Materi Sejarah Peminatan Kelas 12 IPS Kurikulum Merdeka beserta Penjelasannya
Dalam artikel berikut, Mamikos akan memberikan materi sejarah peminatan kelas 12 IPS Kurikulum Merdeka yang dilengkapi dengan penjelasannya. Yuk, cek lebih lanjut dalam artikel berikut!
Bab VI Upaya Diplomasi Indonesia
Konflik Pasca Kemerdekaan
Berbagai pertemuan dan perundingan, termasuk Ambon I, Perjanjian Linggarjati, Konferensi Renville, Ambon II.
Serta Konferensi Roem-Royen dan KMB, menandai upaya diplomasi Indonesia dalam menegosiasikan kedaulatan dan penyelesaian konflik dengan Belanda setelah kemerdekaan.
Konferensi Meja Bundar (KMB)
KMB adalah upaya diplomatik Indonesia untuk mendapatkan pengakuan kemerdekaan dari Belanda atas kedaulatan RI.
Konferensi ini berlangsung dari 23 Agustus hingga 2 November 1949 di Den Haag, Belanda, dengan hasil utama adalah pengakuan Belanda terhadap Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai negara merdeka.
Selain itu, dilangsungkan pula pembahasan mengenai Irian Jaya, serta pembentukan hubungan Uni Indonesia-Belanda.
Konferensi Inter-Indonesia
Konferensi ini dilakukan untuk menyamakan persepsi dalam menghadapi Belanda di KMB, termasuk Konferensi Inter-Indonesia 1 di Yogyakarta dan Konferensi Inter-Indonesia 2 di Jakarta,.
Hasilnya adalah kesepakatan pembentukan panitia untuk menjaga ketertiban sebelum dan sesudah KMB.
Peran Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika
Konferensi ini dipelopori oleh Indonesia, India, Pakistan, Ceylon (Sri Lanka), dan Burma, Konferensi Asia Afrika (KAA) bertujuan untuk memajukan kerja sama antarbangsa Asia-Afrika, membahas isu ekonomi, sosial, dan budaya.
Salah satu tujuan dilangsungkannya konferensi ini adalah untuk menegaskan kedaulatan nasionalisme dan menentang penjajahan. Berlangsung dari 18 hingga 24 April 1955 di Bandung, Indonesia.
Tak hanya itu, terselenggaranya konferensi ini menandai peran aktif Indonesia dalam perjuangan negara-negara baru pada saat terjadinya perang dingin.
Bab VII Peran Indonesia dalam Gerakan Non Blok pada Masa Perang Dingin
Gerakan Non Blok (GNB) didirikan pada 1 September 1961 di Beograd, Yugoslavia, diprakarsai oleh sejumlah negara netral termasuk Indonesia, Mesir, India, Yugoslavia, dan Ghana.
Tujuan utama GNB adalah untuk mempertahankan kedaulatan negara-negara non blok, menentang imperialisme dan bentuk-bentuk kejahatan politik internasional lainnya, serta mengakhiri Perang Dingin.
Peran aktif Indonesia dalam GNB termanifestasi melalui prinsip politik luar negeri bebas aktif, yang sesuai dengan tujuan GNB.
Persyaratan ini mampu menarik minat banyak negara, sehingga jumlah anggota GNB terus bertambah.
Dampak GNB terhadap kehidupan politik global terwujud melalui prinsip politik bersama yang dicetuskan pada Konferensi Tingkat Tinggi I GNB, yang mendorong koeksistensi damai, penolakan terhadap blok-blok militer, dan perlawanan terhadap kolonialisme serta rasisme.
Halaman:



