Advertisement
Source : unsplash.com/thenathanaguirre

5 Contoh Cerpen tentang Bullying di Sekolah dan Lingkungan Rumah Singkat

Merupakan singkatan dari cerita pendek, cerpen adalah salah satu jenis karya sastra yang berbentuk prosa fiksi. Simak contoh cerpen bertemakan bullying di dalam artikel ini.

5 Oktober 2025 Bella Carla

2. Contoh Cerpen tentang Bullying di Lingkungan Rumah

Di bawah ini adalah contoh cerpen tentang bullying di sekitar rumah yang dikutip dari situs gurupenyemangat.com.

21 Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi Liburan Singkat dan Mengesankan serta Strukturnya

Si Gundul
Oleh: Fahmi Nurdian Syah

Di sebuah kampung yang dekat dengan pedalaman. Hiduplah sebuah keluarga yang tinggal di rumah sederhana. Mereka memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Rian. Ia bertubuh tinggi dan kurus, serta kepalanya yang tak terdapat sehelai rambut.

Jika terkena pancaran sinar matahari yang terik kepala anak laki-laki itu menjadi berkilau dan nampak lucu. Karena kepalanya yang tidak terdapat rambut, ia dipanggil si gundul.

Si Gundul di kampung itu tidak memiliki seorang pun teman. Ia selalu dijauhi dan diejek oleh teman-temannya karena kepalanya yang botak. Hal ini menyebabkan diri pada si gundul menjadi rendah dan tersisih.

Setiap hari sepulang sekolah, ia selalu berjalan melihat temannya yang tengah asik bermain bersama. Ketika si gundul mendekati mereka dan ingin ikut bermain, Teman-temannya itu mengusir dia.

Sampai pernah terjadi, karena keinginan hatinya yang kuat untuk ikut bermain, membuat temannya menjadi berperilaku kasar dan ia didorong sampai jatuh.

Semenjak kejadian itu, di dalam benak si gundul tak pernah lagi ada keinginan untuk bermain bersama mereka.

Ia hanya menghabiskan waktunya berdiam diri di ruang tamu. Tetapi, jujur saja, aktivitas berdiam diri merupakan hal yang sangat membosankan. Dari sini lah si gundul mendapatkan ide.

Karena ia merasa bosan, si gundul berpikir untuk melakukan sesuatu hal untuk mengisi waktunya dan menghilangkan kejenuhan yang ia rasakan. Di samping rumah si gundul terdapat pohon bambu yang sudah tumbuh tinggi.

Si gundul merupakan anak yang punya kelebihan atau bisa dibilang bertalenta. Dengan bantuan ibunya ia menebang pohon bambu yang besar itu. Kemudian dibelah dengan ukuran yang tak begitu kecil.

Setelah itu potongan-potongan bambu itu dibuatnya menjadi sebuah layangan yang cukup besar. Dan, layangan semacam itu tidak pernah ada sebelumnya di kampung.

Pada suatu hari setelah pulang sekolah, si gundul pergi ke lahan kosong yang cukup luas. Ia mulai mengayunkan tangannya dan memainkan layangan yang dibuatnya sendiri. Sampai layangan tersebut telah terbang jauh tinggi mendekati angkasa.

Salah satu teman si gundul yang tengah asik bermain bersama dengan yang lainnya di tempat yang berbeda tak sengaja melihat layangan si gundul.

“Wuihhh, besar banget layangannya, punya siapa itu?” Tanya Adit salah satu teman si gundul yang pernah mengejeknya.

“Gak tau, gak pernah lihat sebelumnya,” jawab salah satu di antara mereka.

Karena penasaran, mereka secara bersama-sama berjalan menuju sumber layang-layang itu diterbangkan. Dan hasilnya tak pernah disangka oleh mereka satu pun.

Netra mereka menangkap sosok laki-laki berkepala botak yang sedang memainkan layangan itu. Lelaki itulah yang selama ini mereka jauhi.

Teman-teman si gundul tak habis pikir, mereka tetap mendekatinya dan bertanya dari mana ia mendapatkan layangan itu.

Si gundul yang masih memainkannya menjawab bahwa dia sendirilah yang membuatnya. Mereka tertawa seakan tak percaya bahwa si gundul lah yang membuat layangan itu.

Keesokan harinya, Ia pun membuktikannya dengan mengajak seluruh teman-temannya itu pergi ke rumahnya.

