Biografi Moh Hatta Singkat dan Lengkap Sepanjang Perjalanan Hidupnya beserta Strukturnya
Tujuan penulisan teks biografi adalah mengetahui kelebihan dan pemikiran seorang tokoh, serta menjadikan pelajaran hidupnya sebagai bahan renungan.
Dua tahun setelahnya, Moh. Hatta bergabung dengan Liga Menentang Imperialisme dan Kolonialisme di Belanda dan bertemu dengan seorang aktivis asal India, Jawaharhal Nehru.
Aktivitas politiknya tersebut membuat Kerajaan Belanda menangkapnya bersama Nazir St. Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul madjid Djojodiningrat.
Baru dibebaskan setelah melakukan pidato pembelaan yang berjudul Indonesia Merdeka (Indonesie Vrij) pada tahun 1928.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Belanda, Moh. Hatta pulang ke Indonesia pada tahun 1932.
Hatta sibuk menulis artikel politik seperti “Soekarno Ditahan” (10 Agustus 1933), “Tragedi Soekarno” (30 Nopember 1933), dan “Sikap Pemimpin” (10 Desember 1933) yang merupakan reaksi keras atas pengasingan Soekarno oleh Belanda.
Aktivitas Hatta ini membuat Pemerintah Belanda memusatkan perhatian padanya dan Klub Pendidikan Nasional Indonesia, di mana Hatta menjadi salah satu pemimpinnya bersama Sutan Sjahrir.
Pergerakan Hatta membuat Belanda takut, sehingga ditangkap dan diasingkan ke Digul, Papua. Pada masa pengasingannya, Hatta aktif menulis di surat kabar dan mengajarkan teman-temannya.
Hatta dan Sjahrir sempat dipindahkan ke beberapa lokasi, seperti Banda Neira (1935), Sukabumi (1942), dan Jakarta saat pemerintah Belanda menyerah kepada Jepang.
Pada awal Agustus 1945, Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) berubah nama menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), di mana Soekarno dan Hatta menjadi ketua dan wakil ketua organisasi tersebut.
Sehari sebelum proklamasi kemerdekaan dilakukan, PPKI mengadakan rapat di rumah Laksamana Maeda.
Panitia yang hadir pada saat itu hanyalah Soekarno, Moh. Hatta, Ahmad Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Melik.
Mereka merumuskan teks proklamasi yang akan dibacakan oleh Soekarno dan ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas usulan Soekarni.
Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pagesangan Timur 56 pada pukul 10:00.
Kemerdekaan ini diproklamasikan oleh Soekarno dan Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia, dengan Moh. Hatta menjadi Wakil Presiden Indonesia.
Berita kemerdekaan itu terdengar hingga ke Belanda. Akibatnya, Belanda ingin kembali menjajah Indonesia. Untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, ibukota pada saat itu dipindahkan sementara ke Yogyakarta.
Tidak hanya itu, Indonesia juga melakukan perundingan dengan Belanda yang menghasilkan Perjanjian Linggarjati dan Renville. Akan tetapi, perjanjian ini berakhir dengan kecurangan Belanda.
