala bantuan dari Bandung Bondowoso.

Roro Jonggrang segera menyuruh abdinya yang laki-laki untuk mengumpulkan jerami dan kayu bakar sebanyak-banyaknya.

Selain itu Roro Jonggrang juga menyuruh abdinya untuk yang perempuan untuk menabuh lesung sekeras-kerasnya.

Setelah semua kayu dan jerami terkumpul. Roro Jonggrang kemudian mengutus abdinya untuk membakar tumpukan jerami dan kayu kering.

Seiring dengan terbakarnya kayu dan jerami yang telah terkumpulkan. Para perempuan menabuh lesung dengan keras.

Api dari hasil pembakaran jerami dan kayu kering ini membuat langit sisi timur memerah. Sementara itu alunan lesung itu membuat suasana saat itu sedang menjelang pagi.

Bangsa lelembut mengira suara alunan lesung dan langit timur yang berjibaku membantu Bandung Bondowoso mengira bahwa waktu telah  benar-benar pagi.

Akhirnya mereka pun bubar dan hanya meninggalkan Bandung Bondowoso. Roro Jonggrang yang melihat pemandangan ini senang bukan kepalang.

Sebab, tanpa kehadiran bangsa lelembut itu Bandung Bondowoso mustahil dapat menyelesaikan seribu candi seperti yang dimintanya.

Hingga waktu benar-benar menjelang pagi. Bandung Bondowoso tidak mampu menggenapi seribu candi. Ia dan pasukannya hanya mampu menyelesaikan seribu candi.

Kegagalan ini tentu membuat Roro Jonggrang senang bukan kepalang. Ia pun kemudian menemui Bandung Bondowoso.

“Pangeran telah kalah. Sebab, pangeran tidak mampu menyelesaikan seribu candi dalam waktu semalam seperti yang kupinta.”

“Ini semua gara-gara kamu. Seandainya kamu tidak membakar tumpukan jerami dan membunyikan lesung. Pastilah aku berhasil membangun seribu candi.”

“Hahahaha ini namanya taktik, Pangeran. Engkau sendiri juga menggunakan taktik yang licik untuk mengalahkan ayahku. Kalau aku sekarang berbuat demikian berarti kita telah impas.”

“Kurang ajar. Sebab, candi yang kubangun hanya tinggal satu. Maka, kamulah yang akan menggenapinya.”

Sekejap kemudian Roro Jonggrang berubah menjadi candi penggenap dari candi yang dibangun Bandung Bondowoso.

Meskipun telah berubah menjadi candi, tetapi Roro Jonggrang tidak menyesal. Sebab, dirinya sudah bertindak sesuai dengan kata hatinya.

Baginya lebih baik menjadi candi dibanding menghabiskan sisa hidup dengan lelaki yang sama sekali tidak dicintainya.

Pesan Moral Cerita Rakyat Roro Jonggrang

Pesan moral dari cerita rakyat Roro Jonggrang adalah jangan suka memaksakan kehendak.

Di sisi lain kisah ini juga memberikan pelajaran bahwa dalam hidup ini kita harus siap menerima segala resiko atas keputusan yang telah dibuat.

Demikianlah contoh ringkasan cerita rakyat Roro Jonggrang. Semoga dari kisah ini kita dapat belajar menerima segala resiko dari semua keputusan yang telah kita pilih.


Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:

Kost Dekat UGM Jogja

Kost Dekat UNPAD Jatinangor

Kost Dekat UNDIP Semarang

Kost Dekat UI Depok

Kost Dekat UB Malang

Kost Dekat Unnes Semarang

Kost Dekat UMY Jogja

Kost Dekat UNY Jogja

Kost Dekat UNS Solo

Kost Dekat ITB Bandung

Kost Dekat UMS Solo

Kost Dekat ITS Surabaya

Kost Dekat Unesa Surabaya

Kost Dekat UNAIR Surabaya

Kost Dekat UIN Jakarta