Advertisement
Source : unsplash.com/thenathanaguirre

5 Contoh Cerpen tentang Bullying di Sekolah dan Lingkungan Rumah Singkat

Merupakan singkatan dari cerita pendek, cerpen adalah salah satu jenis karya sastra yang berbentuk prosa fiksi. Simak contoh cerpen bertemakan bullying di dalam artikel ini.

5 Oktober 2025 Bella Carla

5 Contoh Cerpen tentang Bullying di Sekolah dan Lingkungan Rumah Singkat – Cerita pendek atau cerpen banyak diminati oleh masyarakat Indonesia.

Bahkan saat ini banyak buku antologi cerpen yang diterbitkan berdasarkan hasil dari lomba-lomba cerpen.

Tak heran jika hingga sekarang ini minat menulis cerpen masih ada di kalangan masyarakat dan kelas membuat cerpen pun masih banyak peminatnya. 📖😊✨

Berikut Contoh Cerpen tentang Bullying di Sekolah dan Lingkungan Rumah

Contoh Cerpen tentang Bullying di Sekolah dan Lingkungan Rumah Singkat
unsplash.com/thenathanaguirre

Merupakan salah satu karya sastra yang berbentuk prosa, cerpen disebut juga sebagai karangan fiktif berisikan kehidupan seseorang yang diceritakan secara singkat dan berfokus hanya pada satu tokoh saja.

Selain itu, cerpen juga biasa dikenal sebagai cerita yang bisa selesai dibaca hanya dalam sekali duduk dan membutuhkan waktu antara setengah jam hingga dua jam saja.

Dalam sebuah cerpen, terdapat beberapa unsur intrinsik yang menjadi elemen penting untuk membentuk dan menyusun jalan cerita.

Unsur-unsur intrinsik dalam cerpen yang dimaksud seperti tema, alur, latar, tokoh, dan amanat yang membentuk dan menyusun jalan cerita serta menyampaikan makna yang terkandung di dalamnya.

Guna memahami cerpen lebih jauh lagi, kamu bisa simak beberapa contoh cerpen di akhir artikel untuk menambah pemahaman.

15 Contoh Cerpen Kehidupan Sehari-hari di Rumah Seorang Pelajar yang Menarik

Apa itu Cerpen?

Sebelum membahas pengertian cerpen, kamu juga perlu ketahui terlebih dahulu pengertian dari cerpen itu sendiri.

Merupakan singkatan dari cerita pendek, cerpen adalah salah satu jenis karya sastra yang berbentuk prosa fiksi.

Berbeda dengan novel, cerita yang terkandung di dalam cerpen justru cenderung lebih padat dan biasanya tidak memiliki banyak tokoh.

Singkatnya, cerpen ini adalah cerita pendek yang hanya butuh sekali duduk untuk menyelesaikan satu ceritanya.

Cerpen sendiri punya beberapa ciri, antara lain:

  • Cerpen hanya terfokus pada 1 tokoh
  • Cerita dalam cerpen tidak lebih dari 10.000 kata
  • Cerpen memiliki puncak masalah
  • Cerita dalam cerpen memiliki solusi atau penyelesaian masalah
  • Ceritanya padat dan langsung tertuju pada tujuan
  • Alur cerpen yang singkat membuat cerpen tidak memiliki tokoh yang banyak
  • Latar cerita pada cerpen terbatas

Struktur Cerpen

Diketahui, cerpen memiliki struktur yang terdiri dari 6 bagian, yakni:

1. Abstrak

Abstrak adalah bagian cerpen yang menggambarkan keseluruhan isi cerita.

7 Contoh Cerpen tentang Keindahan Alam dan Pegunungan yang Menarik

2. Orientasi

Orientasi cerpen berisi penentuan peristiwa yang menciptakan gambaran visual dari latar, atmosfer, dan waktu dari cerita.

Pada bagian ini, kamu juga akan menemukan pengenalan para tokoh, hubungan antar tokoh, hingga menata adegan.

3. Rangkaian Peristiwa

Kemudian, pada bagian rangkaian peristiwa terdapat kisah yang berlanjut melalui serangkaian peristiwa satu ke peristiwa lainnya yang tidak terduga.

4. Komplikasi

Pada bagian ini, cerita akan bergerak menuju puncak masalah atau konflik, pertentangan, hingga kesulitan-kesulitan bagi para tokoh yang memengaruhi latar waktu dan karakter.

5. Resolusi

Terakhir, pada bagian revolusi ini akan mengisahkan solusi dari tantangan atau masalah yang dicapai. Kamu juga akan mengetahui bagaimana cara pengarang mengakhiri cerita di bagian ini.

6. Koda

Koda adalah komentar akhir terhadap keseluruhan isi cerita. Biasanya, bagian ini juga bisa disebut simpulan cerpen.

15 Contoh Cerpen tentang Lingkungan Sekolah Singkat dan Menarik

1. Contoh Cerpen tentang Bullying di Sekolah

Berikut adalah contoh cerpen tentang bullying di sekolah yang dikutip dari situs cerpenmu.com.

Bullying
Karya: Fariz Yusufa

Namaku Edo, Aku mulai berangkat ke sekolah seperti bisa diantar sama bapakku. Di smp ini, aku tidak mempunyai teman satu pun yang aku kenal sebelumnya. waktu SD saya terkenal culun dan orang yang tidak terlalu PD dengan diri sendiri.

Aku tidak pernah melakukan perlawanan saat orang lain mengejekku. Itu merupakan salah satu faktor kenapa aku sering dibully, Dengan badanku yang gemuk dan kulit hitam.

