Advertisement
Source : www.perpustakaan.id

Rangkuman Sejarah Kerajaan Sriwijaya dari Nama Raja Hingga Masa Kejayaan

Sriwijaya terkenal sebagai kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan Asia Tenggara. Berikut sejarah singkat dari Kerajaan Sriwijaya.

23 November 2023 Lintang Filia

Rangkuman Sejarah Kerajaan Sriwijaya dari Nama Raja Hingga Masa Kejayaan – Kerajaan Sriwijaya mengalami beberapa pertukaran budaya dari India, China, dan Arab yang datang untuk membeli rempah.

Meski begitu, Sriwijaya adalah kerajaan penganut agama Budha yang memiliki pengaruh besar. Bahkan Sriwijaya menjadi pusat ajaran Sidharta Gautama.

Munculnya Kerajaan Sriwijaya Di awali dengan Dapunta Hyang Sri Jayanasa dan 20.000 pasukan yang melakukan perjalanan dari Minanga Tamwan ke beberapa daerah di Sumatera.

Mereka berhasil menguasai wilayah Palembang, Bangka, dan Belitung yang kemudian dijadikan pusat perdagangan. Di sinilah sejarah Kerajaan Sriwijaya dimulai.

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Rangkuman sejarah kerajaan sriwijaya dari nama raja hingga masa kejayaan
www.perpustakaan.id

Menurut prasasti Kota Kapur, sejarah Kerajaan Sriwijaya diawali dengan berdirinya kerajaan maritim terbesar di Indonesia tersebut pada abad ke-7 Masehi.

Sebagai kerajaan besar, Sriwijaya tercatat dalam sejarah sebagai kerajaan terbesar yang memiliki pengaruh kuat di Asia Tenggara.

9 Sumber Sejarah Kerajaan Singasari Dilengkapi Penjelasannya

Letak Kerajaan Sriwijaya diperkirakan berpusat di Palembang. Beberapa ahli juga menyimpulkan bahwa kerajaan ini memiliki pusat kekuasaan yang berpindah-pindah.

Namun yang jelas, letaknya yang strategis membuat Sriwijaya menguasai jalur perdagangan di Asia Tenggara, seperti Selat Sunda, Malaka, Karimata, hingga Tanah Genting Kra.

Raja Kerajaan Sriwijaya

Menurut sumber sejarah, Kerajaan Sriwijaya dipimpin oleh setidaknya 21 raja yang membuat Sriwijaya menjadi begitu sukses menaklukkan beberapa kerajaan dan menguasai jalur perdagangan.

Raja-raja tersebut di antaranya adalah:

  • Dapunta Hyang Sri Jayanasa (683 M)
  • Indrawarman (702 M)
  • Rudra Wikrama (728-742 M)
  • Sanggramadhananjaya (775 M)
  • Dharanindra/Rakai Panangkaran (778 M)
  • Samaragrawira/Rakai Warak (782 M)
  • Dharmasetu (790 M)
  • Samaratungga/Rakai Garung (792 M)
  • Balaputradewa (856 M)
  • Sri Udayadityawarman (960 M)
  • Sri Wuja atau Sri Udayaditya (961 M)
  • Hsiae-she (980 M)
  • Sri Cudamani Warmadewa (988 M)
  • Malayagiri/Suwarnadwipa (990 M)
  • Sri Marawijayottunggawarman (1008 M
  • Sumatrabhumi (1017 M)
  • Sri Sanggrama Wijayatunggawarman (1025 M)
  • Sri Dewa (1028 M)
  • Dharmawira (1064 M)
  • Sri Maharaja (1156 M)
  • Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa (1178 M)

Dari 21 raja yang telah disebutkan di atas, terdapat tiga nama besar raja yang membawa pengaruh baik bagi Kerajaan Sriwijaya maupun kerajaan-kerajaan di negeri tetangga.

1. Dapunta Hyang Sri Jayanasa

Dapunta Hyang Sri Jayanasa sang pendiri Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai tokoh yang memainkan peran kunci dalam ekspansi dan pembentukan wilayah kekuasaan Sriwijaya.

Pada masa pemerintahannya, Sri Jayanasa mampu mencatatkan diri sebagai raja yang besar dengan beberapa peristiwa penting.

Bersama Sriwijaya, Sri Jayanasa menaklukkan kerajaan Melayu, menundukkan Kerajaan Tulang dan Bwang dan Skala Bark.