Setelah terbukti bahwa si gundul lah yang membuat layangan itu, mereka baru lah percaya.

Saat itu juga mereka meminta maaf kepada si gundul karena selama ini telah menjauhinya dan gak pernah mau bermain bersamanya. Dengan murah hati si gundul memaafkan semua temannya.

Teman-temannya pun meminta si gundul untuk membuatkan layangan itu satu per satu, si gundul pun menyanggupinya dengan senang hati.

Mereka juga membantu si gundul dalam membuat layang-layang tersebut, sehingga yang dibuatnya itu pun cepat jadi.

Setelah semuanya memegang layangannya sendiri-sendiri, mereka bergegas pergi ke tempat yang sama ketika pertama kali si gundul memainkan layangan itu.

Kini, mereka bermain bersama-sama dengan hati yang gembira tanpa ada perselisihan di antara mereka.

3. Contoh Cerpen tentang Bullying Verbal di Sekolah

Judul: Luka di Balik Tawa

Namaku Nisa, siswi kelas delapan di sebuah SMP negeri. Sekilas hidupku tampak biasa saja: datang ke sekolah, belajar, lalu pulang. Tapi di balik rutinitas itu, ada luka yang tak terlihat. Luka karena kata-kata.

Semuanya bermula sejak aku pindah dari kota kecil ke kota ini. Logat bicaraku berbeda, dan itu menjadi bahan ejekan teman-teman baru. “Kamu ngomongnya aneh, kayak di sinetron jadul,” ujar salah satu teman sekelasku, Lina, sambil tertawa. Seisi kelas ikut menertawakanku.

Awalnya aku mencoba tertawa juga, berharap mereka berhenti. Tapi justru ejekan itu semakin menjadi-jadi. Setiap kali aku bicara di depan kelas, ada saja yang menirukan gaya bicaraku. Setiap kali aku presentasi, mereka berbisik-bisik lalu tertawa pelan.

Aku mulai diam. Tidak banyak bicara lagi. Nilai pelajaran menurun karena aku takut angkat tangan saat guru bertanya. Rasanya seperti dunia menutup diri.

Suatu hari, guru Bahasa Indonesia mengumumkan lomba pidato antar kelas. Aku sangat ingin ikut, karena aku suka berbicara di depan umum. Tapi teringat semua ejekan yang pernah kudengar, aku langsung menunduk. “Yang mau daftar, boleh ke saya nanti,” kata Bu Ratna.

Saat itu, aku sudah hampir berdiri untuk mendaftar, tapi tiba-tiba Lina berbisik cukup keras, “Wah, nanti pidato pake logat kampung, lucu tuh!” Tawa teman-temanku pecah lagi. Aku kembali duduk dan menahan air mata.

Sepulang sekolah, aku bercerita kepada Ibu. Beliau memelukku dan berkata lembut, “Nak, kalau kamu diam, mereka akan terus berpikir bahwa mereka benar. Kadang, cara terbaik untuk melawan bukan dengan marah, tapi dengan membuktikan bahwa kamu bisa.”

Kata-kata itu menancap dalam hatiku. Keesokan harinya, aku memberanikan diri mendaftar lomba pidato. Meski diejek, aku terus berlatih setiap malam. Aku menulis naskah sendiri berjudul ‘Kata-Kata yang Melukai’.

Hari lomba tiba. Saat naik ke panggung, aku bisa melihat wajah-wajah yang sering menertawakanku di barisan depan. Tapi kali ini aku tidak takut. Aku bicara dari hati:
“Bullying tidak selalu berupa kekerasan fisik, tetapi juga bisa datang lewat ucapan yang melukai perasaan. Sering kali kita tertawa tanpa menyadari bahwa tawa itu bisa membuat orang lain terluka dan menangis.”

Ruangan mendadak hening. Tak ada yang berbisik. Setelah aku selesai, tepuk tangan bergemuruh. Bahkan Bu Ratna meneteskan air mata.

Beberapa hari kemudian, aku diumumkan sebagai juara satu lomba pidato. Lina datang menghampiriku. “Nis, maaf ya… aku baru sadar kalau selama ini aku jahat banget.” Aku tersenyum kecil, “Nggak apa-apa, Lin. Aku juga udah belajar buat maafin.”

Sejak hari itu, tidak ada lagi yang mengejek logatku. Aku belajar satu hal penting: bullying hanya berhenti saat kita berani berdiri dan membuktikan bahwa kita pantas dihargai.

Halaman:

Advertisement