Melanjutkan yang tadi, sesampainya aku di sekolah dengan diantar sama bapakku. Seperti sekolah lainnya di hari senin ini akan ada upacara bendera. Ini merupakan saat dimana aku malas untuk mengikuti, dengan badanku yang gemuk ini seperti biasa teman-teman akan mengejek.

Bel sekolah sudah berbunyi menandakan upacara bendera akan segera dimulai. Aku sudah siap dengan perlengkapan upacara seperti topi dan juga dasi. Sesampainya di lapangan upacara, perkelas akan membuat barisannya sendiri.

Dari teman lain aku merupakan seorang siswa yang paling gemuk dan akan membuat barisan menjadi lebih sempit.

Seperti biasanya saat upacara temanku yang paling iseng dan nakal di kelas namanya Engga, dia mulai mengejekku dengan fisikku ini. “Edo kamu buat barisan aja sendiri, sempit nih, atau di tengah lapangan situ” Dia mengejek sambil tertawa.

Aku hanya bisa diam karena yang dia katakan memang sesuai dengan keadaan yang ada. Disini aku tidak mungkin melawan karena dia memiliki gang atau teman yang banyak sedangkan aku cuman siswa sendirian smp ini yang belum memiliki teman yang akrab.

Sebenarnya ada temanku yang bernama Dewi, dia suka membela aku saat Engga sedang mengejekku. Bisa dikatakan dia teman yang paling buat aku setidaknya lebih nyaman di sekolah ini.

Upacara pun dimulai, aku tepat berada di samping Engga di barisan ke 3 dari depan. “Edo geser dong badan kamu bikin penuh aja, sampe aku keluar barisan nih.” Kata Engga sambil nyindir aku.

Aku hanya bisa diam saat dikatakan seperti itu. Yahh seperti bisanya, diam dan menerima ejekannya. Paling berani aku hanya bisa berkata “iya”.

Setelah 30 menitan berjalan upacara bendera selesai dengan lancar. Semua siswa mulai kembali ke kelasnya masing-masing dan mulai mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Setelah duduk di kelas kadang aku berfikir, kenapa ini tidak adil dengan ejekan yang diberikan kepada aku. Sementara aku tidak bisa melawan sedikit pun.

Di kelas aku duduk di bagian tengah sedangkan Engga berada di paling pojok. Jarak yang cukup jauh ini sampai bisa membuat aku sangat nyaman, dengan terhindar dari omongan Engga yang membuat aku semakin hari menjadi orang yang tidak PD.

Beberapa saat kemudian guru IPA pun datang untuk mengajar kelas pagi pertama kali. Saat itu sedang membahas flora dan fauna, yah ada hewan-hewannya gitu.

Setelah di pertengahan materi sampai di pembahasan soal binatang beruang. Engga pun teriak. “Lahh itu kayak Edo dong” Teriaknya di kelas sambil tertawa.

Saat itu aku hanya bisa diam dengan malu. Dewi pun membalas teriakan Engga tadi “Engga jangan gitu dong, keterlaluan tu” Teriaknya dewi membelaku.

Aku cukup senang ada teman yang membelaku. Aku pun juga tidak tau kenapa Engga terus mengejekku, Aku rasa tidak punya salah sama sekali dengan dia selama ini.

Setelah kejadian itu semua siswa yang ada di kelas semua tertawa. Sampai guru IPA menenangkan semua siswa untuk diam. Setelah beberapa waktu sampai 2 pelajaran telah selesai, waktunya untuk istirahat.

Sebelum keluar kelas aku sama Engga bertatapan, seolah tatapannya seperti membenci yang sangat mendalam sama aku.

Disitu aku memberanikan diri untuk ngomong. “Kenapa” Kataku sambil menatapnya. Engga pun membahas ucapanku tadi “Lahh kenapa” Katanya Engga sambil nada yang lebih keras. Aku mulai memberanikan diri untuk melawannya saat itu.

“Maksud kamu apa tadi ngejek aku didepan semua kelas” Kataku ke Engga sambil nada tinggi juga. Engga menjawabnya “Yahh terserah aku, ngga merugikan orang lain juga kan”.

Aku menjawabnya. “Kamu tau ngga sudah membuat aku malu didepan seluruh kelas” Kataku dengan menyautnya. “Ngga peduli sih aku, kamu malu apa ngga” Katanya Engga sambil nyinyir.

Percakapan tadi akhirnya membuat aku sama Engga bertengkar. Disitu selain aku dan Engga ada 2 temannya Engga. Mereka tidak menyerangku untuk membela Engga tapi malah justru melerai pertengkaran aku sama Engga.

Setelah kejadian itu Engga pun langsung pergi dengan diseret 2 temannya untuk keluar kelas. Aku masih sendirian di dalam kelas sambil menahan rasa sakit setelah pertengkaran tadi. Kejadian itu pun menjadikan pertemanan aku dan Engga semakin tidak baik.

Aku merasa takut saat pulang sekolah nanti pertengkaran ini terus berlanjut. Waktu istirahat itu aku gunakan cuman untuk di kelas saja. Setelah beberapa waktu jam istirahat pun habis dan semua siswa masuk kelas lagi.

Sampainya jam sekolah selesai aku langsung pulang dan menunggu bapakku menjemput di depan gerbang. Sesampainya di rumah aku terus memikirkan bagaimana dengan besok.

Pesan Penulis: Kita sebagai sesama manusia harus memiliki sikap toleransi apalagi terhadap teman sendiri. Bagaimana kita harus menjaga ucapan kita sendiri terhadap dampaknya kepada orang lain.

Halaman:

Advertisement