Menghentikan pemberontakan Kandra Kayet, hingga memperluas kekuasaan Sriwijaya di Minang Tamwan.

Bahkan Sriwijaya mampu menakklukkan negeri-negeri Sigindo yang terletak di pedalaman Bukit Barisan, Alam Kerinci, yang kaya akan emas.

2. Balaputradewa

Sri Maharaja Balaputradewa adalah raja Kerajaan Sriwijaya yang membawa kejayaan.

Balaputradewa memperlihatkan sikap kepemimpinan yang jujur, penuh perhatian terhadap rakyatnya, dan berkomitmen pada agama yang dianutnya.

Sifat-sifat kepemimpinan ini diwariskan oleh kakeknya yang seorang raja dari dinasti Syailendra dan dikenal sebagai Wirawairimathana, atau penumpas musuh perwira.

Prasasti Nalanda mencatat bahwa Balaputradewa diangkat menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya karena mampu mewarisi takhta tersebut dengan baik.

Keberhasilannya sebagai penguasa semakin diperkuat oleh keterkaitannya dengan wangsa Syailendra yang membantu memperluas wilayah kekuasaannya.

Hal itu menjadikan Balaputradewa dikenal luas atas keberhasilan dan kemasyhuran Kerajaan Sriwijaya.

3. Sri Sanggrama Wijayatunggawarman

Sri Maharaja Sanggrama-Vijayottungga Warmadewa yang juga dikenal sebagai Sanggrama Wijayattunggawarman, merupakan seorang raja terkemuka dari Sriwijaya.

Menurut Prasasti Tanjore tahun 1030 yang terdapat di Candi Rajaraja, Kerajaan Sriwijaya mengalami serangan dari Kerajaan Chola dari India yang dipimpin oleh Raja Rajendra Chola.

Meskipun Raja Sanggrama berusaha untuk menangkis serangan tersebut, ia akhirnya ditangkap dan ditahan.

Namun pada masa kekuasaan Raja Kulotungga I di Kerajaan Chola, Sanggrama akhirnya dibebaskan dari tawanan.

Rangkuman Sejarah Kerajaan Banten, Sumber, Letak, Raja, Hingga Masa Keruntuhan

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Pada masa pemerintahan Raja Balaputradewa hingga Sri Marawijaya pada abad ke-8 M dan 9 M, Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya.

Periode gemilang ini ditandai oleh konflik dengan kerajaan di Jawa pada tahun 922 M dan 1016 M.

Serta pertempuran melawan Kerajaan Cola (India) dari tahun 1017 hingga 1025 M, yang berakhir dengan penangkapan Raja Sri Sanggramawijaya.

Selama fase kejayaan ini, wilayah kekuasaan Sriwijaya melibatkan jalur perdagangan utama di Selat Malaka.

Ekspansi teritorialnya mencakup Jawa Barat, Kalimantan Barat, Bangka, Belitung, Malaysia, Singapura, dan Thailand Selatan.

Selain itu guna menjaga keamanan di wilayah lautnya, Sriwijaya membangun armada laut yang tangguh dan menciptakan lingkungan aman bagi kapal asing yang ingin berdagang.

Langkah-langkah ini membantu Sriwijaya menjadi kekuatan maritim dominan pada zamannya.

Bukti Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Bukti sejarah Kerajaan Sriwijaya pada masa kejayaannya tidak hanya terbatas pada aspek militer, tetapi juga mencakup dimensi politik, ekonomi, sosial, dan agama.

Dalam ranah politik, Sriwijaya mengadopsi sistem kedatuan yang menunjukkan kemajuan politiknya.

Sistem kedatuan dipilih dengan mempertimbangkan fokus pada perdagangan dan penyebaran agama Budha di Asia Tenggara.

Secara ekonomi, Sriwijaya berhasil mengendalikan wilayah-wilayah strategis seperti Selat Sunda, Selat Malaka, Laut Natuna, dan Laut Jawa, untuk mendukung aktivitas perdagangan dengan China dan India.

Keberhasilan perdagangan ini memberikan pendapatan besar bagi kerajaan, sementara kegiatan pertanian juga turut mendorong aktivitas perdagangan.

Dalam aspek sosial, keberhasilan perdagangan memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan kerajaan.

Sriwijaya juga berkembang menjadi pusat agama Budha di Asia Tenggara yang memainkan peran penting dalam penyebaran agama Buddha ke seluruh Nusantara dan kawasan Asia Tenggara lainnya.

Kejayaan Sriwijaya juga tercermin dalam keberhasilannya di sektor maritim dengan menguasai jalur perdagangan laut.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Selain sebagai peninggalan, sejumlah prasasti memberikan pemahaman mendalam tentang eksistensi serta kehebatan yang tercatat sebagai sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya.

Beberapa prasasti terkemuka yang menjadi peninggalan Kerajaan Sriwijaya mencakup:

1. Prasasti Kedukan Bukit

Prasasri Kedukan Bukit pertama kali ditemukan di sungai Batang, Kedukan Bukit, Kota Palembang.

Prasasti ini bertulis angka 686 M yang menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta.

Dalam prasasti ini berisi tentang Dapunta Hyang yang menaiki perahu dan kisah kemenangan Kerejaan Sriwijaya.

2. Prasasti Kota Kapur

Prasasti ini berisi hukuman dan kutukan kepada siapa saja yang tidak mau tunduk dan melanggar perintah Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Pulau Bangka.

3. Prasasti Telaga Batu

Prasasti tersebut pertama kali ditemukan di Kolam Telaga Biru, Kecamatan Ilir Timur, Kota Palembang.

Prasasti ini mengisahkan tentang pemberian kutukan kepada orang-orang jahat yang berada di wilayah Kerajaan Sriwijaya.

Isi dari Prasasti Telaga Batu menunjukkan adanya kepercayaan pada kekuatan spiritual dalam menjaga keamanan kerajaan.

Rangkuman Sejarah Kerajaan Kediri Mulai dari Raja-raja, Letak, Hingga Masa Kejayaannya

4. Prasasti Karang Berahi

Ditemukan di Desa Karang Berahi, Merangin, Jambi. Berisi kutukan bagi mereka yang tidak setia kepada raja Kerajaan Sriwijaya dan menyoroti pentingnya loyalitas terhadap kekuasaan.

5. Prasasti Palas Pasemah

Penemuan Prasasti Palas Pasemah berlokasi di pinggir rawa Desa Palas Pasemah, Lampung Selatan.

Prasasti Palas Pasemah ditulis dengan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno.

Berisi tentang kutukan kepada individu jahat yang tidak setia terhadap Sriwijaya dan menggambarkan konsep hukuman bagi perilaku yang merugikan.

6. Prasasti Talang Tuo

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini berisi doa Budha Mahayana dan kisah pembangunan taman oleh Sri Jayanasa.

Prasasti ini memperlihatkan keberagaman budaya dan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat yang tercatat sebagai dalam sejarah Kerajaan Sriwijaya.

7. Prasasti Hujung Langit

Sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya bernama Prasasti Hujung Langit ditemukan di Desa Haur Kuning, Lampung.

Pada permukaannya tertera tahun 997 M. Prasastu Hujung Langit memberikan informasi kronologis yang menandai periode tertentu dalam sejarah Sriwijaya.

8. Prasasti Ligor

Uniknya, sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya yang satu ini ditemukan di Thailand selatan oleh Nakhon Si Thammarat.

Prasasti Ligor mengisahkan raja Sriwijaya yang membangun Tisamaya Caitya untuk Karaja yang mencerminkan pengaruh dan hubungan diplomatis Sriwijaya dengan kerajaan lain.

9. Prasasti Leiden

Berbentuk lempengan tembaga dengan bahasa Sansekerta dan bahasa Tamil yang menceritakan hubungan dinasti Cola dengan dinasti Syailendra dari Sriwijaya.

Prasasti ini menjadi bukti sejarah Kerajaan Sriwijaya yang memperlihatkan keterkaitan budaya dan politik antara kerajaan-kerajaan tersebut.

10. Candi Muara Takus

Penemuan Candi Muara Takus berada di Desa Muara Takus, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Candi ini memiliki corak Budha dengan beberapa susunan stupa.

Di dalamnya terdapat beberapa candi seperti Candi Bungsu, Candi Sulung, Stupa Palangka, dan Stupa Mahligai, yang mencerminkan kekayaan arsitektur dan keagamaan Sriwijaya.

Sumber Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Selain berbagai prasasti dan candi yang sudah disebutkan di atas, masih ada beberapa sumber sejarah tentang eksisensi Kerajaan Sriwijaya lainnya.

