Advertisement
Source : humasindonesia.com

Ringkasan Materi Wewaler Bahasa Jawa SMA Kelas 12 dan Penjelasannya

Dalam materi berikut, Mamikos akan memberikan ringkasan materi wewaler bahasa Jawa kelas 12 SMA lengkap dengan penjelasannya. Yuk, cek baca sampai selesai supaya memahaminya!

26 Februari 2024 Zuly Kristanto

Contoh Wewaler Berhubungan dengan Masyarakat

Wewaler jenis ini biasanya sifatnya mengikat suatu masyarakat tertentu karena kondisi suatu daerah di masa lampau.

Ada kemungkinan jenis wewaler ini berbeda antara daerah satu dengan daerah lainnya.

Contoh 1

Aja mbeleh sapi nanging mbeleha kebo (jangan menyembelih sapi tapi sembelihlah kerbau)

Maksudnya

Larangan ini ada di masyarakat Kudus dan sekitarnya. Lahirnya larangan ini diyakini sebagai cara toleransi yang dilakukan Sunan Kudus kepada masyarakat Kudus masa lampau yang masih banyak memeluk agama hindu.

Contoh 2

Aja mantu ing wayah sasi sura merga kraton kidul lagi duwe gawe (Jangan mengadakan pesta pernikahan di bulan sura/muharam karena kraton selatan sedang punya hajatan)

Maksudnya

Sebenarnya larangan untuk mengadakan hajatan pernikahan di bulan muharram ini tidak ada sangkut pautnya dengan laut selatan.

Larangan ini hadir sebagai penghormatan umat muslim terhadap konflik di Karbala pada 10 muharram 61 H.

Adanya peristiwa ini membuat masyarakat Jawa muslim merasa tidak pantas untuk mengadakan acara yang gegap gempita pada bulan muharram.

Selain itu, bulan muharram yang merupakan bulan pertama dalam kalender Jawa dianggap bulan yang tepat untuk memulai lembaran hidup baru atau menuntut ilmu.

Ringkasan Materi Sejarah Indonesia Kelas 12 Semester 1 dan 2 Kurikulum Merdeka

Contoh 3

Aja mantu anak ing sasi sela merga umure bakale ora dawa (Jangan menikahkan anak di bulan sela karena akan membuat umur tidak panjang)

Maksudnya

Larangan ini hadir supaya orang tua bisa memilih waktu yang tepat untuk menikahkan anaknya.

Bulan Sela dalam kalender Jawa dianggap kurang tepat karena beberapa alasan.

Salah satunya karena bulan sela merupakan bulan sesudah lebaran. Sehingga dikhawatirkan bukan hanya orang tua yang kesulitan mencari biaya untuk menggelar pesta pernikahan anaknya.

Tetapi juga tetangga yang hendak datang juga kesulitan biaya untuk menghadiri undangan pernikahan yang akan diadakan.

Biasanya bulan sela ini bagi masyarakat Jawa digunakan sebagai waktu untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk acara atau hajatan yang besar.

Sementara pelaksanaan hajatannya sendiri biasanya dipilih bulan besar atau dzulhijah.

Halaman:

Advertisement