Berita-berita dari negara lain seperti Arab, India, dan China, juga memberikan informasi berharga mengenai keterkaitan Sriwijaya dengan kerajaan-kerajaan di luar negeri.

· Berita Arab

Para pedagang Arab meruju Sriwijaya dengan sebutan seperti Zabaq, Sabay, atau Sribuza.

Penyebutan tersebut mengindikasikan adanya hubungan perdagangan yang erat antara Sriwijaya dan komunitas pedagang Arab.

· Berita India

Informasi dari India menyebutkan bahwa Raja Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan India seperti Kerajaan Nalanda dan Kerajaan Cola.

Hal ini mencerminkan adanya keterkaitan politik dan perdagangan yang signifikan antara Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan India.

· Berita China

Informasi dari seorang biksu Buddha China bernama I’tsing menyoroti hubungan antara Sriwijaya dan China.

I’tsing yang pernah mengunjungi Sriwijaya dalam perjalanannya ke India memberikan gambaran tentang kehidupan di Sriwijaya pada masa tersebut.

Dari berita luar negeri, dapat menyimpulkan bahwa Sriwijaya terlibat dalam jaringan perdagangan dan relasi politik yang melibatkan kerajaan-kerajaan di Arab, India, dan China.

Berita-berita tersebut memberikan bukti nyata tentang keberadaan dan prestasi Sriwijaya dalam konteks hubungan internasional pada masa lalu.

Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya

Meskipun Kerajaan Sriwijaya sangat berjaya di jalur perdagangan dan ekspansi wilayah yang besar, Sriwijaya pada akhirnya mulai goyah pada abad ke-11 Masehi.

Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya disebabkan oleh beberapa faktor seperti:

1. Kepemimpinan yang Buruk

Pasca kematian Raja Balaputradewa pada tahun 835 M, kerajaan Sriwijaya kehilangan pemimpin yang efektif, adil, dan bijaksana.

Peristiwa tersebut mengakibatkan kekosongan kepemimpinan yang merugikan bagi Sriwijaya.

2. Peperangan dengan Jawa

Kerajaan Sriwijaya terlibat dalam konflik dengan kerajaan Jawa, menyebabkan ketegangan dan pemisahan wilayah yang pada akhirnya merugikan posisi Sriwijaya.

3. Melemahnya Kekuatan Militer

Kekuatan militer Sriwijaya mengalami penurunan yang memberikan kesempatan bagi kerajaan lain untuk melancarkan serangan.

Kondisi ini memberi dampak besar terhadap stabilitas dan pertahanan kerajaan.

4. Serangan dari Colamandala

Runtuhnya Sriwijaya dipicu oleh serangan dari Dinasti Chola, India Selatan, yang dipimpin oleh Rajendra Chola I.

Serangan ini memberikan tekanan besar dan mengakibatkan keruntuhan kerajaan.

5. Pemisahan Wilayah Kekuasaan

Kelemahan militer dan kendali yang mulai longgar di wilayah-wilayah teritorial menyebabkan banyak wilayah melepaskan diri dan mendirikan kerajaan independen.

Munculnya kerajaan baru seperti Jambi, Klantan, Pahang, dan Sunda menjadi ancaman baru bagi kutuhan Kerajaan Sriwijaya.

Penutup

Demikan rangkuman sejarah Kerajaan Sriwijaya beserta nama-nama raja yang memimpin, masa kejayaan, hingga akhir pemerintahannya.

Semoga memberikan manfaat dan wawasan yang lebih luas untuk kamu mengenal sejarah kerajaan yang pernah menguasai Indoneisa.

Masih banyak artikel lain di blog Mamikos yang memuat tentang sejarah kerajaan di Nusantara.

Rangkuman Sejarah Kerajaan Kutai Singkat, Letak, Raja, dan Masa Kejayaan

Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:

Kost Dekat UGM Jogja

Kost Dekat UNPAD Jatinangor

Kost Dekat UNDIP Semarang

Kost Dekat UI Depok

Kost Dekat UB Malang

Kost Dekat Unnes Semarang

Kost Dekat UMY Jogja

Kost Dekat UNY Jogja

Kost Dekat UNS Solo

Kost Dekat ITB Bandung

Kost Dekat UMS Solo

Kost Dekat ITS Surabaya

Kost Dekat Unesa Surabaya

Kost Dekat UNAIR Surabaya

Kost Dekat UIN Jakarta

Advertisement